Transfer Savinho ke Tottenham: Bukti Nyata Model Multi-Klub City Football Group
Baca dalam 60 detik
- Kepindahan Savinho ke Tottenham dengan nilai £75 juta menjadi rekor penjualan termahal Manchester City, menunjukkan efektivitas model bisnis multi-klub.
- City Football Group meraup keuntungan hampir £70 juta dari pemain yang diboyong dari Brasil, menegaskan peran penting trading pemain dalam industri sepak bola modern.
- Keberhasilan ini memicu pertanyaan tentang keberlanjutan model tersebut, terutama setelah kegagalan mempertahankan talenta seperti Cole Palmer dan Morgan Rogers.

Kesepakatan transfer Savinho ke Tottenham Hotspur dengan nilai mencapai £75 juta plus bonus £10 juta bukan sekadar rekor penjualan baru bagi Manchester City. Lebih dari itu, transaksi ini menjadi bukti nyata bagaimana model bisnis multi-klub yang dijalankan City Football Group (CFG) mampu mengubah pemain muda menjadi aset finansial yang menggiurkan dalam kurun waktu singkat.
Savinho, winger asal Brasil berusia 22 tahun, direkrut CFG pada 2022 melalui klub satelitnya di Prancis, Troyes, dengan biaya yang saat itu memecahkan rekor klub. Namun, ia tak pernah sekalipun memperkuat Troyes. Alih-alih, ia dipinjamkan ke PSV Eindhoven pada musim 2022-2023, lalu ke Girona, klub milik CFG di Spanyol, pada musim berikutnya. Di Girona, performa Savinho melejit: 37 penampilan liga, sembilan gol, dan delapan assist, yang mengantarkan klub promosi tersebut lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya.
Penampilan impresif itu mendorong Manchester City untuk menebusnya dari Troyes dengan biaya £30,8 juta pada 2024. Meski kontribusinya di Premier League selama dua musim terbilang biasa—dua gol dan 12 assist—nilai jualnya justru meroket. Penjualan ke Tottenham, yang kabarnya mengejutkan banyak pihak, diperkirakan menghasilkan keuntungan bersih hampir £70 juta jika semua klausul bonus terpenuhi. Angka ini menjadi sorotan utama dalam industri yang kian mengandalkan perdagangan pemain sebagai pilar finansial.
Direktur Sepak Bola Girona, Quique Carcel, mengungkapkan bahwa klubnya sebenarnya ingin mempertahankan Savinho lebih lama, terutama setelah lolos ke Liga Champions. Namun, minat Pep Guardiola dan Txiki Begiristain membuat pemain itu tak ragu bergabung dengan skuad utama City. "Begitu ada ketertarikan dari Pep dan Txiki, tentu saja pemain tidak ragu," ujarnya. Sementara itu, Brian Marwood, Managing Director Global Football CFG, menyebut kesuksesan ini sebagai buah dari sistem pembinaan yang terstruktur. "Kami menciptakan jalur bagi pemain, dan kredit untuknya karena dia bermain di salah satu liga terbaik dunia," katanya.
Konteks Indonesia: Bagi pengamat sepak bola Tanah Air, model CFG ini relevan dengan wacana pengelolaan klub modern yang mulai mengemuka di liga domestik. Beberapa klub Indonesia mulai melirik pendekatan bisnis serupa, meski dalam skala lebih kecil. Keberhasilan CFG menunjukkan bahwa investasi jangka panjang pada pemain muda, dengan jaringan klub di berbagai negara, dapat menjadi sumber pendapatan signifikan. Namun, perlu dicatat bahwa model ini juga berisiko, seperti yang terlihat dari kepergian pemain-pemain potensial seperti Cole Palmer dan Morgan Rogers yang justru bersinar di klub lain.
Manchester City, sebagai entitas terpisah, memang telah lama dikenal agresif dalam menjual pemain didikan akademi. Nama-nama seperti Morgan Rogers, Douglas Luiz, Cole Palmer, dan Liam Delap adalah contoh nyata. Rogers, yang dijual ke Middlesbrough seharga £8 juta pada 2024, kini bernilai £117 juta setelah pindah ke Chelsea. Palmer, yang dilepas ke Chelsea dengan harga £40 juta pada 2023, kini diperkirakan memiliki nilai serupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa City kadang terlalu cepat melepas talenta muda, sebuah pelajaran berharga bagi klub mana pun.
Kini, setelah Savinho hengkang, CFG kembali fokus pada kader-kader berikutnya. Nama-nama seperti Ryan McAidoo (18 tahun), Shin Miidera (16 tahun, dari Yokohama F. Marinos), Cavan Sullivan (16 tahun, dari Philadelphia Union), dan Vitor Reiss (sedang dipinjamkan ke Girona) menjadi harapan baru. Marwood menegaskan bahwa tantangan terbesar adalah menemukan pengganti Savinho berikutnya. "Kami harus melihat tiga atau empat tahun ke depan," ujarnya. Pertanyaannya, akankah model ini terus berkelanjutan, atau justru menjadi bumerang bagi klub-klub yang kehilangan bintang mudanya?



