Bandara Soetta Lumpuh Total: 119 Ribu Penumpang Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau
Baca dalam 60 detik
- Penutupan Bandara Soekarno-Hatta hingga tengah malam akibat abu vulkanik memicu pembatalan 923 penerbangan.
- Ribuan calon penumpang, termasuk yang menuju Makassar dan Denpasar, terkatung-katung tanpa kepastian jadwal baru.
- Operasional bandara diprediksi pulih bertahap, namun risiko gangguan serupa masih mengintai sepanjang aktivitas vulkanik berlanjut.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang kembali menjadi sorotan setelah lumpuh total akibat hujan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Penutupan yang berlangsung sejak Minggu pagi hingga pukul 23.59 WIB itu telah menyeret 119.215 penumpang ke dalam kekacauan, memaksa ribuan orang bertahan di terminal atau mencari alternatif lain.
Pantauan di Terminal 2 pada malam hari memperlihatkan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk biasanya. Deretan kursi yang biasanya penuh sesak kini hanya diisi segelintir penumpang yang memilih menunggu, sebagian tampak terlelap dengan barang bawaan di pangkuan. Di sudut lain, loket layanan pelanggan justru menjadi titik paling ramai, dipenuhi calon penumpang yang berusaha mendapatkan informasi atau mengurus pembatalan tiket.
Alfonso, seorang pria berusia 50 tahun yang hendak terbang ke Makassar bersama empat rekannya, mengaku sudah menunggu sejak siang. "Kami datang lagi ke sini karena sempat ada kabar bandara tutup. Sampai sekarang belum ada kepastian kapan dibuka," ujarnya. Ia bersama rombongan telah menyiapkan rencana cadangan, termasuk mencari hotel di sekitar bandara dan menjajaki opsi berangkat dari bandara lain. Sementara itu, Wawan (35) yang seharusnya pulang ke Denpasar memilih bertahan setelah tiketnya batal. "Sudah refund, tapi saya masih berharap besok ada penerbangan. Di Jakarta masih ada urusan pekerjaan," tuturnya.
Angka tersebut merupakan akumulasi dari pembatalan, keterlambatan, hingga pengalihan pendaratan ke bandara-bandara alternatif seperti Husein Sastranegara di Bandung dan Kertajati di Majalengka. Yudistiawan, pejabat komunikasi PT Angkasa Pura Indonesia untuk Bandara Soekarno-Hatta, mengonfirmasi bahwa dampak terbesar dialami rute domestik, yang mencakup 72 persen dari total penerbangan terganggu. "Kami terus berkoordinasi dengan maskapai dan otoritas penerbangan untuk memulihkan operasional secepatnya," katanya.
Bagi Indonesia, peristiwa ini bukan sekadar gangguan transportasi. Bandara Soekarno-Hatta adalah gerbang utama ekonomi nasional, dengan lalu lintas penumpang rata-rata 200 ribu orang per hari. Setiap jam penutupan berpotensi merugikan sektor pariwisata, logistik, dan bisnis MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang bergantung pada konektivitas udara. Para analis memperkirakan kerugian ekonomi langsung dari penutupan selama lebih dari 12 jam ini bisa mencapai ratusan miliar rupiah, belum termasuk biaya kompensasi maskapai dan dampak rantai pasok kargo.
Di sisi lain, respons cepat otoritas bandara dalam menyebarkan informasi dan menyediakan opsi pengalihan patut diapresiasi. Namun, keluhan penumpang seperti yang disampaikan Alfonso menyoroti perlunya standar komunikasi krisis yang lebih jelas, termasuk mekanisme kompensasi yang transparan. Pengalaman ini menjadi ujian bagi kesiapan infrastruktur penerbangan nasional dalam menghadapi bencana alam yang semakin tidak terduga.
Ketika langit di atas Selat Sunda masih diselimuti abu vulkanik, pertanyaan besarnya bukan hanya kapan Bandara Soetta beroperasi normal, tetapi apakah Indonesia telah memiliki sistem mitigasi yang cukup untuk menghadapi erupsi serupa di masa depan? Dengan status siaga Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi, industri penerbangan dan para pemangku kepentingan harus segera mengevaluasi protokol darurat merekaโbukan hanya untuk memulihkan hari ini, tetapi untuk melindungi jutaan penumpang dari ketidakpastian yang lebih panjang di kemudian hari.



