Liverpool Gagal Dapat Malo Gusto di Deadline Day, Sinyal Besar untuk Lini Belakang
Baca dalam 60 detik
- Liverpool mengajukan tawaran pinjaman untuk bek kanan Chelsea, Malo Gusto, pada hari terakhir bursa transfer, namun ditolak karena Chelsea hanya melepas dengan status permanen.
- Penampilan buruk Jeremie Frimpong, yang kerap menjadi sasaran serangan lawan, menjadi alasan utama The Reds mencari pengganti di posisi tersebut.
- Kegagalan ini memaksa Liverpool untuk menunda perombakan lini belakang hingga bursa transfer musim dingin atau musim panas mendatang.

Liverpool memasuki bursa transfer Januari dengan ambisi besar untuk merombak skuad, namun hingga detik-detik terakhir deadline day, mereka gagal mendatangkan bek kanan baru. Klub asal Merseyside itu dikabarkan telah mengajukan tawaran pinjaman untuk Malo Gusto dari Chelsea, tetapi tawaran tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh The Blues. Penolakan ini menjadi pukulan telak bagi rencana perombakan lini belakang yang sudah lama dinanti para pendukung.
Kebutuhan Liverpool akan bek kanan baru bukanlah isu baru. Sejak kedatangan Jeremie Frimpong pada musim panas lalu dengan banderol £29,5 juta, ekspektasi publik sangat tinggi. Pemain asal Belanda itu dianggap sebagai salah satu talenta paling menarik di Bundesliga saat masih diasuh Xabi Alonso di Bayer Leverkusen. Namun, adaptasinya di Premier League jauh dari kata mulus. Cedera hamstring yang berkepanjangan membuatnya hanya tampil sebagai starter dalam 12 pertandingan liga musim lalu, dan performanya saat fit pun dinilai mengecewakan.
Musim ini, Frimpong kembali menunjukkan performa yang jauh dari harapan. Dalam laga melawan Nottingham Forest yang berakhir imbang 2-2 akhir pekan lalu, ia tampil sangat buruk. Ia kehilangan bola sebanyak 11 kali dan gagal melepaskan satu pun umpan silang yang akurat. Bahkan, menurut pengamat Liverpool Echo, Ian Doyle, penampilannya 'tidak konsisten' dalam bertahan, sehingga ia hanya diberi nilai 4/10 dan ditarik keluar 20 menit sebelum laga usai. Kondisi ini membuat para penggemar merindukan kehadiran Conor Bradley yang tengah cedera.
Ketidakpuasan terhadap Frimpong mendorong manajemen Liverpool untuk bergerak di hari terakhir bursa. Mereka mencoba meminjam Malo Gusto dari Chelsea, pemain yang dikenal solid secara defensif. Namun, Chelsea hanya bersedia melepas Gusto dengan status permanen, dengan banderol mencapai £75 juta—angka yang jauh lebih tinggi dari £30 juta yang mereka bayarkan saat membawanya dari Lyon. Liverpool pun menolak, mengingat kebijakan transfer mereka yang cenderung hati-hati dalam pengeluaran besar.
Perbandingan statistik antara Gusto dan Frimpong musim ini menunjukkan perbedaan yang mencolok. Frimpong memang unggul dalam dribel sukses dan progressive carries, tetapi Gusto jauh lebih baik dalam aspek defensif. Ia lebih banyak melakukan tekel, intersep, dan recovery bola. Yang paling krusial, Gusto jauh lebih jarang dilewati lawan per 90 menit dibanding Frimpong. Ini menunjukkan bahwa Liverpool sebenarnya mencari profil bek kanan yang lebih seimbang, tidak hanya mengandalkan kemampuan menyerang.
Kegagalan mendatangkan Gusto menyoroti ketimpangan kebijakan transfer Liverpool. Dalam setahun terakhir, mereka menggelontorkan dana besar untuk lini serang, seperti Isak, Barcola, dan Wirtz, sementara lini belakang nyaris tidak tersentuh. Kedatangan Ronald Araujo dengan status pinjaman dan Jeremie Jacquet dengan biaya besar dianggap belum cukup untuk menambal lubang di posisi full-back. Manajemen klub, FSG, tampaknya lebih fokus pada produktivitas gol daripada keseimbangan tim secara keseluruhan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk dicermati. Liverpool adalah klub dengan basis penggemar besar di Indonesia, dan kebijakan transfer mereka sering menjadi bahan diskusi hangat. Kegagalan mendatangkan Gusto bisa menjadi pelajaran bahwa investasi di lini belakang sama pentingnya dengan lini depan. Jika Liverpool terus mengabaikan sektor ini, bukan tidak mungkin mereka akan kesulitan bersaing di level tertinggi, baik domestik maupun Eropa.
Ke depannya, Liverpool diprediksi akan kembali mencoba mendatangkan bek kanan baru pada bursa transfer musim dingin atau musim panas mendatang. Pertanyaannya, apakah mereka akan berani mengeluarkan dana besar untuk pemain sekaliber Gusto, atau justru mencari alternatif yang lebih murah? Keputusan ini akan menentukan arah kebijakan transfer klub di masa depan, sekaligus menjawab keraguan para penggemar tentang komitmen manajemen dalam membangun skuad yang kompetitif.



