Studi Cambridge: Polusi Udara Tingkatkan Batuk Malam, Ganggu Tidur Jutaan Orang
Baca dalam 60 detik
- Riset Universitas Cambridge menemukan korelasi konsisten antara lonjakan partikel polusi dan frekuensi batuk malam pada data 98.000 pengguna aplikasi tidur di 32 kota.
- Efek terdeteksi bahkan di kota dengan kualitas udara relatif baik seperti Melbourne dan Sydney, menandakan ambang batas WHO belum cukup melindungi kesehatan harian.
- Temuan ini mendesak pemerintah kota dan regulator untuk mengevaluasi ulang strategi pengendalian polusi, termasuk di Indonesia yang sering menghadapi kabut asap dan polusi kendaraan.

Penelitian terbaru dari University of Cambridge mengungkap bahwa peningkatan polusi udara berhubungan langsung dengan bertambahnya frekuensi batuk pada malam hari, yang berujung pada terganggunya kualitas tidur. Studi yang dipimpin Prof Cecilia Mascolo ini menganalisis data anonim dari aplikasi pemantau tidur selama 18 bulan, mencakup rata-rata 98.000 orang per malam di 32 kota dari 12 negara. Temuan ini menyoroti gejala sehari-hari yang sering luput dari perhatian karena tidak cukup parah untuk membuat seseorang mencari bantuan medis.
Selama ini, riset polusi udara lebih banyak berfokus pada dampak akut yang memerlukan perawatan rumah sakit. Padahal, menurut Mascolo, efek jangka panjang dari paparan konsentrasi rendah partikel halus (PM2.5) terhadap kesehatan pernapasan patut diwaspadai, bahkan di kota-kota yang udaranya tergolong lebih bersih. "Saya berasal dari daerah di Italia dengan polusi sangat tinggi dan saya sangat menyadari efeknya yang jarang dibicarakan," ujarnya, seperti dikutip dari rilis studi.
Yang membuat studi ini krusial adalah kemampuannya memisahkan pengaruh polusi dari faktor pengganggu seperti flu dan cuaca dingin. Dr Tong Xia, anggota tim peneliti yang kini di Tsinghua University, mengaku terkejut karena korelasi tetap muncul meski faktor musim flu diperhitungkan. "Saya pikir menambahkan faktor flu akan menghilangkan hubungan dalam data, tetapi ternyata tidak," katanya. Data dari London dan Los Angeles memang menunjukkan batuk meningkat saat cuaca dingin dan flu merebak, namun lonjakan tetap terlihat pada periode dengan aktivitas influenza rendah, seperti awal November 2025 di London yang bersamaan dengan perayaan kembang api Guy Fawkes.
"Bahkan di kota dengan tingkat polusi udara relatif rendah, seperti Melbourne dan Sydney, kami mengamati hubungan positif antara partikel polusi dan peningkatan batuk," tegas Mascolo.
Implikasi kebijakan dari temuan ini jelas: upaya pengurangan polusi tidak boleh berhenti hanya karena ambang batas hukum telah terpenuhi. Peneliti menyerukan agar pemerintah kota terus menekan emisi, karena efek kronis dari paparan jangka panjang terhadap konsentrasi rendah partikel tetap menjadi ancaman nyata. "Temuan ini menegaskan relevansi global polusi udara dan menunjukkan bahwa potensi efek kesehatan kronis dari paparan jangka panjang terhadap konsentrasi rendah partikel perlu mendapat perhatian, bahkan di kota yang relatif kurang tercemar," tambah Mascolo.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi cermin penting. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung kerap menghadapi polusi udara dari kendaraan bermotor, industri, dan pembakaran biomassa. Kabut asap tahunan akibat kebakaran lahan di Sumatra dan Kalimantan juga menciptakan lonjakan partikel yang bisa memicu gangguan pernapasan dan tidur. Jika efek batuk malam saja terdeteksi pada tingkat polusi yang dianggap aman oleh WHO, maka kualitas udara di banyak wilayah Indonesia yang sering melewati ambang batas tersebut berpotensi menimbulkan beban kesehatan yang lebih besar, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah polusi udara berdampak pada kesehatan, melainkan seberapa cepat regulator dan pemerintah daerah memperbarui standar kualitas udara serta mengintegrasikan data pemantauan real-time ke dalam kebijakan publik. Tanpa langkah konkret, jutaan orang akan terus kehilangan jam tidur berkualitas setiap malamโsebuah kerugian yang tidak terlihat di statistik rumah sakit, tetapi nyata dalam produktivitas dan kesejahteraan harian.



