Bos BBC Terkesan dengan Episode Doctor Who Buatan AI, tapi Tegaskan Manusia Tak Tergantikan
Baca dalam 60 detik
- Direktur Jenderal BBC Matt Brittin mengaku terkesan setelah menerima episode Doctor Who berdurasi 50 menit yang seluruhnya dihasilkan AI.
- Meski mengakui kualitasnya, Brittin menegaskan AI tidak akan menggantikan kreativitas manusia, sejalan dengan pandangan Amazon bahwa AI dapat menekan biaya produksi.
- BBC tengah membuka tender untuk seri Doctor Who berikutnya yang dijadwalkan tayang 2028/2029, dengan keputusan produksi pada Maret tahun depan.

Direktur Jenderal BBC, Matt Brittin, menyatakan kekagumannya terhadap sebuah episode Doctor Who yang dibuat sepenuhnya oleh kecerdasan buatan (AI). Episode berdurasi 50 menit itu dikirim kepadanya beberapa waktu lalu, dan menurut Brittin, hasilnya “cukup bagus”. Pernyataan ini disampaikannya dalam konferensi Royal Television Society, menandai sikap terbuka dari pucuk pimpinan penyiaran publik Inggris terhadap teknologi yang selama ini ditakuti kalangan kreatif.
Meski memuji, Brittin tidak serta-merta menyerahkan masa depan industri kreatif kepada mesin. Ia menegaskan bahwa AI “tidak akan menggantikan manusia” dalam bidang yang reaktif. “Semua orang kini bisa menjadi kreator. Tidak semua kreativitas itu buruk,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kemampuan mencipta konten setara studio Hollywood kini ada di tangan sekitar enam miliar orang. Namun, ia juga mengakui bahwa hasilnya kadang belum sempurna, meski terus berkembang pesat.
Pernyataan Brittin ini sejalan dengan pandangan Kelly Day, petinggi Amazon Internasional, yang sebelumnya menyebut AI dapat menekan biaya produksi sehingga lebih banyak cerita dapat dibuat, suara beragam lebih terdengar, dan risiko kreatif lebih berani diambil. Brittin, yang baru bergabung dengan BBC awal tahun ini setelah 18 tahun di Google, tampaknya ingin menjembatani antara efisiensi teknologi dan nilai-nilai editorial yang menjadi fondasi BBC.
Terlepas dari apresiasi terhadap AI, masa depan Doctor Who justru tidak akan diserahkan kepada algoritma. BBC secara resmi membuka tender kompetitif untuk seri berikutnya, lengkap dengan kriteria bagi rumah produksi yang berminat. Mereka mencari visi editorial untuk seri multi-episode yang juga berpotensi menghasilkan spesial. Rencananya, Doctor Who akan kembali pada 2028/2029, dan keputusan produksi akan diambil pada Maret tahun depan.
Dalam dokumen tender, BBC menekankan bahwa seri baru harus terasa kontemporer, ambisius secara kreatif, namun tetap setia pada nilai dan karakter yang membuat Doctor Who dicintai lintas generasi. Perusahaan yang mengajukan pitch diminta untuk “berinovasi dan mengejutkan”, menyeimbangkan antara fiksi ilmiah konseptual tinggi dan narasi emosional yang kuat. Mereka juga harus menghadirkan momen menegangkan yang cocok untuk audiens keluarga luas, serta setidaknya satu companion yang otentik dan khas.
Dari sisi visual, BBC menginginkan seri yang sinematik, khas, dan mampu bersaing di pasar global yang ketat. Mereka memberi keleluasaan apakah seri akan berbentuk serial bersambung atau episodik, asalkan tetap mempertahankan storytelling khas Inggris. “Kami mencari visi kreatif yang merangkul luasnya kemungkinan Doctor Who,” tulis BBC dalam pernyataannya, seraya mendorong para pengaju proposal untuk berani dan bersenang-senang.
“Seseorang mengirim saya episode Doctor Who berdurasi 50 menit yang dihasilkan AI beberapa hari lalu. Itu cukup bagus. Tapi itu tidak akan menggantikan manusia.” — Matt Brittin, Dirjen BBC
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin penting. Industri kreatif tanah air yang tengah tumbuh, dari film hingga serial web, akan segera berhadapan dengan pilihan serupa: mengadopsi AI untuk efisiensi atau mempertahankan sentuhan manusia sebagai nilai jual. Regulasi tentang hak cipta dan perlindungan pekerja kreatif menjadi krusial agar teknologi tidak mematikan ekosistem yang sedang berkembang. Selain itu, peluang kolaborasi dengan rumah produksi global seperti dalam tender BBC bisa menjadi pintu bagi kreator Indonesia untuk unjuk gigi di panggung internasional.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke ruang produksi, melainkan seberapa besar perannya. BBC sendiri tampaknya memilih jalan tengah: memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan jiwa manusiawi yang membuat cerita seperti Doctor Who tetap relevan setelah enam dekade. Apakah rumah produksi yang nanti terpilih akan benar-benar menghadirkan terobosan, atau justru terjebak dalam formula aman? Publik menanti jawabannya pada 2028.



