Smelter Tembaga US$ 4,2 Miliar Freeport Kembali Menyala, Produksi Perdana 5.000 Ton Katoda
Baca dalam 60 detik
- Fasilitas pemurnian tembaga kedua Freeport di Gresik kembali mengalirkan konsentrat sejak Agustus dan mencetak 5.000 ton katoda pada September 2026.
- Pemulihan pasokan pasca-longsor bawah tanah menjadi kunci; sebelumnya smelter baru hanya menganggur karena bahan baku dialihkan ke PT Smelting.
- Dengan kapasitas 1,7 juta ton konsentrat per tahun, proyek ini menopang target hilirisasi dan pasokan katoda domestik ke depan.

PT Freeport Indonesia memastikan smelter tembaga keduanya di Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE, Gresik, Jawa Timur, kembali beroperasi setelah sempat terhenti akibat krisis pasokan konsentrat. Direktur Utama Tony Wenas mengungkapkan, pengiriman bahan baku ke fasilitas tersebut baru mengalir lagi pada Agustus 2026, dan pada September ini smelter mulai memproduksi sekitar 5.000 ton katoda tembaga.
Kabar itu disampaikan Tony dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (15/9/2026). Menurutnya, smelter baru sempat tak bisa dijalankan karena konsentrat dari tambang bawah tanah hanya cukup untuk memasok PT Smelting, fasilitas pemurnian yang lebih dulu beroperasi. Longsor di area tambang pada September 2025 memaksa perusahaan mengalihkan seluruh pasokan ke smelter lama.
"Ramp up smelter baru baru dimulai Agustus lalu, dan produksi perdana sekitar 5.000 ton katoda tembaga tercatat bulan ini," ujar Tony, menggambarkan fase pemulihan yang berjalan bertahap.
Perjalanan smelter ini tidak mulus. Setelah mulai diuji coba pada Juni 2024 dan berproduksi Agustus tahun yang sama, fasilitas tersebut dilanda kebakaran di gas cleaning plant pada Oktober 2024. Unit kecil itu berfungsi menangkap SO2 dari furnace agar tidak mencemari udara dan mengolahnya menjadi asam sulfat. Perbaikan memakan waktu, dan smelter baru bisa beroperasi lagi pada Mei 2025 sebelum akhirnya terhenti lagi akibat longsor.
Bagi perekonomian nasional, beroperasinya kembali smelter raksasa ini memperkuat peta hilirisasi mineral yang digagas pemerintah. Selama ini sebagian besar konsentrat tembaga Freeport diekspor dalam bentuk mentah. Kehadiran smelter kedua memungkinkan nilai tambah dikerjakan di dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada fasilitas pemurnian luar negeri. Pemerintah menargetkan peningkatan penerimaan negara dari royalti dan pajak seiring naiknya volume katoda yang diproduksi.
Dari sisi pasar global, tambahan pasokan katoda dari Gresik berpotensi mempengaruhi keseimbangan tembaga dunia. Harga tembaga di bursa komoditas London Metal Exchange (LME) beberapa bulan terakhir bergerak fluktuatif akibat ketidakpastian permintaan China dan percepatan transisi energi. Kehadiran pasokan baru dari Indonesia bisa menjadi penyeimbang, meski volumenya belum signifikan dibanding total konsumsi global yang mencapai puluhan juta ton per tahun.
Investor di sektor pertambangan dan manufaktur perlu mencermati dua hal: pertama, konsistensi pasokan konsentrat dari tambang bawah tanah Freeport pasca-insiden longsor; kedua, kesiapan infrastruktur pendukung di KEK JIIPE, termasuk listrik dan logistik pelabuhan. Jika ramp up berjalan sesuai rencana, smelter ini dapat menjadi tulang punggung rantai pasok tembaga domestik, mulai dari kabel listrik, komponen elektronik, hingga kendaraan listrik.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi soal bisa atau tidak beroperasi, melainkan seberapa cepat Freeport mengejar kapasitas penuh 600.000 ton katoda per tahun. Pemerintah juga dituntut memastikan insentif fiskal dan kepastian regulasi tetap kondusif agar proyek bernilai miliaran dolar ini tidak kembali tergelincir oleh gangguan operasional maupun gejolak harga komoditas.



