Unair Buka Suara soal Keracunan 178 Dokter Spesialis: Nasi Kotak Vendor Luar Jadi Biang Masalah
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 178 orang, mayoritas calon dokter spesialis dan petugas kebersihan RSUD Dr Soetomo, menjadi korban dugaan keracunan massal setelah menyantap nasi kotak dari katering eksternal dalam kegiatan Pradik PPDS Unair.
- Pihak Unair menegaskan makanan tidak diproduksi dapur fakultas, melainkan dipasok vendor yang sudah beberapa kali digunakan; investigasi masih menunggu hasil uji laboratorium sebelum sanksi diambil.
- Insiden ini membuka pertanyaan besar tentang standar keamanan pangan dalam kegiatan institusi pendidikan tinggi, terutama yang melibatkan calon tenaga medis dan berpotensi mencoreng reputasi kampus serta layanan rumah sakit.

Universitas Airlangga (Unair) Surabaya akhirnya angkat bicara mengenai dugaan keracunan massal yang menimpa 178 orang dalam kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUD Dr Soetomo. Pihak kampus menduga penyebabnya adalah nasi kotak yang dipasok vendor katering dari luar institusi, bukan dari dapur internal fakultas.
Koordinator Media dan Branding Pusat Humas dan Protokol Unair, Gesang Manggala Nugraha Putra, menyatakan bahwa konsumsi dalam acara tersebut disediakan oleh penyedia pihak ketiga. "Bisa kami pastikan bahwa makanannya bukan berasal dari Dapur FK Unair sebagai institusi, tapi dari penyedia pihak luar," ujarnya dalam konferensi pers di RSUD Dr Soetomo, Selasa (29/9). Pernyataan ini sekaligus membantah spekulasi awal yang menuding dapur fakultas sebagai sumber masalah.
Menurut Gesang, vendor tersebut sudah beberapa kali dipercaya menyediakan konsumsi untuk kegiatan kampus. Namun, ini adalah kali pertama insiden keracunan terjadi selama kerja sama berlangsung. Ia belum bisa membeberkan identitas dan domisili vendor karena masih melakukan pendataan internal bersama kepanitiaan. Unair juga belum mengambil langkah hukum atau sanksi apa pun, menunggu hasil uji laboratorium terhadap sisa makanan yang dicurigai. "Kami tentu saja tidak bisa menentukan tindak lanjut sekarang karena menunggu hasil laboratorium. Setelah itu baru nanti akan melakukan evaluasi," tambahnya. Sementara itu, kegiatan Pradik untuk hari itu dihentikan sementara.
Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, mengaku mendapat informasi bahwa vendor penyedia makanan berasal dari wilayah Sidoarjo, tepatnya Kecamatan Buduran. Informasi itu ia peroleh saat rapat koordinasi penanganan keracunan bersama Dinas Kesehatan. "Kalau kemarin dengernya Sidoarjo ya rasanya. Kemarin infonya waktu Dinas Kesehatan. Sidoarjo Buduran," kata Cita. Meski demikian, ia menegaskan tidak mengetahui detail identitas vendor dan meminta konfirmasi lebih lanjut kepada Fakultas Kedokteran Unair selaku panitia Pradik.
"Kami tidak bisa menentukan tindak lanjut sekarang karena menunggu hasil laboratorium. Setelah itu baru akan melakukan evaluasi. Tapi tindak lanjut yang kami lakukan sekarang adalah penghentian, meliburkan sementara untuk hari ini kegiatan Pradik." โ Gesang Manggala Nugraha Putra, Humas Unair
Insiden ini menyoroti celah dalam pengelolaan konsumsi kegiatan institusi pendidikan, terutama yang melibatkan calon tenaga medis. Meski Unair menegaskan bahwa dapur internal tidak terlibat, kejadian ini tetap menimbulkan pertanyaan tentang prosedur seleksi vendor dan pengawasan keamanan pangan. Sebagai institusi yang mencetak dokter spesialis, standar kebersihan dan kualitas konsumsi seharusnya menjadi prioritas. Kegagalan dalam hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan peserta, tetapi juga reputasi kampus dan rumah sakit pendidikan.
Dari sisi regulasi, kasus ini dapat mendorong evaluasi lebih ketat terhadap vendor katering yang bekerja sama dengan institusi publik. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Dinas Kesehatan setempat memiliki kewenangan untuk melakukan audit keamanan pangan, terutama jika ditemukan kelalaian. Jika terbukti ada unsur kelalaian, vendor dapat dikenai sanksi administratif hingga pidana sesuai Undang-Undang Kesehatan dan Perlindungan Konsumen. Bagi Unair, transparansi hasil investigasi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik.
Ke depan, hasil uji laboratorium akan menentukan arah penanganan kasus ini. Apakah Unair akan mengakhiri kerja sama dengan vendor tersebut, atau justru memperketat pengawasan? Yang lebih penting, bagaimana institusi pendidikan lain menyikapi insiden ini sebagai peringatan untuk memperbaiki sistem pengadaan konsumsi kegiatan. Publik menunggu tidak hanya kejelasan penyebab, tetapi juga komitmen agar kejadian serupa tidak terulang.



