Newcastle United: Amar Dedic, Solusi Kejutan di Sayap Kanan Usai Kehilangan Anthony Gordon
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United merekrut Amar Dedic dari Benfica seharga £30 juta untuk memperkuat posisi bek kanan.
- Dedic langsung memberikan dampak dengan tiga assist dalam enam penampilan pertamanya, menunjukkan kemampuan menyerang yang mengesankan.
- Kehadiran Dedic menjadi penyeimbang setelah kepergian Anthony Gordon ke Barcelona, meskipun lini depan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pelatih Matthias Jaissle.

Newcastle United tampaknya belum sepenuhnya pulih dari kehilangan Anthony Gordon. Winger Inggris itu resmi hijrah ke FC Barcelona dengan mahar £69 juta pada bursa transfer musim panas lalu, meninggalkan lubang besar di lini serang The Magpies. Namun, di tengah kesulitan mencari pengganti sepadan, sebuah nama tak terduga muncul sebagai penyelamat: Amar Dedic, bek kanan yang dibeli dari Benfica seharga £30 juta.
Kepergian Gordon bukan sekadar kehilangan satu pemain. Musim lalu, ia menjadi tulang punggung serangan dengan 17 gol di semua kompetisi. Kontribusinya tidak hanya soal angka, tetapi juga kemampuan membuka ruang dan menciptakan peluang dari sisi sayap. Newcastle pun berbelanja besar untuk menambal celah tersebut, mendatangkan Matias Fernandez-Pardo (£59 juta) dan Bazoumana Touré (£42 juta). Sayangnya, keduanya belum mampu memenuhi ekspektasi. Touré bahkan belum pernah menjadi starter di lima laga awal Premier League musim ini, sementara Fernandez-Pardo belum mencetak gol.
Di tengah minimnya kontribusi para penyerang anyar, performa Dedic justru mencuri perhatian. Bek asal Bosnia itu tidak hanya solid dalam bertahan, tetapi juga agresif ketika membantu serangan. Dalam enam penampilan pertamanya, ia telah mencatatkan tiga assist—sebuah capaian impresif untuk seorang full-back. Rata-rata 0,8 umpan silang sukses per 90 menit menempatkannya di 25% teratas bek di Eropa, dengan akurasi mencapai 75%. Tidak hanya itu, Dedic juga mencatatkan 1,1 dribel sukses per 90 menit, yang menempatkannya di 20% teratas di Premier League.
Keputusan manajemen Newcastle untuk menjual pemain bintang dan berinvestasi pada talenta muda memang berisiko. Pelatih Matthias Jaissle, yang ditunjuk menggantikan Eddie Howe, diberi mandat untuk membangun generasi baru. Namun, hasil instan di Premier League tetap menjadi tuntutan. Kehadiran Dedic setidaknya memberikan angin segar. Kemampuannya membawa bola dari lini belakang dan menciptakan peluang dari sisi kanan mengingatkan pada gaya bermain Gordon, meski dari posisi yang berbeda.
"Dedic telah menunjukkan kualitasnya sebagai bek modern. Ia tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi opsi serangan tambahan. Itu sangat berharga bagi tim yang kehilangan kreativitas di lini depan," ujar seorang pengamat taktik Premier League.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, fenomena Newcastle ini relevan dengan dinamika Liga 1. Klub-klub Tanah Air kerap menghadapi dilema serupa: menjual pemain kunci demi finansial, lalu kesulitan mencari pengganti. Keberhasilan Dedic beradaptasi cepat bisa menjadi pelajaran bahwa terkadang solusi datang dari posisi yang tidak terduga. Selain itu, harga £30 juta untuk seorang bek kanan menunjukkan betapa mahalnya pasar transfer Eropa, sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan di liga domestik.
Ke depan, Newcastle masih harus mencari formula tepat di lini serang. Fernandez-Pardo dan Touré butuh waktu, tetapi waktu tidak selalu berpihak di Premier League yang kompetitif. Jika Dedic terus tampil konsisten, bukan tidak mungkin ia menjadi salah satu bek kanan terbaik di liga. Pertanyaannya, akankah Jaissle mampu mengintegrasikan para penyerang mudanya sebelum tekanan semakin besar? Hanya hasil di lapangan yang bisa menjawab.



