Menhan Sjafrie Melayat Vanreko: Heatstroke di Latsarmil Komcad ASN, Alarm Baru bagi Peserta Latihan Fisik
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Vanreko Varkas Bagaskara, ASN Kemenekraf yang mengikuti Latsarmil Komcad Gelombang II di Lanud Halim Perdanakusuma.
- Insiden diduga akibat heatstroke yang dipicu hipotensi dan kenaikan suhu tubuh setelah sesi latihan pertama; korban sempat ditangani tim kesehatan Pusdikkes sebelum dinyatakan meninggal.
- Peristiwa ini menambah catatan risiko kesehatan dalam program pembinaan komponen cadangan ASN dan berpotensi mendorong evaluasi protokol keselamatan latihan fisik di lingkungan kementerian/lembaga.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Vanreko Varkas Bagaskara, aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), yang wafat setelah mengikuti Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) ASN K/L Gelombang II di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kabar ini mencuat setelah Sjafrie mengunggah pernyataan belasungkawa melalui akun Instagram pribadinya pada Senin (28/9/2026).
Vanreko mengembuskan napas terakhir setelah sebelumnya kehilangan kesadaran pada Jumat (25/9/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Menurut keterangan Kepala RSAU dr. Esnawan Antariksa, Kolonel Kes dr. Iman Fathurrohman, korban mengeluhkan pandangan gelap dan pusing saat hendak melanjutkan sesi latihan kedua. Ia baru saja menuntaskan sesi pertama rangkaian penutupan Latsarmil. Tim kesehatan Pusdikkes yang bersiaga di lokasi segera memberikan pertolongan pertama, namun kondisi korban tidak membaik.
Pemeriksaan awal mengarah pada hipotensi disertai peningkatan suhu tubuh, yang oleh dokter Iman diindikasikan sebagai serangan heatstroke akibat respons fisik terhadap paparan cuaca dan kelelahan. Temuan ini menjadi titik kritis: apakah beban latihan dan pengawasan medis dalam program pembinaan komponen cadangan bagi ASN sudah memadai, terutama ketika peserta berasal dari latar belakang non-militer dengan tingkat kebugaran yang beragam.
Sjafrie menegaskan bahwa dedikasi dan semangat pengabdian almarhum merupakan bagian dari kontribusi kepada bangsa dan negara yang layak dihormati. Ia juga memanjatkan doa agar mendiang mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk penghormatan resmi dari institusi pertahanan, sekaligus menandai bahwa insiden ini tidak dipandang sebagai kejadian biasa.
“Dedikasi dan semangat pengabdian almarhum dalam mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan merupakan bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara yang patut kita hormati,” ujar Sjafrie, dikutip dari unggahan Instagram-nya.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya ASN, profesional, dan investor yang memantau tata kelola sumber daya manusia di sektor publik, peristiwa ini menyoroti dua hal. Pertama, program Komcad yang melibatkan ASN dari berbagai kementerian/lembaga menuntut standar keselamatan kerja yang tidak bisa disamakan dengan latihan militer reguler. Kedua, risiko kesehatan seperti heatstroke dapat berdampak pada produktivitas dan citra institusi, terutama jika tidak ada evaluasi menyeluruh terhadap prosedur seleksi, pemantauan medis, dan aklimatisasi peserta.
Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini berpotensi memicu pertanyaan publik tentang sejauh mana pemerintah menyiapkan protokol kesehatan dalam program pembinaan komponen cadangan. Sejumlah negara yang memiliki skema serupa, seperti Korea Selatan dan Singapura, menerapkan skrining kesehatan berlapis serta pemantauan suhu dan hidrasi selama latihan. Indonesia belum secara terbuka memaparkan standar serupa untuk peserta dari kalangan ASN.
Kemenekraf dan Kementerian Pertahanan belum merilis pernyataan resmi bersama terkait evaluasi program. Namun, tekanan publik biasanya mengarah pada tuntutan transparansi, mulai dari hasil autopsi medis hingga audit prosedur latihan. Jika tidak ditangani dengan komunikasi yang jelas, isu ini bisa berkembang menjadi sorotan lebih besar terhadap keselamatan peserta latihan fisik di lingkungan pemerintahan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal penyebab kematian Vanreko, melainkan apakah Latsarmil Komcad ASN akan direformasi—misalnya dengan penambahan tenaga medis, penyesuaian intensitas latihan berbasis kondisi peserta, atau mekanisme pertanggungjawaban yang lebih tegas. Tanpa perubahan, risiko serupa bisa terulang pada gelombang berikutnya.



