Megawati: Surabaya Dapur Nasionalisme, Kader Jatim Diminta Kembalikan Kejayaan Kandang Banteng
Baca dalam 60 detik
- Megawati menegaskan kembali status Surabaya sebagai pusat penggemblengan ideologi Bung Karno, merujuk pada sejarah pendidikan dan perjuangannya di kota tersebut.
- Instruksi konsolidasi partai difokuskan pada penguatan basis akar rumput dan militansi kader, dengan target perolehan kursi setara Pemilu 2019.
- Pernyataan ini menjadi sinyal strategi PDIP menghadapi kontestasi politik ke depan, menekankan ideologi di tengah pragmatisme yang menguat.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri secara eksplisit menyebut Surabaya sebagai "Dapur Nasionalisme", menegaskan posisi strategis Jawa Timur dalam sejarah pembentukan ideologi kebangsaan. Pernyataan ini disampaikan di tengah konsolidasi partai di Surabaya, Minggu, yang tidak hanya menjadi ajang nostalgia historis, tetapi juga panggung instruksi politik bagi kader di provinsi yang dikenal sebagai kandang banteng tersebut.
Bagi Megawati, Jawa Timur bukan sekadar wilayah administratif. Di mata Ketua Umum PDIP ini, provinsi itu adalah laboratorium tempat Bung Karno menempa diri menjadi pemikir dan pejuang. Ia merujuk pada masa muda Soekarno yang menempuh pendidikan di HBS Surabaya dan berguru pada H.O.S. Tjokroaminoto, hidup dalam keterbatasan fisik di sebuah ruangan sempit tanpa jendela, namun justru dari sanalah lahir gagasan-gagasan besar yang kelak menjadi fondasi republik.
Dalam pengarahannya, Megawati tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia dengan tajam mengaitkan sejarah tersebut dengan kondisi kekinian partai. Di tengah pragmatisme politik yang dinilai semakin menggerus nilai-nilai perjuangan, ia mengingatkan bahwa kekuatan utama PDIP tidak terletak pada materi atau kekuasaan, melainkan pada ideologi, militansi, dan kedekatan dengan rakyat. Pesan ini menjadi kritik tersirat terhadap gaya politik yang semakin transaksional, sekaligus ajakan untuk kembali ke akar perjuangan.
Instruksi konkret pun diberikan: perkuat basis akar rumput, bangun ikatan emosional dengan masyarakat, dan jadikan semangat penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi. Megawati juga menargetkan Jawa Timur kembali menjadi "Kandang Banteng" dengan perolehan kursi minimal menyamai capaian Pemilu 2019. Target ini bukan sekadar angka, melainkan ujian bagi militansi kader yang menurutnya telah teruji sejak era Orde Baru, dengan merujuk pada perlawanan di Pandegiling dan Sukolilo sebagai bukti sejarah.
Pernyataan Megawati ini tidak bisa dilepaskan dari konteks politik nasional yang dinamis. Di tengah upaya partai untuk tetap relevan dan kompetitif, penegasan identitas ideologis menjadi penting. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah apakah romantisme sejarah dan instruksi konsolidasi ini cukup untuk mengembalikan kejayaan elektoral PDIP di Jawa Timur, atau justru akan berbenturan dengan realitas politik yang semakin pragmatis? Jawabannya akan terlihat pada bagaimana kader di akar rumput menerjemahkan semangat ini menjadi kerja politik nyata dalam menghadapi kontestasi mendatang.



