Industri Scotch Whisky Terhenti: 'Whisky Loch' Melimpah, Distilasi Dihentikan Sementara
Baca dalam 60 detik
- Permintaan Scotch whisky global merosot tajam setelah lonjakan 15 tahun, memaksa sejumlah penyulingan menghentikan produksi sementara.
- Diageo, produsen satu dari tiga botol Scotch dunia, berencana memangkas ratusan pekerjaan di Skotlandia sementara pekerja di Cameronbridge melakukan aksi mogok.
- Meski pasar India tumbuh, penurunan di Prancis dan Amerika Serikat belum terimbangi, memicu kekhawatiran akan resesi industri yang lebih dalam.

Industri Scotch whisky Skotlandia menghadapi guncangan besar setelah permintaan global yang melonjak selama 15 tahun tiba-tiba surut, memaksa sejumlah penyulingan menghentikan produksi dan memicu kekhawatiran akan pemutusan hubungan kerja serta penutupan pabrik. Fenomena kelebihan pasokan yang dijuluki "whisky loch"—mirip "wine lake" di Eropa—kini menjadi momok bagi produsen yang harus menyimpan jutaan barel tanpa kepastian kapan pasar akan pulih.
Di pinggiran Kirkcaldy, Skotlandia, Diageo tengah menyelesaikan pembangunan kampus pematangan seluas 220 hektare yang mampu menampung hampir 3 juta cask Scotch. Fasilitas raksasa ini, yang dibangun di atas bekas tambang batu bara terbuka, menjadi simbol betapa besar kapasitas produksi yang telah dibangun selama masa keemasan. Namun, dengan permintaan yang menurun, ruang penyimpanan itu justru mempertegas masalah: pasokan menumpuk sementara pembeli menahan diri.
Langkah penghentian produksi tidak hanya dilakukan pemain kecil. GlenWyvis Distillery, penyulingan milik komunitas di Dataran Tinggi, pekan lalu mengumumkan akan menunjuk administrator setelah tekanan finansial yang berkepanjangan. Sementara itu, ratusan pekerja di Cameronbridge—penyulingan terbesar Diageo—memulai aksi mogok pada Senin (29/9) sebagai protes terhadap rencana perusahaan memangkas ratusan pekerjaan di seluruh operasinya di Skotlandia. Diageo memproduksi sekitar satu dari tiga botol Scotch di dunia, termasuk merek ikonik Johnnie Walker. Puluhan dari 156 penyulingan aktif di Skotlandia dikabarkan sedang mencari pembeli.
Nick Morgan, veteran industri yang menulis sejarah 200 tahun Johnnie Walker, menilai bahwa penurunan ini adalah siklus yang tak terhindarkan. "Scotch mengalami masa yang sangat baik sejak krisis keuangan 2008," ujarnya. "Tetapi orang-orang berhenti membeli dengan laju gila seperti sebelumnya. Mereka yang membeli whisky saat pandemi karena tidak ada hal lain untuk dilakukan menyadari bahwa stok di rumah cukup untuk dua atau tiga tahun." Morgan juga menyoroti meningkatnya kesadaran akan isu kesehatan dan harga minuman yang melonjak selama tahun-tahun emas bisnis.
Faktor struktural memperumit situasi. Scotch whisky wajib dimatangkan minimal tiga tahun dalam cask kayu ek di Skotlandia, sementara varian premium bisa mencapai 40 tahun. Periode pematangan yang panjang ini, yang digunakan untuk menciptakan beragam profil rasa, membuat perencanaan produksi menjadi sangat sulit. Ketika permintaan tiba-tiba turun, produsen tidak bisa serta-merta menghentikan proses yang sudah berjalan atau mengosongkan gudang tanpa kerugian besar.
Pasar ekspor juga menunjukkan dinamika yang tidak merata. Meskipun pemerintahan Donald Trump menghapus bea masuk Scotch setelah kunjungan kenegaraan Raja dan Ratu ke Gedung Putih tahun ini, kerusakan sudah terjadi. Tarif "liberation day" April 2025 menurunkan ekspor ke AS sebesar 15%. Permintaan di Prancis—sebelumnya pasar terbesar berdasarkan volume—telah menurun, sementara pasar China tidak pernah benar-benar berkembang sesuai harapan. Optimisme muncul dari lonjakan ekspor ke India, tetapi belum cukup menutupi penurunan di wilayah lain.
Holyrood Distillery di Edinburgh, yang berada di bawah bayang-bayang Arthur's Seat, termasuk yang menghentikan produksi. Ketel tembaga mereka yang biasanya sibuk memproduksi single malt kini menganggur. Pendiri bersama Rob Carpenter mengaku tidak tahu kapan produksi akan kembali normal. "Berdasarkan informasi anekdotal, industri mungkin hanya berproduksi sekitar sepertiga dari level normal saat ini," katanya. "Tidak ada yang punya bola kristal. Anda mencoba mengantisipasi ke mana arahnya. Ini semacam kutukan industri."
Berbeda dengan banyak pesaingnya, Holyrood masih diuntungkan oleh kunjungan wisatawan ke ibu kota Skotlandia. Sekitar 40.000 orang per tahun mengunjungi bangunan batu berusia hampir 200 tahun itu, dan tur menyumbang sekitar setengah dari pendapatan perusahaan saat ini. Carpenter menambahkan bahwa konsumen sebenarnya tidak berhenti minum spirit, tetapi mereka gugup. "Konsumen sedang berhati-hati dengan pengeluaran mereka. Ini adalah spirit mewah," ujarnya.
Penurunan saat ini bukan yang pertama. Pada 1980-an, industri Scotch menghadapi kombinasi serupa antara permintaan lemah dan kelebihan pasokan kronis, yang memicu gelombang penutupan penyulingan. Kebangkitan produsen whisky Jepang, resesi ekonomi global, dan kepercayaan diri berlebihan dari booming 1970-an mendorong resesi panjang. Namun, kali ini sedikit yang percaya bahwa penurunan akan permanen. Morgan optimistis. "Whisky adalah permainan menunggu," katanya. "Jika Anda melihat data penjualan, setiap kali terjadi penurunan seperti ini, permintaan kembali lebih tinggi. Saat ini bisnis berada di titik terendah. Saya hampir bisa memastikan dalam lima tahun, ketika permintaan benar-benar melonjak lagi, mereka akan menemukan stok whisky tidak cukup dan harus menyalakan kembali semuanya."
Bagi Indonesia, dampak langsung mungkin terbatas karena Scotch bukan produk konsumsi massal. Namun, fenomena ini mencerminkan pelemahan daya beli global terhadap barang mewah, yang bisa menjadi sinyal bagi eksportir Indonesia di sektor premium seperti kopi specialty, cokelat, atau produk kerajinan. Selain itu, penurunan permintaan di pasar tradisional seperti Eropa dan AS dapat mendorong produsen Scotch untuk lebih agresif membidik pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memiliki kelas menengah berkembang. Pertanyaannya, apakah produsen lokal siap bersaing atau justru memanfaatkan momentum untuk memperkuat merek sendiri? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: siklus komoditas global tidak pernah abadi.



