Sopir Lajuran Tewas Dibakar di Jalur Wamena–Mbua, TNI Kejar Pelaku
Baca dalam 60 detik
- Aris Sanda, pengemudi angkutan lintas Wamena–Mbua, ditemukan tewas dalam mobil terbakar di sekitar Danau Habema, Kabupaten Jayawijaya.
- TNI menyebut korban dibawa oleh kelompok bersenjata OPM KODAP III Ndugama setelah penumpang lain dipulangkan ke Wamena.
- Pengejaran dan pendalaman saksi terus dilakukan, sementara evakuasi jenazah berlangsung dengan pengamanan ketat.

Seorang pengemudi angkutan lintas Wamena–Mbua, Aris Sanda alias Bapak Tasya, tewas dibakar bersama kendaraannya di jalur pegunungan Papua, Selasa (15/9) pagi. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap pekerja transportasi di wilayah pedalaman yang selama ini menjadi urat nadi distribusi logistik masyarakat.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna menyatakan, korban diduga menjadi sasaran kelompok bersenjata OPM KODAP III Ndugama. Insiden terjadi sekitar pukul 06.00 WIT di dekat pertigaan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Menurutnya, rombongan kendaraan dihentikan oleh sejumlah orang bersenjata yang kemudian memeriksa pengemudi dan penumpang.
"Para penumpang diperintahkan kembali menuju Wamena, sementara Aris Sanda dibawa menuju arah kawasan Danau Habema," ujar Wirya dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9). Tak lama setelah laporan diterima, tim gabungan melakukan penyisiran dan menemukan satu unit mobil dalam kondisi terbakar beserta jenazah korban.
Korban dikenal sebagai sopir lajuran, sebutan untuk pengemudi yang melayani angkutan logistik dan penumpang antarkota di Papua. Pekerjaan ini memiliki risiko tinggi karena melintasi medan berat dan wilayah rawan gangguan keamanan. Wirya menegaskan, evakuasi jenazah dilakukan sesuai prosedur dengan mengutamakan keselamatan personel. Pendalaman kronologi dan pemeriksaan saksi terus berjalan bersama instansi terkait.
Koops TNI Habema menyatakan akan mengejar kelompok yang terlibat dan mendukung penegakan hukum. "Kami sangat menyayangkan peristiwa ini. Korban sedang bekerja membawa logistik dan melayani transportasi masyarakat menuju pedalaman," kata Wirya. Ia menambahkan, pekerja yang membantu kehidupan warga seharusnya dapat menjalankan tugas tanpa ancaman kekerasan.
"Orang-orang yang bekerja membantu kehidupan masyarakat seharusnya dapat menjalankan tugasnya dengan aman dan tidak menjadi korban kekerasan." — Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, Kepala Penerangan Koops TNI Habema
Insiden ini menyoroti persoalan keamanan di jalur logistik pedalaman Papua. Selama ini, distribusi bahan pokok, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lain ke daerah terpencil sangat bergantung pada sopir lajuran. Gangguan terhadap mereka tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga berpotensi memutus pasokan yang dibutuhkan warga. Pemerintah daerah dan aparat keamanan menghadapi tantangan ganda: menindak pelaku sekaligus memastikan roda ekonomi tetap berjalan.
Dari perspektif nasional, peristiwa ini dapat memicu kekhawatiran investor dan pelaku usaha yang beroperasi di Papua. Stabilitas keamanan menjadi prasyarat utama bagi masuknya investasi, terutama di sektor pertambangan, perkebunan, dan infrastruktur. Eskalasi kekerasan juga berisiko memperlebar jurang pembangunan antara wilayah pesisir dan pegunungan. Pemerintah perlu merespons dengan pendekatan komprehensif, bukan sekadar operasi militer.
Ke depan, publik akan menantikan apakah pengejaran membuahkan hasil dan bagaimana negara menjamin keselamatan pekerja transportasi di zona rawan. Tanpa jaminan keamanan yang nyata, arus logistik ke pedalaman bisa tersendat, dan warga sipil kembali menjadi pihak yang paling dirugikan.



