Pipa Laut Merah Diserang, Arab Saudi Pangkas Ekspor Minyak ke Eropa
Baca dalam 60 detik
- Serangan drone terhadap pipa Timur-Barat memaksa Arab Saudi membatalkan sejumlah kargo minyak mentah untuk pelanggan Eropa dan menghentikan pemuatan di Yanbu.
- Harga fisik Dated Brent di Eropa melonjak ke kisaran US$122 per barel, sementara Orlen asal Polandia berburu pasokan pengganti dari Laut Utara hingga Amerika.
- Ketergantungan pada rute alternatif dan pengiriman gelap berpotensi menekan pasokan global serta mengerek biaya energi impor Indonesia.

Arab Saudi terpaksa memotong aliran minyak mentah ke Eropa setelah serangan pesawat nirawak merusak pipa ekspor utama yang melintasi gurun ke Laut Merah. Keputusan itu memicu kepanikan di kalangan pembeli, terutama Polandia, yang kini berlomba mengamankan pasokan alternatif di tengah lonjakan harga kargo fisik yang menembus level US$120 per barel.
Menurut sumber pedagang dan pelayaran, Aramco telah memberitahu sejumlah pelanggan Eropa bahwa kargo untuk pemuatan September dibatalkan. Aktivitas pemuatan di pelabuhan Yanbu, salah satu terminal utama di pesisir Laut Merah, juga dihentikan total. Aramco enggan memberi keterangan resmi, dan hingga kini belum ada konfirmasi berapa banyak kargo yang batal maupun berapa lama penangguhan akan berlangsung.
Serangan yang dituduhkan kepada milisi Irak itu memaksa Riyadh menutup pipa Timur-Barat pada Jumat lalu. Padahal, selama enam bulan terakhir jalur tersebut menjadi katup penyelamat ketika Selat Hormuz kerap terancam akibat perang regional. Kini, dengan pipa lumpuh, Saudi diprediksi mengalihkan ekspor melalui Hormuz dengan taktik pengiriman gelap—manuver yang sudah dipakai Uni Emirat Arab dan Irak untuk menembus blokade.
Di Polandia, raksasa energi terintegrasi Orlen bergerak cepat. Perusahaan itu memborong beberapa kargo minyak mentah melalui tender spot pada Jumat dan Senin, mencakup grade Laut Utara seperti Grane, Johan Sverdrup, dan Johan Castberg, serta WTI Midland dari Amerika Serikat dan CPC Blend asal Kazakhstan. Pada Selasa, Orlen kembali membuka tender untuk pasokan Laut Utara atau Aljazair bagi pengiriman Oktober, dan minyak Guyana untuk November. Hasilnya dilaporkan belum signifikan.
Ketergantungan Orlen pada Aramco terbilang ironis. Sejak 2022, kerja sama itu membantu Polandia melepaskan diri dari minyak Rusia. Kini, ketergantungan yang sama justru membuat mereka rentan ketika pemasok utama bermasalah. Manajemen Orlen menolak merinci transaksi komersial, namun menegaskan bahwa penyesuaian volume pembelian adalah bagian rutin operasi dan pengiriman ke kilang tetap berjalan normal.
Bagi Indonesia, gangguan pasokan di Laut Merah dan potensi peralihan ke rute Hormuz menjadi peringatan dini. Sebagai importir minyak mentah, Indonesia bersaing langsung dengan pembeli Eropa dan Asia dalam memperebutkan kargo alternatif. Harga acuan yang melonjak akan menambah tekanan pada biaya impor, neraca dagang, dan subsidi energi. Pemerintah dan Pertamina perlu mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah jenis yang biasa diimpor, sembari memperkuat lindung nilai dan diversifikasi sumber pasokan.
Jika ketegangan di Laut Merah berlanjut, premium risiko pada kargo fisik bisa bertahan lebih lama. Pasar akan mencermati apakah Arab Saudi mampu mengompensasi kehilangan jalur barat melalui pengiriman gelap di Hormuz, dan seberapa cepat Orlen serta pembeli Eropa lain menemukan pengganti. Pertanyaannya, apakah Indonesia memiliki ruang fiskal dan strategi logistik yang cukup jika harga minyak global kembali menguji level tertinggi tahun ini?



