Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Sejak Mei, Krisis Pasokan Global di Depan Mata
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI ditutup pada level tertinggi sejak 19 Mei setelah gangguan ekspor Arab Saudi dan pembatalan kargo ke Eropa.
- Serangan Houthi, penutupan ladang minyak Libya, dan ketidakpastian perbaikan pipa East-West memperparah kekhawatiran pasar.
- Bagi Indonesia, kenaikan ini mengancam subsidi energi, inflasi, dan stabilitas rupiah jika konflik Timur Tengah berlarut.

Harga minyak mentah dunia menembus level tertinggi dalam hampir empat bulan pada perdagangan Selasa (15/9/2026), dipicu oleh gangguan ekspor Arab Saudi dan pembatalan sejumlah kargo ke Eropa. Brent ditutup menguat US$3,07 atau 2,9% ke US$108,75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$4,44 atau 4,38% menjadi US$105,83 per barel—keduanya level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.
Lonjakan WTI yang lebih tajam dari Brent mencerminkan kekhawatiran spesifik pasar terhadap pasokan Amerika Serikat. Sumber industri pelayaran menyebut pemuatan minyak mentah di terminal Yanbu, Arab Saudi, dihentikan, dan Riyadh membatalkan sejumlah kargo untuk pelanggan Eropa yang dijadwalkan dikirim akhir September. Yanbu selama ini menjadi jalur ekspor vital Saudi, terutama setelah gangguan pelayaran di Selat Hormuz memaksa Riyadh mengandalkan East-West Pipeline sepanjang 1.200 kilometer dari wilayah timur ke Laut Merah.
Tekanan bertambah setelah serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyasar infrastruktur minyak Saudi pada Jumat lalu. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai para pedagang membeli kontrak berjangka WTI dengan asumsi gangguan ekspor Saudi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Ia memperkirakan kilang-kilang Eropa akan beralih ke minyak mentah AS untuk menutupi kekurangan.
Ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain, menggarisbawahi bahwa serangan baru Houthi dapat mengubah ekspektasi investor mengenai tingkat keparahan dan durasi konflik. "Serangan baru oleh kelompok Houthi yang menargetkan Arab Saudi mungkin memengaruhi ekspektasi investor pasar minyak mengenai tingkat keparahan dan durasi konflik," ujarnya.
Dari Libya, National Oil Corporation (NOC) melaporkan operasi di tiga ladang minyak dihentikan setelah anggota Petroleum Facilities Guard menutup katup pada pipa ekspor Hamada-Zawiya. NOC memperingatkan dapat memberlakukan force majeure jika penutupan berlanjut, yang berpotensi mengganggu produksi dari ladang lainnya. Sementara itu, serangan Rusia dan Ukraina terhadap fasilitas energi masing-masing menambah tekanan pada pasokan bahan bakar global.
Perbedaan estimasi antara Goldman Sachs dan pemerintah AS soal waktu perbaikan pipa East-West menciptakan ketidakpastian yang membuat pasar sulit menentukan durasi gangguan. Ketidakpastian ini juga diperparah oleh konflik Timur Tengah yang masih mengancam jalur perdagangan energi utama, termasuk Selat Hormuz.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini bukan sekadar berita internasional. Sebagai net importir minyak, setiap kenaikan US$10 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dan menekan defisit anggaran. Pemerintah mungkin perlu menyesuaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN, yang bisa berdampak pada belanja subsidi dan kompensasi. Rupiah juga rentan melemah karena impor minyak membengkak, sementara inflasi harga bahan bakar dan transportasi dapat menggerus daya beli masyarakat.
Investor di pasar saham dan obligasi perlu mencermati sektor energi dan konsumen. Emiten tambang minyak dan gas mungkin diuntungkan oleh harga tinggi, tetapi perusahaan transportasi, penerbangan, dan manufaktur yang bergantung pada bahan bakar justru menghadapi tekanan margin. Bank Indonesia juga berpotensi menaikkan suku bunga jika inflasi impor meningkat, yang akan memengaruhi imbal hasil obligasi dan biaya pinjaman korporasi.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah seberapa cepat Arab Saudi memulihkan ekspor dan apakah konflik Timur Tengah meluas. Jika gangguan berlangsung lebih dari delapan minggu seperti perkiraan Goldman Sachs, harga minyak bisa menembus US$120 per barel, memaksa pemerintah Indonesia mengambil langkah darurat. Sebaliknya, jika pipa segera pulih, tekanan bisa mereda—tetapi risiko geopolitik tetap membayangi.



