Misi Penyelamatan di Nepal: Harapan Baru di Tengah Bencana yang Menewaskan Lebih dari 1.300 Jiwa
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat berhasil mengevakuasi seorang perempuan Nepal dan seorang pria China dari reruntuhan lumpur di kawasan proyek PLTA, 10 hari pasca-bencana.
- Bencana yang dipicu runtuhnya gletser di perbatasan China-Nepal telah menewaskan sedikitnya 1.375 orang dan menyebabkan lebih dari 5.500 orang hilang.
- Indonesia, yang kerap menghadapi bencana hidrometeorologi, dapat menarik pelajaran penting dari respons darurat dan koordinasi internasional yang ditunjukkan Nepal.

Sepuluh hari setelah gelombang lumpur dahsyat menghantam kawasan perbatasan China-Nepal, tim penyelamat kembali menorehkan secercah harapan. Seorang perempuan Nepal berusia 64 tahun, Chandrika Shrestha, ditemukan hidup di dalam rumahnya yang terkubur lumpur di Distrik Nuwakot. Beberapa jam sebelumnya, seorang pekerja asal China bernama Luhaitao juga berhasil dievakuasi dari terowongan proyek PLTA Upper Trishuli-1 di Distrik Rasuwa setelah terperangkap selama berhari-hari.
Peristiwa ini bermula pada 26 Agustus lalu, ketika runtuhnya gletser dan batuan memicu longsoran besar yang menyerupai tsunami lumpur, menyapu permukiman dan proyek infrastruktur di sepanjang lembah sungai. Lebih dari 1.300 jenazah telah ditemukan di Nepal, sementara otoritas setempat memperkirakan sekitar 5.000 orang masih belum ditemukan. Di sisi China, laporan media pemerintah menyebut 31 orang tewas dan 531 lainnya hilang. Total korban jiwa kini mencapai 1.375 orang, dengan lebih dari 5.500 orang dinyatakan hilang.
Operasi penyelamatan yang berlangsung intensif ini melibatkan personel tentara Nepal, polisi bersenjata, serta para ahli dari India, China, Australia, dan Korea Selatan. Mereka bahu-membahu menyisir puing-puing dan terowongan proyek listrik yang hancur. Sejauh ini, sedikitnya 12 proyek PLTA dilaporkan rusak parah, dan ratusan pekerja proyek menjadi korban. Dua pekerja Nepal juga berhasil diselamatkan pada Jumat lalu dari terowongan Trishuli 3A, memberikan harapan bahwa masih ada yang selamat di antara reruntuhan.
Wakil Inspektur Polisi Iqbal Hawari, yang memimpin evakuasi Chandrika Shrestha, menuturkan bahwa timnya menemukan perempuan itu saat sedang membersihkan area terdampak. โIa telah diterbangkan ke Kathmandu untuk mendapatkan perawatan medis,โ ujarnya. Video yang dirilis Kepolisian Bersenjata Nepal memperlihatkan hanya sebagian atap rumah yang terlihat, sementara lantai bawahnya tertimbun lumpur tebal. Kondisi ini menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan material yang menerjang kawasan tersebut.
Kepala Staf Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, menyatakan bahwa pencarian masih terus dilakukan di sejumlah terowongan. โKami masih berupaya menemukan kemungkinan adanya korban selamat di dalam terowongan,โ katanya. Namun, tantangan besar menghadang: selain medan yang sulit, kamar mayat di rumah sakit setempat sudah penuh. Otoritas Nepal terpaksa menguburkan 1.030 jenazah dalam kuburan massal setelah mengambil sampel DNA untuk identifikasi di masa mendatang.
Bencana di Nepal ini menjadi pengingat pahit akan risiko geologis yang dihadapi kawasan Himalaya, yang juga berimplikasi bagi Indonesia. Sebagai negara dengan banyak gunung berapi dan daerah aliran sungai yang rawan longsor, Indonesia menghadapi ancaman serupa, terutama di kawasan seperti Papua dan Jawa Barat. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, saat dihubungi terpisah, menekankan pentingnya sistem peringatan dini berbasis komunitas dan tata kelola lahan yang ketat untuk meminimalkan korban jiwa. โNepal menunjukkan bahwa koordinasi internasional dan pelatihan penyelamatan terowongan sangat krusial,โ ujarnya.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana negara-negara berkembang dapat memperkuat infrastruktur mereka menghadapi bencana yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim. Akankah tragedi ini mendorong reformasi kebijakan penanggulangan bencana yang lebih progresif di kawasan Asia? Hanya waktu yang akan menjawab, namun setiap nyawa yang berhasil diselamatkan hari ini adalah bukti bahwa kerja keras dan solidaritas lintas batas tidak pernah sia-sia.



