Nike Pangkas Pekerjaan dan Restrukturisasi, Sinyal Tekanan Global di Pasar Sepatu
Baca dalam 60 detik
- Nike mencatat penjualan kuartal pertama fiskal 2027 sebesar US$11,21 miliar, turun 4% dari periode yang sama tahun lalu, dan laba bersih menyusut 2% menjadi US$712 juta.
- Perusahaan mengumumkan rencana restrukturisasi bertajuk Pace yang akan memangkas jumlah karyawan mulai 2027, dengan target penghematan sekitar US$2,5 miliar hingga fiskal 2031.
- Pendapatan Nike di pasar Tiongkok anjlok 26%, menjadi pukulan terbesar, sementara segmen sportswear dan Jordan Brand juga menurun sehingga prospek setahun penuh diproyeksikan turun satu digit tinggi.

Nike Inc. mengejutkan pasar dengan kinerja kuartal pertama fiskal 2027 yang di bawah ekspektasi sekaligus mengumumkan restrukturisasi besar-besaran yang akan memangkas sejumlah posisi kerja mulai tahun depan. Raksasa perlengkapan olahraga asal Oregon itu melaporkan pendapatan US$11,21 miliar, turun 4% secara tahunan, sementara laba bersihnya menipis menjadi US$712 juta dari US$727 juta setahun sebelumnya. Meski laba per saham mencapai 48 sen, melampaui estimasi analis sebesar 43 sen, angka penjualan yang lebih rendah membuat investor merespons negatif.
Restrukturisasi yang dijuluki "Pace" ini dirancang untuk memposisikan Nike pada pertumbuhan jangka panjang di bawah CEO Elliott Hill. Perusahaan memperkirakan langkah tersebut akan menghasilkan penghematan sekitar US$2,5 miliar hingga fiskal 2031, tetapi juga menimbulkan beban biaya restrukturisasi sebesar 15 sen per saham pada laba fiskal 2027. Meski belum merinci jumlah pasti karyawan yang akan terdampak, Hill dalam surat internal menyatakan bahwa kebijakan ini akan mengurangi sejumlah peran dan menciptakan ketidakpastian. Ini merupakan putaran ketiga pemutusan hubungan kerja yang diumumkan Nike sepanjang tahun ini.
Penurunan terbesar berasal dari pasar Tiongkok yang ambruk 26%, jauh melebihi pelemahan di kawasan lain. Hill menyatakan perusahaan bergerak cepat untuk memperbaiki kinerja di sana, namun ia mengakui bahwa bisnis inti Nike belum cukup besar untuk menutupi tekanan dari lini sportswear, Jordan Brand, dan Greater China. Segmen sportswear yang menyumbang hampir separuh pendapatan kuartal ini turun dalam kisaran rendah dua digit. "Ada kelangkaan energi di ruang gaya hidup saat ini, yang berdampak pada lalu lintas konsumen," ujarnya dalam panggilan konferensi. "Konsumen memang berhati-hati, tetapi sebagai pemimpin industri, sudah menjadi tanggung jawab kami untuk menghadirkan lebih banyak kreativitas."
Di pasar Amerika Utara, pendapatan Nike tercatat US$5,13 miliar, sedikit di atas estimasi US$5,11 miliar. Margin kotor perusahaan mencapai 42,8%, juga lebih baik dari perkiraan 42,4%. Namun, capaian itu tidak cukup menutupi kinerja lemah di wilayah lain. Nike memproyeksikan pendapatan setahun penuh akan turun pada kisaran satu digit tinggi, dengan laba per saham disesuaikan antara US$1,15 hingga US$1,35. Proyeksi ini mencerminkan kehati-hatian perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan inflasi yang menekan belanja konsumen.
Sebagai bagian dari strategi Pace, Nike akan menyederhanakan struktur organisasinya menjadi tiga wilayah geografis: Amerika; Asia Pasifik dan Greater China; serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Perusahaan juga berencana membangun kampus baru di India dan memodernisasi rantai pasok. Langkah ini dinilai sebagai upaya mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan produktivitas, sekaligus memberi ruang investasi pada inovasi produk dan penguatan merek olahraga. Meski demikian, efektivitas strategi ini masih menjadi tanda tanya besar mengingat tekanan kompetisi dari merek-merek seperti Adidas, New Balance, dan On Running yang terus menggerus pangsa pasar Nike.
Bagi Indonesia, gejolak yang dialami Nike dapat menjadi cermin sekaligus peluang. Sejumlah pabrik sepatu di Tanah Air menjadi bagian dari rantai pasok global merek tersebut, sehingga restrukturisasi dan pengalihan fokus ke India berpotensi memengaruhi permintaan produksi dari mitra lokal. Di sisi lain, melemahnya daya beli konsumen global dan pergeseran prioritas Nike ke efisiensi bisa membuka ruang bagi merek lokal untuk mengisi celah di pasar domestik yang selama ini dikuasai pemain internasional. Pemerintah dan pelaku industri dalam negeri perlu mencermati arah kebijakan Nike, terutama terkait pemindahan sebagian lini produksi ke India, agar tidak terjadi penurunan pesanan yang signifikan.
Dengan tiga putaran PHK dalam satu tahun dan proyeksi pendapatan yang suram, pertanyaan besarnya adalah apakah strategi Pace mampu membalikkan keadaan atau justru menjadi tanda bahwa Nike kehilangan momentum di pasar global. Investor dan pelaku industri akan menantikan bukti nyata dalam beberapa kuartal mendatang, terutama apakah perbaikan di Tiongkok dan kebangkitan segmen sportswear dapat terwujud sebelum tekanan kompetisi semakin dalam.



