Shin Tae-yong Enggan Nilai 5 Pemain Persija di Timnas, Alasan Menit Bermain Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Shin Tae-yong menolak menilai kontribusi lima pemain Persija di FIFA ASEAN Cup 2026 karena minimnya menit bermain.
- Rizky Ridho jadi satu-satunya yang tampil di empat laga, sementara Jordi Amat dan Nadeo Argawinata nol menit.
- Kritik ini membuka diskusi soal rotasi Timnas dan kesiapan pemain klub menjelang agenda padat berikutnya.

Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, menyatakan tidak bisa memberikan penilaian objektif terhadap lima pemainnya yang memperkuat Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026. Alasan utamanya bukan soal kualitas, melainkan menit bermain yang sangat terbatas sepanjang turnamen.
Lima pemain Persija yang masuk skuad juara itu adalah Rizky Ridho, Rayhan Hannan, Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Nadeo Argawinata. Dari kelimanya, hanya Ridho yang rutin diturunkan. Bek 24 tahun itu tampil di empat pertandingan, tetapi cuma sekali sebagai starter, dengan total 139 menit dan satu gol. Hannan dua kali masuk sebagai pengganti (26 menit), Shayne sekali (19 menit), sedangkan Jordi dan Nadeo tidak pernah merumput.
Shin Tae-yong mengungkapkan kesulitannya menilai pemain yang hanya mendapat jatah waktu singkat. "Kalau ada pemain yang bermain, baru bisa saya menilainya. Hampir tidak ada yang bisa bermain," ujarnya sebelum memimpin latihan di Persija Training Ground, Depok, Rabu (7/10/2026). Ia mencontohkan Hannan yang baru mulai menemukan ritme ketika pertandingan hampir usai. "Baru mau mencapai kondisi napas yang maksimal, pertandingan sudah berakhir," tambahnya.
Pelatih asal Korea Selatan itu menyoroti aspek fisiologis: pemain yang masuk sekitar 10 menit terakhir baru beradaptasi dengan intensitas ketika waktu tersisa sedikit. "Itulah bagian yang paling sulit," tegasnya. Situasi ini bukan kasus tunggal. Di banyak tim nasional, pemain dari klub tertentu kerap menjadi pelapis karena persaingan posisi dan taktik yang lebih condong ke pemain yang sudah matang di level internasional.
Bagi Persija, kondisi ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, lima pemainnya meraih prestasi internasional. Di sisi lain, minimnya menit bermain berpotensi menghambat perkembangan dan kebugaran mereka untuk kompetisi domestik. Klub punya kepentingan agar pemain kembali dalam kondisi terbaik, bukan hanya sebagai pelengkap skuad di turnamen.
Kritik Shin Tae-yong juga menyentuh manajemen rotasi Timnas. Dengan jadwal FIFA Matchday yang padat, termasuk laga melawan Oman dan Mozambik, pelatih kepala timnas perlu mempertimbangkan pemberian menit bermain yang lebih merata. Tujuannya bukan sekadar mengakomodasi kepentingan klub, tetapi juga memperluas basis pemain siap pakai di level internasional.
"Ketika seorang pemain masuk sekitar 10 menit terakhir, justru pada saat itulah tubuh mulai mencapai kondisi maksimal dan napas mulai terbuka, tetapi pertandingan sudah berakhir. Itulah bagian yang paling sulit." โ Shin Tae-yong
Ke depan, pertanyaannya apakah federasi dan timnas akan menyesuaikan pola rotasi agar pemain dari klub-klub Liga 1 mendapat porsi lebih adil. Jika tidak, potensi konflik kepentingan antara klub dan timnas bisa mencuat, terutama menjelang turnamen besar berikutnya. Shin Tae-yong sendiri tampaknya akan terus menyuarakan pentingnya menit bermain sebagai dasar penilaian, bukan sekadar status juara.



