Dua Jenazah Korban KM Virgo Transport 8 Tiba di Garut, 12 Selamat Masih Tertahan di Banjarmasin
Baca dalam 60 detik
- Erick Maisul Latif (37) dan Risyan Kurnia Putra (28) diserahkan ke keluarga di Karangpawitan, Garut, Rabu petang setelah pengantaran dibiayai Kementerian Perhubungan dari Kalimantan.
- Dari 22 korban kecelakaan di Laut Jawa, 12 orang selamat kini dirawat di Banjarmasin dan menunggu pemulangan, sementara sisanya masih dalam pencarian.
- Insiden ini menambah catatan hitam keselamatan pelayaran rakyat dan mendesak evaluasi menyeluruh atas standar armada serta pengawasan rute padat penumpang.

Dua jenazah korban kecelakaan Kapal Motor Virgo Transport 8 akhirnya tiba di Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (17/9) sekitar pukul 17.20 WIB. Keduanya, Erick Maisul Latif (37) dan Risyan Kurnia Putra (28), diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan tak jauh dari rumah duka. Kedatangan dua ambulans yang dikawal petugas Kementerian Perhubungan dan kepolisian itu disambut isak tangis warga yang sejak siang menunggu.
Peristiwa ini merupakan bagian dari tragedi KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9) dini hari. Dari 22 orang yang berada di kapal, 12 berhasil diselamatkan dan kini masih dirawat di Banjarmasin, Kalimantan. Sisanya belum ditemukan. Kepala Dinas Sosial Garut, Marlinda Siti Hana, memastikan seluruh biaya pengantaran jenazah dari Kalimantan ke Jakarta hingga Garut ditanggung Kementerian Perhubungan. "Jenazah tiba di Garut untuk selanjutnya dilakukan serah terima ke keluarganya," ujarnya.
Bagi keluarga korban di Garut, kepastian pemulangan jenazah menjadi titik awal duka yang panjang. Namun perhatian publik kini tertuju pada nasib 12 penyintas yang masih berada di Banjarmasin. Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya dilaporkan memberikan uang tunggu bagi para korban selamat, meski proses pemulangan mereka belum rampung. Lambatnya repatriasi ini memunculkan pertanyaan tentang koordinasi lintas daerah dalam penanganan bencana pelayaran.
Insiden KM Virgo bukan kasus pertama yang menimpa angkutan laut rakyat. Selama bertahun-tahun, kapal penumpang antarpulau—terutama yang melayani rute padat seperti Kalimantan–Jawa—kerap menghadapi masalah klasik: kelebihan muatan, cuaca ekstrem, dan keterbatasan alat navigasi. Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menunjukkan bahwa kecelakaan pelayaran di Indonesia masih didominasi faktor human error dan kelalaian prosedur. Karena itu, tenggelamnya KM Virgo semestinya menjadi alarm bagi regulator untuk memperketat pengawasan armada, terutama menjelang musim angin kencang.
"Untuk korban yang selamat masih ditangani di sana, secepatnya akan dibantu pemulangan ke Garut," kata Marlinda Siti Hana, Kepala Dinsos Garut.
Dari sudut pandang ekonomi, kecelakaan ini mengganggu mobilitas barang dan orang di jalur Laut Jawa yang menjadi urat nadi perdagangan regional. Keterlambatan distribusi dapat memicu kenaikan biaya logistik jangka pendek, yang pada akhirnya membebani konsumen. Bagi investor yang memiliki eksposur pada sektor transportasi dan logistik, kejadian ini menjadi pengingat bahwa risiko operasional di jalur pelayaran rakyat masih tinggi dan sering kali tidak terasuransi dengan baik.
Pemerintah daerah dan Kementerian Perhubungan perlu memastikan proses evakuasi korban selamat berjalan transparan dan akuntabel. Selain itu, investigasi menyeluruh harus segera dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab pasti, apakah murni cuaca buruk atau ada kelalaian yang dapat dijerat hukum. Tanpa penegakan aturan yang tegas, potensi kecelakaan serupa akan terus menghantui penumpang kapal rakyat yang notabene berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Ke depan, publik menanti apakah insiden KM Virgo akan memicu revisi regulasi keselamatan pelayaran atau hanya menjadi statistik tahunan yang cepat terlupakan. Yang jelas, keluarga korban di Garut masih menanti kepastian nasib anggota keluarga mereka yang selamat, sementara 10 orang lainnya belum ditemukan. Akankah negara hadir lebih kuat untuk melindungi warga yang bergantung pada transportasi laut?



