Man City Terancam Pemotongan 60 Poin, Sinyal Sanksi Terberat di Sejarah Premier League
Baca dalam 60 detik
- Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 pelanggaran aturan Premier League oleh komisi independen dan langsung mengajukan banding pada 1 Oktober 2026.
- Wartawan talkSPORT Alan Brazil mengklaim mendengar informasi dari sumber di Manchester bahwa City bisa dikenai pengurangan 60 poin.
- Jika benar, City harus mengumpulkan 100 poin untuk mencapai ambang aman 40 poin—sebuah target yang nyaris mustahil dalam satu musim.

Manchester City berada di pusat badai terbesar dalam sejarah Premier League setelah komisi independen menyatakan klub itu bersalah atas 114 pelanggaran aturan kompetisi. Hukuman apa yang menanti masih menjadi teka-teki, namun laporan terbaru dari talkSPORT menyebut angka yang menggetarkan: pengurangan 60 poin.
Kabar itu pertama kali dilontarkan Alan Brazil saat siaran langsung talkSPORT. Ia mengaku mendapat informasi dari sumber di Manchester, meski ia sendiri membuka kemungkinan bahwa kabar tersebut belum terverifikasi. "Saya mendengar akan ada pemotongan 60 poin," ujar Brazil, seraya menambahkan bahwa ia tidak tahu apakah sanksi itu akan diterapkan musim ini atau musim berikutnya. Pernyataan itu langsung memicu spekulasi luas di kalangan penggemar dan pengamat.
Jika angka tersebut benar-benar dijatuhkan, konsekuensinya bisa sangat brutal. Dengan pengurangan 60 poin, City harus mengumpulkan total 100 poin hanya untuk mencapai ambang 40 poin—batas yang selama ini dianggap cukup untuk bertahan di Premier League. Dalam sejarah kompetisi, belum ada tim yang mampu meraih 100 poin dalam satu musim, kecuali City sendiri pada musim 2017/18. Artinya, hukuman itu praktis akan mengunci mereka di zona degradasi sejak awal musim.
City tidak tinggal diam. Klub asuhan Pep Guardiola itu telah mengajukan banding pada 1 Oktober 2026, dengan argumen bahwa putusan komisi mengandung kesalahan hukum, prinsip, dan fakta yang mendasar. Dalam pernyataan resminya, manajemen City menegaskan bahwa keputusan tersebut "tidak aman" dan mereka memiliki dasar kuat untuk melawan. Langkah ini menunjukkan bahwa pertarungan hukum masih panjang dan bisa berlarut-larut.
"City mengajukan banding karena mereka yakin punya bukti dan alasan, tetapi juga karena mereka telah membayar orang-orang berpengalaman untuk mengikuti sidang selama 11 minggu. Mereka terkejut dengan putusan bersalah karena feeling setelah 11 minggu sama sekali bukan 'kami kalah di semua tuduhan'. Ada anggapan bahwa mata yang berbeda mungkin punya pandangan berbeda," kata Simon Bajkowski, penulis senior Manchester Evening News.
Bajkowski menyoroti bahwa kejutan di internal City muncul karena tim hukum mereka yang mahal dan berpengalaman merasa proses berjalan tidak sesuai ekspektasi. Ini memunculkan spekulasi bahwa banding bisa mengubah hasil akhir, meski secara hukum prosesnya rumit dan memakan waktu.
Yang membuat kasus ini kian pelik adalah rentang waktu pelanggaran yang sangat panjang—sembilan tahun. Banyak pihak menilai pemotongan poin satu musim tidak sebanding dengan pelanggaran yang terjadi hampir satu dekade. Klub-klub rival dikabarkan mendesak hukuman yang lebih berat, termasuk kemungkinan pencabutan gelar juara. Namun, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai bentuk sanksi final.
Pakar sepak bola Eropa menilai bahwa apa pun hasilnya, kasus ini akan menjadi preseden bagi penegakan aturan finansial di liga-liga top Eropa. Jika City lolos dengan sanksi ringan, kredibilitas Premier League bisa dipertanyakan. Sebaliknya, hukuman ekstrem seperti 60 poin akan menandai era baru disiplin kompetisi.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika ini menjadi cermin betapa seriusnya tata kelola klub di liga maju. Sementara Liga 1 masih bergulat dengan masalah kepatuhan finansial dan regulasi, kasus City menunjukkan bahwa bahkan klub raksasa dengan sumber daya tak terbatas pun bisa diadili. Ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi PSSI dan operator liga dalam menegakkan aturan tanpa pandang bulu.
Pertanyaannya kini: akankah banding City berhasil meringankan hukuman, atau justru memperberat karena dianggap tidak kooperatif? Dan jika benar 60 poin dipotong, apakah Premier League siap menghadapi badai hukum dan protes dari klub-klub besar? Satu hal yang pasti, sepak bola Inggris sedang menuju babak baru yang penuh ketidakpastian.



