Manchester United Dinilai Salah Besar Lepas Gelandang Rp150 Miliar ke Everton
Baca dalam 60 detik
- Manchester United melepas James Garner ke Everton pada 2022 dengan harga hanya 9 juta poundsterling, jauh di bawah potensi yang ia tunjukkan sekarang.
- Garner kini bernilai 40 juta poundsterling dan tampil lebih impresif dibanding Kobbie Mainoo di lini tengah, baik dalam umpan maupun kontribusi bertahan.
- Keputusan penjualan itu menjadi cermin buruknya perencanaan jangka panjang United, yang justru mengeluarkan 150 juta poundsterling untuk gelandang baru yang belum menyamai performa Garner.

Manchester United kembali menuai sorotan atas keputusan transfer masa lalu yang dinilai merugikan. James Garner, gelandang jebolan akademi yang dilepas ke Everton pada musim panas 2022 dengan banderol hanya 9 juta poundsterling, kini menjelma menjadi salah satu gelandang paling berpengaruh di Liga Premier. Nilai pasarnya melonjak hingga 40 juta poundsterling menurut Transfermarkt, atau naik sekitar 344 persen dari harga jualnya.
Keputusan tersebut diambil di bawah rezim Erik ten Hag, yang kala itu lebih memilih merombak lini tengah dengan nama-nama baru. Padahal, Garner telah menimba ilmu di akademi United sejak usia dini dan sempat dipinjamkan ke beberapa klub untuk mengasah kemampuan. Kini, empat tahun berselang, performanya justru melampaui banyak gelandang mahal yang didatangkan ke Old Trafford.
Berdasarkan data musim 2026/27, Garner mencatatkan akurasi umpan lebih baik, menciptakan lebih banyak peluang per 90 menit, serta melakukan lebih banyak tekel dan pemulihan bola dibanding Kobbie Mainoo, gelandang muda yang kini menjadi andalan United. Rata-rata 6,8 pemulihan bola per 90 menit milik Garner bahkan menempatkannya di antara 10 persen terbaik untuk posisinya di Liga Premier.
Ironisnya, United justru menggelontorkan lebih dari 150 juta poundsterling untuk mendatangkan gelandang anyar seperti Andrey Santos, Youri Tielemans, dan Carlos Baleba pada bursa transfer musim panas lalu. Hingga pekan kelima Liga Premier 2026/27, ketiganya belum mampu menyamai kontribusi yang ditunjukkan Garner di Everton. Sementara itu, United baru meraih satu kemenangan dari lima laga, dan tekanan terhadap manajer Michael Carrick mulai meningkat.
"Melepas Garner dengan harga 9 juta poundsterling adalah salah satu blunder terbesar Manchester United dalam beberapa tahun terakhir," tulis analis Football FanCast, Ethan, dalam ulasannya.
Di level internasional, Garner juga mencuri perhatian. Ia masuk dalam skuad Inggris asuhan Thomas Tuchel untuk jeda internasional kali ini dan tampil sebagai pemain pengganti pada laga melawan Spanyol, Sabtu lalu. Sebaliknya, Mainoo justru tidak masuk daftar pemain untuk pertandingan tersebut. Perbandingan ini semakin menegaskan bahwa Garner kini menjadi sosok yang lebih matang dan lengkap.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen bakat jangka panjang. Klub-klub Liga 1 seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, atau Bali United kerap menghadapi dilema serupa: mempertahankan pemain muda potensial atau menjualnya demi kebutuhan finansial sesaat. Keputusan United menjadi cermin bahwa menjual aset akademi tanpa perencanaan matang bisa berdampak buruk dalam beberapa musim ke depan.
Ke depan, manajemen United di bawah kepemimpinan baru dituntut untuk lebih bijak dalam menilai pemain muda. Sementara Garner terus berkembang di Everton, pertanyaannya kini: akankah United kembali menyesali keputusan serupa di masa mendatang, ataukah mereka belajar dari kesalahan ini untuk membangun fondasi yang lebih kokoh?



