SpaceX Jadwalkan Tiga Peluncuran dalam 13 Jam, Uji Ketahanan Armada Roket
Baca dalam 60 detik
- SpaceX akan meluncurkan tiga misi berbeda dalam rentang 13 jam pada 1 Oktober, mencakup misi astronaut NASA, rideshare 130 satelit, dan satelit mata-mata.
- Frekuensi peluncuran yang tinggi ini hanya kedua kalinya terjadi, menunjukkan kemampuan operasional SpaceX yang semakin matang.
- Keberhasilan tripleheader ini dapat memperkuat posisi SpaceX sebagai pemimpin pasar peluncuran komersial dan memicu persaingan global, termasuk bagi industri antariksa Indonesia yang sedang berkembang.

SpaceX kembali mencuri perhatian dengan rencana ambisius meluncurkan tiga roket dalam waktu kurang dari 13 jam pada Selasa (1/10). Ini adalah kali kedua perusahaan milik Elon Musk itu melakukan tripleheader setelah sebelumnya sukses pada Maret 2025.
Rangkaian misi dimulai pukul 11:10 EDT (1510 GMT) dengan peluncuran Crew-13 menggunakan roket Falcon 9 dari Cape Canaveral Space Force Station, Florida. Misi ini membawa astronaut NASA menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Beberapa jam kemudian, Falcon 9 lepas landas dari Vandenberg Space Force Base, California, membawa misi rideshare Transporter-18 yang mengangkut 130 muatan, termasuk prototipe satelit untuk konstelasi AI Google, Project Suncatcher. Peluncuran ketiga menggunakan Falcon Heavy untuk misi rahasia NROL-97 milik National Reconnaissance Office (NRO) dari Kennedy Space Center, Florida, pada pukul 23:53 EDT.
Frekuensi peluncuran yang padat ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan cerminan efisiensi operasional SpaceX yang semakin matang. Perusahaan mampu mengoordinasikan peluncuran dari dua lokasi berbeda dengan jenis roket yang beragam dalam waktu singkat. Keberhasilan ini juga menegaskan dominasi SpaceX di pasar peluncuran komersial, terutama setelah keberhasilan uji terbang Starship ke-14 yang mencapai orbit Bumi untuk pertama kalinya.
"Kemampuan meluncurkan tiga misi dalam sehari menunjukkan bahwa SpaceX telah bertransformasi dari perusahaan rintisan menjadi operator antariksa yang dapat diandalkan," ujar seorang analis industri antariksa yang tidak ingin disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi signifikan. Negara ini tengah mengembangkan industri antariksa melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan sejumlah perusahaan swasta. Peningkatan kapasitas peluncuran global dapat membuka peluang kerja sama, terutama dalam penyediaan slot rideshare untuk satelit mikro Indonesia. Namun, tantangan tetap ada: Indonesia belum memiliki kemampuan peluncuran sendiri, sehingga ketergantungan pada penyedia asing seperti SpaceX masih tinggi.
Selain itu, misi Transporter-18 yang membawa prototipe satelit AI Google menandakan tren baru dalam konstelasi satelit untuk kecerdasan buatan. Jika berhasil, ini dapat mempercepat pengembangan aplikasi AI berbasis antariksa, yang juga relevan bagi Indonesia dalam hal pemantauan sumber daya alam dan mitigasi bencana.
Ke depan, SpaceX diperkirakan akan terus meningkatkan frekuensi peluncuran seiring dengan pertumbuhan permintaan satelit komersial dan pemerintah. Namun, apakah regulator global siap dengan lonjakan lalu lintas antariksa ini? Pertanyaan tentang pengelolaan sampah antariksa dan koordinasi orbit juga semakin mendesak untuk dijawab.



