Ekonom Wall Street Peringatkan 'Bank Run' Senyap: Agen AI Bisa Kuras Deposito Murah Perbankan
Baca dalam 60 detik
- Torsten Slok dari Apollo Global memperingatkan bahwa asisten AI yang mengelola keuangan rumah tangga dapat memicu perpindahan dana besar-besaran dari rekening giro berbunga rendah ke deposito berbunga tinggi secara otomatis.
- Fenomena ini berpotensi menggerus sumber pendanaan murah bank yang selama ini menjadi tulang punggung penyaluran kredit, sehingga mengancam stabilitas sistem keuangan secara lebih luas.
- Infrastruktur pembayaran berbasis kripto seperti protokol x402 dari Coinbase tengah mempersiapkan rel transaksi yang memungkinkan agen AI bertransaksi stablecoin tanpa persetujuan manusia, mempercepat disintermediasi perbankan.

Chief Economist Apollo Global, Torsten Slok, melontarkan peringatan yang mengguncang narasi mapan industri keuangan: adopsi luas asisten kecerdasan buatan (AI) yang mengelola uang rumah tangga berpotensi memicu "bank run" perlahan namun sistematis. Dalam catatan riset bertajuk "Is an Agentic bank run coming?" yang dirilis Minggu, Slok menilai agen AI seperti Muse milik Meta dan sejenisnya mampu memindahkan dana nasabah dari rekening giro berbunga rendah ke instrumen deposito berbunga tinggi secara otomatis, tanpa campur tangan manusia.
Peringatan ini bukan tanpa dasar. Slok, yang juga partner di raksasa private equity Apollo Global dengan aset kelolaan sekitar US$1 triliun, menyoroti disparitas imbal hasil yang mencolok. Rata-rata nasional bunga rekening giro di Amerika Serikat hanya 0,1%, sementara sejumlah platform keuangan digital seperti Revolut, SoFi, Varo, LendingClub, dan Wealthfront menawarkan bunga deposito 3,3% hingga 5% per tahun. Artinya, saldo US$10.000 hanya menghasilkan sekitar US$10 per tahun di rekening giro, tetapi bisa mencapai US$100 di deposito berbunga tinggi.
Jika agen AI secara masif digunakan untuk mengoptimalkan imbal hasil kas rumah tangga, bank-bank yang selama ini bergantung pada deposito murah untuk menyalurkan kredit akan kehilangan sebagian besar sumber pendanaan mereka. "Jika setiap rumah tangga menggunakan agen AI untuk mengoptimalkan imbal hasil saldo kas mereka, bank bisa kehilangan sebagian besar deposito murah yang mereka andalkan untuk memberikan pinjaman, dan itu akan menjadi masalah bagi seluruh sistem keuangan," ujar Slok dalam catatan tersebut.
Fenomena yang disebut Slok sebagai "agentic finance" ini merujuk pada AI yang tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi bertindak. Agen-agen ini dapat memantau saldo secara real-time, membandingkan imbal hasil antar-institusi, memindahkan kas menganggur ke akun berbunga lebih tinggi, lalu mengembalikannya tepat waktu untuk membayar tagihan. Kemampuan otonom inilah yang membedakannya dari robo-advisor generasi sebelumnya yang masih memerlukan persetujuan pengguna.
Yang membuat peringatan ini semakin relevan, infrastruktur pembayaran untuk agen AI sudah dibangun, dan sebagian besar bertumpu pada teknologi kripto. Protokol x402 dari Coinbase, standar pembayaran agentic yang paling banyak digunakan, memungkinkan agen AI membayar layanan daring menggunakan stablecoin dalam hitungan detik, tanpa akun, kartu, atau persetujuan manusia. Hingga kini, x402 dilaporkan telah memproses sekitar 188 juta hingga lebih dari 205 juta transaksi kumulatif, dengan sekitar 69.000 agen aktif. Cloudflare, Google, Visa, Mastercard, AWS, Circle, dan Stripe telah bergabung dalam x402 Foundation yang kini berada di bawah naungan Linux Foundation.
"AI dan kripto sama-sama mengincar model perbankan tradisional," kata Nate Geraci, co-founder ETF Institute, yang sebelumnya telah menyuarakan hal serupa.
Bagi Indonesia, peringatan Slok ini bukan sekadar wacana akademis. Struktur perbankan nasional masih sangat bergantung pada dana pihak ketiga (DPK) murah, terutama giro dan tabungan, sebagai sumber pendanaan utama kredit. Jika agen AI mulai diadopsi secara luas oleh rumah tangga urban kelas menengah, bank-bank besar bisa menghadapi tekanan biaya dana yang signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia perlu mulai mempertimbangkan kerangka regulasi untuk transaksi yang dijalankan agen otonom, termasuk aspek perlindungan konsumen dan stabilitas likuiditas.
Di sisi lain, bank digital dan platform fintech di dalam negeri justru berpotensi diuntungkan. Mereka dapat memposisikan diri sebagai tujuan utama perpindahan dana otomatis yang dilakukan agen AI, selama mampu menawarkan imbal hasil kompetitif dan integrasi API yang mulus. Namun, tanpa pengawasan yang memadai, risiko perpindahan dana besar-besaran dalam waktu singkat dapat memicu volatilitas likuiditas yang sulit diprediksi.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah agen AI akan masuk ke sektor keuangan, melainkan seberapa cepat regulator dan institusi bank mampu beradaptasi. Jika Slok benar, bank yang gagal bertransformasi menghadapi era "agentic finance" bukan hanya kehilangan nasabah, tetapi juga fondasi bisnis mereka: kepercayaan sebagai tempat penyimpanan dana yang aman dan menguntungkan.



