Australia dan Kepulauan Solomon Sepakati Traktat Komprehensif: Sinyal Perimbangan Kekuatan di Pasifik
Baca dalam 60 detik
- Australia dan Kepulauan Solomon telah menyetujui draf perjanjian komprehensif yang mencakup bantuan dana lebih dari AU$980 juta, menurut laporan ABC.
- Kesepakatan ini menandai pergeseran geopolitik Kepulauan Solomon kembali ke kubu Barat setelah sebelumnya dekat dengan China.
- Perjanjian ini berpotensi mempengaruhi dinamika keamanan dan ekonomi di kawasan Pasifik, yang juga berdampak pada kepentingan Indonesia di Pasifik.

Australia dan Kepulauan Solomon dilaporkan telah mencapai kesepakatan prinsip untuk sebuah perjanjian komprehensif yang mencakup paket bantuan finansial senilai lebih dari AU$980 juta. Langkah ini dinilai sebagai upaya Canberra untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan Pasifik di tengah persaingan dengan China.
Menurut laporan Australian Broadcasting Corporation (ABC) yang mengutip pesan teks yang bocor antara Komisaris Tinggi Australia untuk Kepulauan Solomon dan Wakil Perdana Menteri setempat, dana tersebut akan dialokasikan untuk berbagai program prioritas. Di antaranya adalah kebijakan pendidikan gratis yang menjadi andalan Perdana Menteri Matthew Wale, peningkatan fasilitas visa, serta bantuan di bidang keamanan. Pemerintah Australia dikabarkan menargetkan penandatanganan perjanjian ini dalam beberapa pekan mendatang.
Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Sejak tahun 2019, Kepulauan Solomon telah mengalihkan pengakuan diplomatiknya dari Taiwan ke China dan menandatangani perjanjian keamanan yang luas dengan Beijing pada 2022. Langkah tersebut memicu kekhawatiran bahwa negara kepulauan itu bisa menjadi pijakan strategis China di Pasifik Selatan. Namun, di bawah kepemimpinan Wale yang menjabat sejak Mei lalu setelah menggulingkan Perdana Menteri Jeremiah Manele melalui mosi tidak percaya, arah kebijakan luar negeri Kepulauan Solomon mulai berbalik mendekati mitra tradisionalnya, Australia dan Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai negara yang juga memiliki kepentingan di kawasan Pasifik, Indonesia perlu mencermati bagaimana pergeseran aliansi ini dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan regional. Indonesia selama ini konsisten mendukung stabilitas dan kerja sama di Pasifik, termasuk melalui forum-forum seperti Pacific Islands Forum. Kehadiran Australia yang semakin kuat di Kepulauan Solomon dapat menjadi penyeimbang pengaruh China, namun juga berpotensi memicu ketegangan baru yang perlu diantisipasi.
Perundingan perjanjian ini sendiri telah dimulai sejak Juni lalu ketika Wale bertemu dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Canberra. Namun, prosesnya sempat terhambat oleh gejolak politik internal di Kepulauan Solomon. Pekan lalu, Wale terpaksa memotong kunjungannya di KTT Pacific Islands Forum di Palau setelah menteri dalam negerinya melayangkan mosi tidak percaya, dengan tuduhan bahwa perdana menteri mengambil keputusan besar tanpa berkonsultasi dengan kabinet. Meski demikian, mosi tersebut akhirnya ditarik pada Minggu, sehingga posisi Wale tetap aman.
Para analis menilai bahwa percepatan penandatanganan perjanjian ini merupakan strategi Australia untuk mengunci pengaruhnya di Kepulauan Solomon sebelum terjadi perubahan politik yang tidak terduga. Dengan adanya paket bantuan yang besar, Australia berharap dapat membangun kepercayaan jangka panjang dan mengurangi ruang gerak China di kawasan tersebut. Namun, efektivitas strategi ini masih dipertanyakan, mengingat China juga telah menanamkan investasi signifikan di berbagai proyek infrastruktur di Pasifik.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana respons China terhadap langkah Australia ini. Apakah Beijing akan meningkatkan tekanannya atau justru mencari celah diplomasi lain? Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa Pasifik bukan lagi sekadar arena persaingan ideologis, melainkan wilayah yang penuh dengan kepentingan ekonomi dan keamanan yang saling terkait. Indonesia perlu memperkuat perannya sebagai kekuatan regional yang menjembatani dialog, sambil tetap menjaga kedaulatan dan kepentingan nasionalnya.


