Jakarta Latih 10 Duta Antihoaks Baru, Bidik Deepfake dan Konten AI
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta memilih 10 finalis Duta Antihoaks 2026 dari 356 pendaftar untuk memerangi disinformasi berbasis AI.
- Penilaian menekankan implementasi nyata, bukan sekadar gagasan, dengan proyek kampanye yang dijalankan Agustus–September 2026.
- Pengukuhan duta pada Oktober 2026 akan memperluas gerakan literasi digital ke sekolah, kampus, dan ruang publik.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) tengah menyiapkan generasi muda sebagai motor penggerak literasi digital. Program Duta Antihoaks Jakarta 2026 telah mencapai tahap penjurian pada 29 September 2026, dengan 10 finalis yang lolos dari 356 pendaftar mempresentasikan proyek kampanye mereka.
Langkah ini diambil karena ancaman hoaks di Jakarta tidak lagi sederhana. Manipulasi foto, video deepfake, konten generatif berbasis kecerdasan buatan, hingga impersonasi digital membuat batas antara fakta dan rekayasa semakin kabur. Modus penipuan digital pun kian canggih dan sulit dikenali masyarakat awam.
Kepala Diskominfotik DKI Jakarta, Marulina Dewi, menilai pendekatan literasi digital harus terus berevolusi. "Di era AI, tantangan kita bukan lagi sekadar membedakan informasi benar dan salah. Foto, suara, bahkan video dapat direkayasa dengan sangat meyakinkan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10).
Menurut Marulina, pertahanan terbaik tidak hanya bertumpu pada teknologi. Masyarakat perlu dibiasakan memeriksa sumber, memahami konteks, dan berpikir kritis sebelum membagikan informasi. Duta Antihoaks bukan sekadar ajang kompetisi mencari figur terbaik, melainkan upaya mencari anak muda yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata di lapangan.
Penilaian finalis pun tidak hanya mengedepankan kreativitas dan kebaruan gagasan. Dewan juri juga menimbang relevansi terhadap persoalan riil, kemampuan implementasi, komunikasi, kepemimpinan, dampak, serta keberlanjutan program. Sepuluh finalis terpilih melalui seleksi administrasi, seleksi bertahap, in-house training, hingga pembekalan penyusunan project campaign sejak Juli 2026.
Dewan juri terdiri atas Marulina Dewi, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI Rizki Ameliah, entrepreneur Merry Riana, aktor Dennis Adhiswara, dan Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Keumatan dan Keagamaan Nong Darol Mahmada. Komposisi ini mencerminkan pendekatan lintas sektor: pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan industri kreatif.
"Kami tidak mencari Duta Antihoaks yang hanya kuat di atas panggung. Kami mencari anak muda yang mampu berbicara dengan bahasa generasinya, turun ke masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi gerakan. Setelah terpilih, pekerjaan mereka justru dimulai," pungkas Marulina.
Setelah dikukuhkan pada Oktober 2026, para duta akan menjadi mitra Diskominfotik untuk memperluas gerakan literasi digital ke sekolah, kampus, komunitas, ruang publik, dan kanal digital. Proyek kampanye yang dinilai potensial akan didorong agar berdampak lebih luas. Inisiatif ini memperkuat gerakan Jakarta Lawan Hoaks sebagai upaya kolektif, bukan sekadar program pemerintah semata.
Ke depan, efektivitas Duta Antihoaks akan diuji oleh kecepatan teknologi itu sendiri. Ketika deepfake dan konten AI semakin murah dan mudah dibuat, kemampuan literasi digital masyarakat menjadi benteng terakhir. Pertanyaannya, apakah gerakan ini mampu menciptakan kebiasaan baru yang bertahan lama, atau hanya menjadi kampanye musiman yang redup setelah panggung usai?



