Prostesis Tangan dengan Sensor Sentuh: Terobosan Cleveland yang Bisa Ubah Hidup Penyandang Amputasi
Baca dalam 60 detik
- Riset di Cleveland mengembangkan prostesis tangan yang mampu mengirim sinyal sentuh ke saraf, memungkinkan pengguna merasakan tekanan dan tekstur objek.
- Pendekatan ini menggunakan elektroda cuff yang ditanam di saraf untuk menstimulasi jalur sensorik yang dulu membawa informasi dari tangan biologis.
- Teknologi masih dalam tahap penelitian, tetapi berpotensi mengurangi ketergantungan pada penglihatan saat menggunakan prostesis dan meningkatkan kualitas hidup penyandang amputasi.

Para peneliti di Cleveland, Amerika Serikat, tengah mengembangkan prostesis tangan yang tidak hanya meniru bentuk dan gerakan manusia, tetapi juga mampu mengembalikan sensasi sentuh. Selama beberapa dekade, desain tangan buatan berfokus pada dua aspek: estetika dan fungsionalitas gerak. Kini, tim riset tersebut menambahkan dimensi ketiga yang tak kalah krusial: umpan balik sensorik. Bagi penyandang amputasi, kemampuan merasakan tekanan atau tekstur objek bisa mengubah pengalaman menggunakan prostesis dari sekadar alat bantu menjadi perpanjangan tubuh yang alami.
Seorang peserta penelitian menjadi contoh nyata bagaimana teknologi ini bekerja. Ia kehilangan lengan akibat kecelakaan kerja saat membersihkan mesin penghancur industri. Awalnya ia mengira sensasi sentuh di tangannya hilang selamanya. Namun, melalui program riset di Cleveland, ia diperkenalkan pada pendekatan yang menghubungkan prostesis ke saraf yang dulu membawa sinyal sensorik antara tangan dan otak. Harapannya, sinyal listrik kecil yang dikirim ke saraf dapat diinterpretasikan otak sebagai sentuhan yang berasal dari tangan yang telah hilang.
Metode ini melibatkan implantasi elektroda cuff di sekitar saraf tertentu. Sensor di prostesis mendeteksi interaksi seperti tekanan, lalu stimulasi listrik yang dikontrol dengan hati-hati mengaktifkan jalur saraf yang sebelumnya membawa sinyal dari tangan biologis. Peserta melaporkan merasakan sensasi seperti kesemutan, getaran, tekanan, dan sentuhan di area spesifik. Latihan laboratorium dengan berbagai objek juga membantu peneliti menilai apakah informasi sensorik dapat meningkatkan kemampuan pengguna dalam mengidentifikasi dan memanipulasi benda.
Dampak terbesar mungkin terasa dalam aktivitas sehari-hari. Setelah menggunakan prostesis sensorik di rumah, peserta menggambarkan tugas-tugas biasa menjadi jauh lebih mudah. Misalnya, memegang tabung pasta gigi menjadi lebih intuitif ketika seseorang dapat merasakan seberapa kuat jari-jari prostesis menekannya. Umpan balik sensorik juga berpotensi mengurangi kebutuhan untuk terus-menerus melihat tangan buatan saat menangani objek, sehingga aktivitas dua tangan terasa lebih alami.
"Kemampuan merasakan sentuhan mengubah prostesis dari alat eksternal menjadi sesuatu yang terasa menyatu dengan penggunanya," ujar seorang peneliti yang terlibat dalam program tersebut, seperti dikutip dari sumber riset.
Meski masih dalam ranah penelitian, pendekatan ini menandai pergeseran penting dalam cara para insinyur dan dokter memandang prostetik canggih. Gerakan dan penampilan hanyalah sebagian dari kegunaan tangan. Mengembalikan sensasi yang bermakna dapat membantu menyatukan teknologi dengan sistem saraf manusia melalui pengalaman fundamental sentuhan. Di Indonesia, pengembangan prostesis sensorik masih tergolong langka, tetapi riset global ini membuka peluang bagi pusat rehabilitasi dan industri alat kesehatan dalam negeri untuk mengadopsi teknologi serupa di masa depan. Dengan populasi penyandang disabilitas yang cukup besar, akses terhadap prostesis canggih yang terjangkau menjadi tantangan tersendiri.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah prostesis dapat merasakan sentuhan, melainkan seberapa cepat teknologi ini dapat diakses secara luas dan dengan biaya yang wajar. Jika berhasil, inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup penyandang amputasi, tetapi juga mendorong batas antara manusia dan mesin semakin tipis.



