Persik Kediri Rekrut Dua Talenta Muda Jelang Deadline Transfer BRI Super League
Baca dalam 60 detik
- Persik Kediri resmi mengontrak Muhammad Badrian Ilham dan Marselinus Ama Ola sebagai amunisi anyar di penghujung bursa transfer.
- Keduanya berstatus pemain versatile dengan pengalaman di level kompetisi muda, memperkuat komitmen klub pada pengembangan jangka panjang.
- Manajemen Macan Putih menargetkan skuad kompetitif untuk mengarungi BRI Super League dan League Cup musim ini.

Persik Kediri menuntaskan dua rekrutan anyar tepat sebelum jendela transfer pertama BRI Super League 2026/2027 ditutup. Muhammad Badrian Ilham dan Marselinus Ama Ola diperkenalkan sebagai bagian dari proyek jangka panjang klub, menambah daftar pemain muda yang sudah lebih dulu bergabung.
Badrian Ilham didatangkan dari Persis Solo, klub yang berlaga di Pegadaian Championship. Gelandang kelahiran 11 Juni 2002 itu sebelumnya menimba ilmu bersama Persita Tangerang selama tiga musim (2023โ2025). Fleksibilitasnya di lini tengah menjadi nilai tawar utama: ia mampu beroperasi sebagai gelandang bertahan, gelandang serang, maupun gelandang tengah. Catatan 34 penampilan, satu gol, dan dua assist bersama Pendekar Cisadane menunjukkan potensi yang belum sepenuhnya tergarap.
Sementara itu, Marselinus Ama Ola mulai mencuri perhatian publik ketika memperkuat Timnas Indonesia U-20 di Piala AFF U-19 2024 di bawah asuhan Indra Sjafri. Pemuda 21 tahun asal Nusa Tenggara Timur ini memiliki posisi natural sebagai sayap kanan, namun juga bisa ditempatkan di sayap kiri atau sebagai penyerang tengah. Kombinasi kecepatan dan kemampuan menyerang dari beberapa sektor menjadi daya tarik tersendiri bagi Macan Putih.
Direktur Olahraga Persik Kediri, Razzi Taruna, menegaskan bahwa perekrutan ini bukan keputusan instan. Menurutnya, kedua pemain telah melalui pemantauan panjang dan dinilai memiliki kualitas, karakter, serta visi yang sejalan dengan gaya permainan tim. "Kehadiran mereka merupakan bagian dari rencana klub untuk membangun tim yang kompetitif jangka panjang," ujarnya.
Langkah Persik ini juga tidak lepas dari kebutuhan menghadapi dua kompetisi sekaligus: BRI Super League dan League Cup yang kembali digelar oleh PSSI bersama I.League. Format lintas divisi tersebut menuntut kedalaman skuad yang mumpuni, sehingga rotasi pemain menjadi keniscayaan. "Kami percaya keduanya tidak hanya menambah kedalaman skuad, tapi juga memberikan dampak positif bagi performa tim," tambah Razzi.
Dengan tambahan dua nama ini, daftar pemain muda Persik semakin panjang. Sebelumnya sudah ada kiper Husna Al Malik (23), Daffa Salman (24), Dimas Pamungkas (22), Zanadin Fariz (22), Fransiskus Alesandro (24), Rendy Sanjaya (22), Althaf Alrizky (23), dan Dzaky Asraf (23). Rata-rata usia skuad Macan Putih kini berada di kisaran 23 tahun, menandakan arah kebijakan klub yang berbasis pada pembinaan dan regenerasi.
Bagi sepak bola Indonesia, strategi Persik ini bisa menjadi cermin bagaimana klub-klub peserta BRI Super League mulai menggeser paradigma dari belanja pemain mahal ke investasi talenta muda. Pendekatan semacam ini tidak hanya menekan pengeluaran gaji, tetapi juga membuka ruang bagi pemain lokal untuk berkembang dan menembus Timnas senior. Keberhasilan Marselinus di level internasional muda menjadi bukti bahwa jalur ini layak dipertimbangkan.
Namun, tantangan tetap ada: konsistensi performa di kompetisi senior jauh berbeda dengan level junior. Badrian dan Marselinus perlu waktu adaptasi dengan intensitas BRI Super League yang lebih tinggi. Dukungan suporter dan staf pelatih akan menjadi faktor penentu apakah mereka mampu menjelma menjadi tulang punggung Macan Putih dalam beberapa musim ke depan.
Dengan bursa transfer yang resmi ditutup, akankah Persik Kediri menuai hasil dari perjudian pada pemain muda, atau justru terjebak dalam inkonsistensi? Jawabannya akan terlihat saat kompetisi bergulir.



