Daisuke Sato: Bandung Rumah Kedua, Filipina Wajib Bangkit di ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Daisuke Sato kembali ke Bandung bersama Timnas Filipina untuk FIFA ASEAN Cup 2026 dan menyebut kota itu sebagai rumah keduanya.
- Meski Filipina kalah 0-1 dari Vietnam, Sato menilai timnya mendominasi dan layak mendapat hasil lebih baik.
- Filipina masih punya dua laga sisa melawan Pakistan dan Thailand, dan Sato menuntut kebangkitan untuk menjaga peluang lolos.

Bek Timnas Filipina, Daisuke Sato, kembali menginjakkan kaki di Bandung untuk FIFA ASEAN Cup 2026. Meski tidak dimainkan saat Filipina takluk 0-1 dari Vietnam di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9), mantan pemain Persib Bandung itu mengaku tetap merasakan kehangatan luar biasa dari publik setempat.
Bagi Sato, laga di Bandung bukan sekadar pertandingan internasional biasa. Kota itu pernah menjadi markasnya selama dua tahun (2022-2024) bersama Persib, dan ia menganggapnya sebagai rumah kedua. "Saat mendengar Filipina akan bermain di Bandung, saya sangat bersemangat. Saya menyebut tempat ini sudah seperti rumah kedua," ujar pemain berusia 32 tahun itu.
Kehadiran Sato di bangku cadangan tetap menyedot perhatian suporter. Setelah peluit panjang, namanya bersama Kevin Mendoza—rekannya sesama alumni Persib—digemakan dari tribun. Sambutan itu menjadi kontras dari hasil pahit yang harus diterima The Azkals.
"Rasanya luar biasa bisa kembali lagi. Orang-orang menyambut saya. Saya sangat senang berada di sini lagi," kata Sato, yang kini memperkuat klub One Taguig.
Di atas kertas, kekalahan dari Vietnam membuat posisi Filipina di Grup B langsung tertekan. Namun Sato menolak membaca hasil itu sebagai cerminan permainan. Menurutnya, The Azkals tampil lebih dominan dan menciptakan lebih banyak peluang. "Saya percaya kami mendominasi pertandingan dan kami adalah tim yang lebih baik," tegasnya.
Pernyataan Sato menyoroti persoalan klasik sepak bola Asia Tenggara: efektivitas penyelesaian akhir. Penguasaan bola dan intensitas tidak selalu berbanding lurus dengan gol. Dalam format turnamen pendek seperti ASEAN Cup, satu kekalahan bisa berakibat fatal jika tidak segera direspons.
Karena itu, Sato menuntut rekan-rekannya untuk segera bangkit. Dua laga sisa melawan Pakistan dan Thailand menjadi penentu nasib Filipina di turnamen ini. "Kami harus tetap menegakkan kepala, bangkit, lebih kuat, lalu mengalahkan Pakistan dan Thailand," ujarnya.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Sato memberi warna tersendiri. Kehadirannya bersama Kevin Mendoza di Bandung menunjukkan bagaimana pemain yang pernah berkarier di Liga 1 tetap dikenang suporter. Ini juga menjadi cerminan bahwa kompetisi domestik Indonesia mampu meninggalkan jejak emosional bagi pemain asing, sekaligus memperkuat daya tarik liga di mata pemain internasional.
Di sisi lain, hasil Filipina vs Vietnam menjadi peringatan bagi tim-tim Asia Tenggara bahwa persaingan di ASEAN Cup semakin ketat. Vietnam, yang dikenal disiplin dan efisien, kembali menunjukkan bahwa kualitas penyelesaian akhir masih menjadi pembeda utama.
Filipina kini berada di persimpangan. Jika mampu mengalahkan Pakistan dan Thailand, peluang lolos ke babak berikutnya tetap terbuka. Namun jika kembali tergelincir, pernyataan Sato tentang dominasi akan terdengar sebagai pembenaran tanpa bukti. Mampukah The Azkals membuktikan kata-katanya di lapangan?



