Kesenjangan Adopsi AI di Kantor: 99% Bos Pakai, Karyawan Biasa Cuma 41%
Baca dalam 60 detik
- Riset Adobe Acrobat mengungkap jurang adopsi AI di tempat kerja: hampir semua eksekutif C-suite memakai AI, sementara kurang dari separuh staf non-manajemen melakukannya.
- Perbedaan tidak hanya soal frekuensi, tetapi juga jenis tugas—pemimpin memakai AI untuk analisis data dan manajemen rapat, sedangkan karyawan biasa terbatas pada pembuatan dokumen dasar.
- Kekhawatiran keamanan dan privasi data menjadi penghalang utama, dengan hanya 20% pekerja non-manajemen yang bersedia berbagi dokumen ke AI.

Sebuah studi terbaru dari Adobe Acrobat menyoroti ketimpangan signifikan dalam pemanfaatan kecerdasan buatan di lingkungan kerja di Inggris. Hampir seluruh eksekutif tingkat C-suite (99%) mengaku menggunakan perangkat AI, sementara hanya 41% karyawan non-manajemen yang melakukannya. Angka ini menunjukkan bahwa adopsi AI tidak merata di berbagai lapisan organisasi.
Perbedaan tidak sekadar pada jumlah pengguna, melainkan juga pada kompleksitas tugas yang ditangani. Karyawan non-manajemen paling banyak memanfaatkan AI untuk pembuatan dan penyuntingan dokumen (17%), yang tergolong pekerjaan kreatif dasar. Sebaliknya, para pemimpin perusahaan menggunakan AI untuk pengambilan keputusan strategis, seperti analisis data (35%), manajemen rapat dan tugas (33%), serta pemasaran (25%).
Dampak dari ketimpangan ini terlihat pada penghematan waktu. Sebanyak 37% eksekutif C-suite melaporkan menghemat tiga hingga lima jam per minggu berkat AI, sedangkan hanya 13% pekerja pengetahuan yang merasakan manfaat serupa. Adobe menilai hal ini mengindikasikan bahwa akses, pengetahuan, dan dukungan adopsi AI mungkin berbeda-beda tergantung pada jenis karyawan.
Kesenjangan juga terlihat dari kesediaan berbagi dokumen dengan AI: 74% eksekutif menyatakan tidak masalah, sementara hanya 20% pekerja lain yang setuju. Perbedaan besar ini menyoroti adanya kekhawatiran yang lebih tinggi di kalangan staf non-manajemen, terutama terkait keamanan dan privasi data.
Dalam laporannya, Adobe merekomendasikan beberapa langkah awal untuk mengurangi beban administratif yang dihadapi pekerja. Misalnya, memanfaatkan AI untuk membuat draf dan ringkasan rapat, email, serta kolaborasi, sehingga pekerjaan yang kurang kreatif dapat dikurangi dan waktu dapat dialihkan ke tugas yang lebih produktif.
Namun, Adobe juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan di seluruh organisasi. Selama perusahaan belum mampu mengatasi masalah keamanan, privasi, dan transparansi, kekhawatiran pekerja akan risiko yang mungkin timbul akan tetap tinggi. Saat ini, kekhawatiran akan keamanan dan privasi data (22%) masih menjadi salah satu hambatan terbesar adopsi AI, dan perusahaan memiliki ruang yang jelas untuk memperbaikinya.
"Ketika perusahaan dapat mengatasi masalah keamanan, privasi, dan transparansi, pekerja cenderung tidak khawatir tentang potensi risiko," demikian catatan dalam laporan Adobe.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi cermin penting. Di tengah percepatan transformasi digital, banyak perusahaan nasional masih bergulat dengan kesenjangan literasi digital antara manajemen puncak dan karyawan lini depan. Tanpa pemerataan akses dan pelatihan AI, jurang ini berpotensi memperlebar ketimpangan produktivitas dan daya saing. Pemerintah dan pelaku industri perlu mendorong program peningkatan keterampilan AI yang inklusif, bukan hanya untuk level eksekutif.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menggantikan pekerjaan, melainkan bagaimana memastikan setiap lapisan pekerja dapat memanfaatkannya secara aman dan setara. Tanpa strategi yang menyeluruh, adopsi AI hanya akan menjadi kemewahan segelintir orang di menara gading.



