AS-India Belum Sepakat Dagang: Greer Sebut Kesepakatan Tak 'Imminent', Tarif 100% Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Perundingan dagang AS-India masih alot, dengan USTR Jamieson Greer menegaskan belum ada kesepakatan yang bakal diteken dalam waktu dekat.
- Batu sandungan utama: pembelian minyak Rusia oleh India dan proteksi sektor pertanian, sementara AS mengancam tarif hingga 100%.
- Bagi Indonesia, kebuntuan ini membuka peluang relokasi ekspor dan tekanan baru pada harga minyak serta stabilitas kawasan.

Perundingan dagang antara Amerika Serikat dan India dipastikan belum akan menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat. Pernyataan itu disampaikan Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer, sehari setelah Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Narendra Modi berbicara melalui telepon. Greer menyebut pembicaraan keduanya "sangat konstruktif", tetapi menegaskan bahwa kesepakatan dagang belum berada di depan mata.
"Saya tidak melihat ada sesuatu yang bersifat segera," ujar Greer kepada kantor berita India, ANI, seraya menambahkan bahwa kedua pihak telah mengidentifikasi sejumlah poin yang masih menjadi ganjalan. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan kunjungan Menteri Perdagangan India Piyush Goyal ke Amerika Serikat, yang selain bernegosiasi juga menghadiri pertemuan menteri perdagangan G20 di Milwaukee.
Goyal dalam unggahan di media sosial tampak lebih optimistis. Ia menekankan bahwa diskusi dengan Greer berfokus pada "penyelesaian dini kesepakatan interim yang saling menguntungkan" dalam kerangka Perjanjian Dagang Bilateral India-AS. Namun, analis menilai kedua pihak masih membaca peta yang berbeda. "Goyal menghitung isu yang sudah selesai, Greer menghitung yang masih tersisa," kata Ronak D. Desai, peneliti tamu di Hoover Institution, Universitas Stanford, kepada CNBC. Ia mengingatkan bahwa isu-isu terakhir dalam negosiasi dagang justru yang paling sulit dipecahkan.
Bagi Washington, pembelian minyak Rusia oleh India tetap menjadi sumber friksi utama. Gedung Putih menilai pembelian tersebut secara tidak langsung membiayai perang di Ukraina. Sementara itu, New Delhi berkeras bahwa pembelian itu murni untuk menjaga keamanan energi, terlebih setelah perang Iran mengganggu pasokan global dan memaksa India mencari sumber alternatif. Sejak awal tahun, AS dan Venezuela memang menjadi pemasok penting bagi India, tetapi keterbatasan pasokan global membuat New Delhi belum bisa melepaskan diri dari minyak Moskow.
Di sisi lain, India menuntut tarif preferensial yang membuat ekspornya lebih kompetitif di pasar AS, sekaligus melindungi sektor pertanian yang secara politik sangat sensitif. Kombinasi tuntutan ini membuat ruang kompromi menyempit. "Kita mungkin sudah mencapai batas saling melengkapi dagang antara kedua negara dalam kondisi saat ini," ujar Arpit Chaturvedi, penasihat Asia Selatan di firma konsultan strategis Teneo. Menurutnya, tidak ada pihak yang mampu mengakomodasi kepentingan pihak lain, dan keduanya belum berada dalam posisi untuk sekadar sepakat berbeda dan menutup kesepakatan.
"Kami benar-benar telah mengidentifikasi semesta item yang menjadi titik sengketa." โ Jamieson Greer, Perwakilan Dagang AS
Kebuntuan ini bukan hanya soal angka tarif. Ia mencerminkan pergeseran lanskap geopolitik di mana energi, keamanan, dan perdagangan saling terkait. India berada di persimpangan: ingin tetap dekat dengan AS sebagai mitra strategis, tetapi tidak bisa mengabaikan kebutuhan energinya. Sebaliknya, AS ingin menekan Rusia melalui pembatasan pembelian minyak, namun harus berhati-hati agar tidak mendorong India semakin dekat ke Moskow atau Beijing.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi berlapis. Sebagai sesama negara berkembang dengan ekonomi besar, Indonesia menghadapi dilema serupa dalam menyeimbangkan hubungan dagang dengan AS dan kebutuhan energi domestik. Jika AS memberlakukan tarif tinggi terhadap India, sebagian ekspor India ke AS bisa teralihkan ke pasar lain, termasuk Asia Tenggara, yang berpotensi menekan harga komoditas dan produk manufaktur di kawasan. Sebaliknya, ketegangan ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik relokasi investasi dari perusahaan-perusahaan yang mencari basis produksi alternatif di luar India.
Selain itu, harga minyak global menjadi variabel yang perlu dicermati. Ketidakpastian pasokan akibat perang Iran dan sanksi terhadap Rusia dapat membuat harga minyak bergejolak, yang berdampak langsung pada subsidi energi dan inflasi di Indonesia. Pemerintah perlu mengantisipasi skenario di mana India terpaksa mengurangi impor minyak Rusia, yang bisa mengerek harga minyak mentah dunia dan memperlebar defisit anggaran.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah AS dan India akan mencapai kesepakatan, tetapi seberapa besar kompromi yang bersedia diambil masing-masing pihak. Jika tarif 100% benar-benar diterapkan, India bisa merespons dengan mengalihkan ekspor ke pasar lain dan mempercepat kerja sama dagang dengan negara-negara Selatan. Sebaliknya, AS berisiko kehilangan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik jika terlalu keras menekan New Delhi. Bagi Indonesia, posisi netral dan diversifikasi mitra dagang menjadi strategi yang semakin relevan di tengah ketidakpastian ini.



