Gagal Timbang, Juara Bertahan Kehilangan Sabuk Sebelum Naik Ring
Baca dalam 60 detik
- Shunpei Ohata kehilangan gelar WBO AP super featherweight setelah berat badannya melebihi batas 130 pon.
- Penantang asal Filipina, Pete Apolinar, lolos timbang badan dan berpeluang merebut sabuk jika menang.
- Insiden ini menjadi peringatan bagi petinju Indonesia tentang pentingnya manajemen berat badan yang presisi.

Upacara timbang badan untuk perebutan gelar IBF kelas junior flyweight di Shizuoka Prefecture Hall, Jepang, Jumat (waktu setempat), menghasilkan drama tak terduga. Juara bertahan WBO AP super featherweight, Shunpei Ohata, gagal memenuhi batas berat 130 pon setelah timbangan menunjukkan angka 130,75 pon—kelebihan tiga perempat pon. Konsekuensinya, sabuk miliknya melayang sebelum ia naik ring.
Di sisi lain, penantang asal Filipina, Pete Apolinar, sukses mencatatkan berat 129,75 pon. Jika Apolinar mampu mengalahkan Ohata yang berperingkat WBO ke-10, ia akan langsung menyandang status juara WBO AP. Promotor Ohashi Promotions bersama Suruga Danji Promotions menjadi penyelenggara acara ini.
Insiden ini bukan sekadar cerita gagal timbang. Dalam dunia tinju profesional, kelebihan berat badan—sekecil apa pun—bisa mengubah peta kekuatan. Ohata kehilangan sabuk tanpa bertarung, sementara Apolinar mendapatkan keuntungan ganda: status penantang yang sah dan peluang merebut gelar tanpa harus mengalahkan juara bertahan secara langsung. Bagi Ohata, ini pukulan telak bagi karier dan reputasinya.
Kegagalan memenuhi batas berat sering menjadi momok bagi petinju, terutama di kelas yang menuntut disiplin ketat. Persiapan fisik, pola makan, dan manajemen hidrasi menjadi faktor penentu. Ohata, yang seharusnya tampil sebagai juara bertahan, kini harus menerima kenyataan pahit: sabuknya sudah berpindah tangan sebelum bel pertama berbunyi.
"Kelebihan berat badan sekecil apa pun bisa merugikan petinju secara finansial dan reputasi. Ini pelajaran mahal," ujar seorang pengamat tinju yang enggan disebutkan namanya.
Bagi publik Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin penting. Petinju Tanah Air yang berlaga di kancah internasional, seperti di kelas flyweight atau minimumweight, kerap menghadapi tantangan serupa. Manajemen berat badan yang buruk tidak hanya menggagalkan gelar, tetapi juga menutup peluang pendapatan dari pertarungan besar. Federasi dan pelatih di Indonesia perlu memperkuat pendekatan ilmiah dalam program pemotongan berat badan, termasuk pemantauan gizi dan psikologi atlet.
Ke depan, pertanyaan besarnya: akankah Ohata bangkit dan merebut kembali sabuknya, ataukah ini awal dari kemunduran? Sementara Apolinar, dengan tiket emas di tangan, harus membuktikan bahwa dirinya layak menyandang gelar—bukan sekadar menang di atas kertas timbangan.



