Opera Sematkan eSIM di Browser Android, Tantang Dominasi Chrome
Baca dalam 60 detik
- Opera menyematkan eSIM langsung di browser Android, memberi 3GB data gratis selama tiga hari di 47 negara.
- Langkah ini menjawab kelemahan Chrome yang belum memiliki integrasi konektivitas seluler, sekaligus memperluas fungsi browser.
- Jika sukses, model ini bisa mendorong browser lain mengadopsi layanan serupa dan mengubah lanskap roaming internasional.

Opera resmi menambahkan fitur eSIM ke dalam browser Android-nya, sebuah terobosan yang memungkinkan pengguna mendapatkan koneksi data seluler tanpa harus membeli kartu fisik atau berlangganan paket roaming terpisah. Langkah ini menjadikan Opera browser pertama yang menyatukan akses internet dan konektivitas seluler dalam satu aplikasi, sebuah celah yang belum diisi oleh Chrome maupun browser populer lainnya.
Fitur ini menyasar pelancong internasional yang kerap kesulitan mendapatkan internet terjangkau di luar negeri. Setibanya di negara tujuan, pengguna tidak perlu lagi mencari Wi-Fi publik atau mengunduh aplikasi eSIM pihak ketiga. Opera menyediakan kuota gratis 3GB untuk tiga hari pertama di 47 negara, tanpa perlu memasukkan detail kartu kredit, membeli paket, atau mendaftarkan email. Koneksi yang disediakan mencakup seluruh ponsel, bukan hanya browser, sehingga aplikasi peta, pesan instan, dan transportasi daring tetap berfungsi normal tanpa biaya roaming.
Bagi Opera, eSIM bukan sekadar tambahan fitur, melainkan strategi memperkuat posisi di pasar browser mobile yang didominasi Chrome. Selama ini, browser hanya berperan sebagai pintu masuk ke internet, sementara konektivitas diatur oleh operator seluler. Dengan mengintegrasikan eSIM, Opera mengambil alih sebagian peran operator, menawarkan solusi praktis yang sulit ditiru pesaing dalam waktu dekat. Tim Lesnik, Product Manager Opera, menegaskan bahwa masalah roaming adalah bentuk lain dari mahalnya akses internet. "Opera telah menghabiskan puluhan tahun membantu orang terhubung di tempat yang datanya mahal atau sulit didapat," ujarnya. "Roaming adalah masalah yang sama dalam bentuk berbeda: Anda membayar lebih mahal untuk internet yang sama seperti di rumah."
Langkah ini juga memperluas ekosistem layanan Opera yang sudah mencakup VPN dan alat penghemat data. Kombinasi tersebut menciptakan proposisi nilai yang menarik bagi pengguna yang sering bepergian. "eSIM, bersama penghematan data dan VPN kami, membuat penjelajahan saat bepergian lebih nyaman. Bagaimanapun, browser tidak ada gunanya tanpa koneksi โ jadi sekarang kami menyediakannya juga," tambah Lesnik.
Meski demikian, ada beberapa catatan. eSIM ini hanya untuk data, tidak mendukung panggilan suara atau SMS. Pemasangan awal tetap memerlukan koneksi internet yang stabil sebelum keberangkatan, sehingga pengguna harus mengunduh profil eSIM saat masih di rumah. Selain itu, perangkat harus mendukung eSIM dan tidak terikat kontrak operator. Bagi pengguna di Indonesia, fitur ini belum tersedia secara resmi karena daftar 47 negara belum mencakup Indonesia. Namun, layanan eSIM dasar Opera dapat dibeli di seluruh dunia, dan pelancong yang melewati beberapa negara dapat menggunakan satu SIM terpasang sambil menambahkan data lokal sesuai kebutuhan.
Kehadiran eSIM di browser bisa menjadi sinyal pergeseran lanskap kompetisi. Jika Opera berhasil menarik banyak pengguna, tekanan akan meningkat bagi Google dan Mozilla untuk menghadirkan layanan serupa. Di sisi lain, operator seluler mungkin melihat ini sebagai ancaman karena sebagian pendapatan roaming mereka berpotensi tergerus. Namun, bagi konsumen, inovasi ini menawarkan alternatif yang lebih murah dan praktis. Pertanyaannya, apakah model bisnis ini berkelanjutan dalam jangka panjang, atau hanya strategi akuisisi pengguna sementara? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Opera patut diapresiasi sebagai terobosan yang mengubah cara kita memandang browser.



