NASA Buka Jalan Baru untuk Starliner, Boeing Diminta Benahi Thruster dan Roket Vulcan
Baca dalam 60 detik
- NASA menetapkan penerbangan tanpa awak Starliner paling cepat Desember 2025, dengan misi berawak baru diperkirakan pertengahan 2028.
- Boeing harus memodifikasi desain thruster dan beralih ke roket Vulcan Centaur setelah Atlas pensiun, dengan tambahan biaya US$359 juta.
- Ketergantungan pada SpaceX Dragon yang akan dipensiunkan mendorong NASA mempertahankan Starliner sebagai jalur alternatif akses ke orbit rendah Bumi.

NASA resmi mengumumkan peta jalan baru bagi Boeing Starliner, kapsul antariksa yang sempat mencoreng reputasi Boeing setelah uji terbang berawak pada Juni 2024 nyaris berujung bencana. Dalam konferensi pers, Administrator NASA Jared Isaacman menyatakan penerbangan tanpa awak Starliner akan digelar paling cepat Desember tahun ini, dan jika sukses, misi berawak berikutnya baru bisa terlaksana pada pertengahan 2028. Keputusan ini menjadi penanda bahwa NASA belum menyerah pada Starliner, meski program tersebut telah menelan biaya besar dan menghadapi serangkaian kegagalan teknis.
Insiden Juni 2024 menjadi titik balik kelam bagi Starliner. Kala itu, astronot Suni Williams dan Butch Wilmore hendak menuju Stasiun Antariksa Internasional (ISS) untuk misi singkat sekitar sepekan. Namun, kebocoran helium dan matinya sejumlah thruster saat menuju orbit memaksa NASA mengubah rencana. Kapsul dinilai tidak aman untuk membawa pulang kedua astronot, sehingga mereka akhirnya menumpang kapsul SpaceX Dragon dan menghabiskan lebih dari sembilan bulan di antariksa. NASA kemudian mengklasifikasikan insiden ini sebagai "Type A mishap" โ kategori yang setara dengan tragedi Columbia dan Challenger, menandakan kerugian besar dan potensi kehilangan nyawa.
Dalam konferensi pers tersebut, Isaacman menegaskan bahwa sebelum operasi berawak dilanjutkan, beberapa thruster Starliner memerlukan modifikasi desain. Selain itu, Starliner tidak bisa lagi menggunakan roket Atlas yang akan segera pensiun. NASA bersama Boeing dan United Launch Alliance (ULA) tengah mensertifikasi roket Vulcan Centaur untuk misi berawak sebagai pengganti. Langkah ini menambah beban biaya: NASA memperkirakan tambahan US$359 juta (sekitar Rp5,6 triliun) untuk peningkatan Starliner dan sertifikasi Vulcan.
Keputusan NASA untuk tetap mengembangkan Starliner tidak lepas dari ketergantungannya pada SpaceX. Saat ini, Crew Dragon milik SpaceX adalah satu-satunya kendaraan berawak Amerika Serikat yang beroperasi ke ISS. Namun, SpaceX telah mengisyaratkan akan menghentikan Dragon dan beralih ke Starship pada 2030-an. "Saya rasa bukan rahasia lagi bahwa SpaceX berniat menghentikan platform lama seperti Falcon dan Dragon seiring fokus mereka pada Starship," ujar Isaacman. Ia menambahkan bahwa investasi besar yang sudah dikeluarkan pemerintah AS untuk Starliner membuat program ini dianggap jalur tercepat untuk menjaga akses berawak ke orbit rendah Bumi.
Presiden dan COO SpaceX, Gwynne Shotwell, sebelumnya mengakui bahwa Dragon akan dihentikan. Di All-In Summit, ia bahkan menyindir besarnya dana yang diterima Boeing: "Boeing telah dibayar โ saya pikir mungkin lebih dari kami โ untuk mengembangkan kapsul berawak mereka." Shotwell menyatakan SpaceX akan membiarkan Boeing tetap mendapat porsi bisnis. Meski demikian, ketidakpastian tetap ada: apakah SpaceX benar-benar akan mempensiunkan Dragon jika NASA masih membutuhkan layanan ke ISS?
NASA juga membuka kemungkinan menambah dua penerbangan lagi dari Boeing di luar kontrak yang ada. Manajer Program Orbit Rendah Bumi NASA, Dana Weigel, menyebut opsi tersebut sedang dikaji. Sementara itu, astronot NASA Woody Hoburg ditunjuk sebagai komandan misi berawak Starliner berikutnya. Hoburg menyatakan kekhawatiran utamanya bukan pada perangkat keras, melainkan pola rekayasa sistem yang dinilainya lemah. "Yang membuat saya terjaga di malam hari adalah pola yang mendasari: rekayasa dan integrasi sistem yang tidak memadai, menciptakan celah dalam kualifikasi perangkat keras," ujarnya. Ia mengungkapkan bahwa thruster Starliner ternyata sudah rusak sebelum peluncuran, dan seharusnya masalah itu terdeteksi di darat.
Bagi Indonesia, dinamika program Starliner dan SpaceX ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap industri kedirgantaraan nasional. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) โ kini bergabung dalam BRIN โ tengah mengembangkan satelit dan roket sendiri, namun masih bergantung pada teknologi asing untuk peluncuran. Ketika Amerika Serikat memperkuat kemandirian akses ke orbit melalui Starliner dan Starship, negara-negara berkembang seperti Indonesia perlu memperhitungkan biaya dan ketersediaan jasa peluncuran di masa depan. Selain itu, dominasi SpaceX dalam pasar peluncuran global dapat memengaruhi harga dan akses bagi satelit Indonesia.
"Kami tidak bisa hanya bergantung pada satu penyedia. Starliner adalah upaya menjaga kedaulatan antariksa AS, dan itu pelajaran bagi kita untuk tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang," ujar seorang analis kebijakan antariksa dari BRIN, yang enggan disebut namanya.
Dengan jadwal yang masih panjang dan biaya yang terus membengkak, pertanyaan besarnya: akankah Starliner benar-benar terbang sesuai target, atau justru menjadi beban fiskal dan teknis yang memperlambat ambisi antariksa AS? Sementara itu, Indonesia perlu mempercepat kemandirian teknologi antariksa agar tidak sekadar menjadi penonton dalam perlombaan menuju orbit rendah Bumi.



