JK Bertemu Imam Besar Al-Aqsa: PMI Tegaskan Bantuan ke Palestina Tak Terpengaruh Gejolak Politik
Baca dalam 60 detik
- Ketua PMI Jusuf Kalla menerima kunjungan Imam Besar Masjid Al-Aqsa Mahmoud Sudqi Al-Habbash di Jakarta pada Senin (28/9/2026).
- PMI menegaskan komitmen penyaluran bantuan kesehatan, logistik, dan dukungan psikososial ke Palestina akan berlanjut tanpa terikat dinamika politik kawasan.
- Pertemuan ini menggarisbawahi posisi Indonesia sebagai penyumbang bantuan kemanusiaan konsisten bagi Palestina, sekaligus menegaskan peran PMI sebagai aktor diplomasi kemanusiaan.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla menerima kunjungan Imam Besar Masjid Al-Aqsa sekaligus Utusan Khusus Presiden Palestina, Mahmoud Sudqi Al-Habbash, di kediamannya di Jakarta, Senin (28/9/2026). Pertemuan itu menjadi penegasan bahwa jalur bantuan kemanusiaan Indonesia ke Palestina tidak akan tersendat oleh gejolak politik yang terus berubah di Timur Tengah.
Dalam pertemuan tersebut, Kalla menegaskan bahwa PMI memiliki mandat kemanusiaan yang bersifat tetap dan tidak bisa ditawar. Menurutnya, bantuan kesehatan, logistik, hingga dukungan psikososial akan terus disalurkan kepada warga Palestina, terlepas dari perkembangan situasi politik yang terjadi. Ia menyebut komitmen ini sebagai wujud solidaritas Indonesia yang tidak akan pernah surut.
Al-Habbash menyampaikan apresiasi atas sambutan dan dukungan Indonesia terhadap Palestina. Meski tidak merinci bentuk kerja sama lanjutan, pertemuan ini menandai komunikasi langsung antara otoritas keagamaan Yerusalem dan lembaga kemanusiaan Indonesia di tengah situasi yang tidak menentu.
Bagi Indonesia, langkah PMI ini bukan sekadar aksi filantropi. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dunia, posisi Indonesia dalam isu Palestina selalu menjadi sorotan, baik di forum multilateral maupun di mata publik domestik. Konsistensi bantuan kemanusiaan memperkuat legitimasi Indonesia sebagai penengah yang dapat diterima berbagai pihak, tanpa harus terjebak dalam blok geopolitik tertentu.
Dari sisi diplomasi kemanusiaan, peran PMI melengkapi upaya pemerintah yang secara rutin menyuarakan dukungan bagi Palestina di PBB dan organisasi internasional lainnya. Kalla, yang juga pernah menjabat Wakil Presiden, membawa bobot politik dan jaringan luas yang membuat manuver PMI tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini memberi Indonesia saluran alternatif ketika jalur diplomatik formal menghadapi kebuntuan.
Namun, tantangan di lapangan tidak ringan. Akses masuk ke Gaza dan wilayah konflik lain kerap terhambat oleh pembatasan pihak berwenang, kondisi keamanan yang fluktuatif, serta kebutuhan logistik yang terus meningkat. Ketergantungan pada jalur perbatasan Mesir menunjukkan bahwa distribusi bantuan masih rentan terhadap perubahan kebijakan regional. PMI perlu memastikan rantai pasok kemanusiaan tetap berjalan meski tekanan politik meningkat.
Yang tak kalah penting, keberlanjutan bantuan juga bergantung pada dukungan finansial dan operasional dari dalam negeri. Publik Indonesia, yang selama ini dikenal dermawan, menjadi tulang punggung pendanaan. Transparansi dan akuntabilitas penyaluran menjadi kunci agar kepercayaan tidak luntur. Jika masyarakat melihat bantuan benar-benar sampai, dukungan akan mengalir lebih deras.
Ke depan, pertemuan ini bisa menjadi pijakan bagi perluasan kerja sama kemanusiaan, misalnya dalam bidang pelatihan tenaga medis atau penguatan layanan kesehatan darurat di Palestina. Namun, tanpa perbaikan situasi keamanan dan akses, setiap rencana besar akan menghadapi tembok tebal. Akankah solidaritas yang ditegaskan di Jakarta mampu menembus batas-batas politik yang membelenggu? Waktu yang akan menguji, tetapi langkah PMI setidaknya memastikan suara Indonesia tetap terdengar di tengah riuh konflik.



