Wales Berbenah di Tengah Tekanan: Target Bangkit dari Peringkat 12 dan Kunci Tiket Piala Dunia 2029
Baca dalam 60 detik
- Timnas rugbi putri Wales menjalani kamp pelatihan intensif untuk memperbaiki fisik dan performa setelah sembilan kekalahan beruntun.
- Deretan lawan tangguh di WXV, termasuk Afrika Selatan dan Jepang, menjadi ujian awal sebelum kualifikasi Piala Dunia 2029.
- Kesuksesan di musim gugur ini akan menentukan peluang Wales tampil di turnamen global dan tur Lions putri pertama ke Selandia Baru.

Timnas rugbi putri Wales tengah berjuang keras di kamp pelatihan untuk keluar dari keterpurukan. Setelah menelan sembilan kekalahan beruntun dan terpuruk ke peringkat 12 dunia, skuad asuhan Sean Lynn bertekad membalikkan keadaan. Dengan persiapan fisik yang digenjot habis-habisan, mereka membidik hasil positif di ajang WXV Global Series yang akan dimulai bulan depan.
Di pusat pelatihan Wales, para pemain seperti Alisha Joyce dan Georgia Evans terlihat kelelahan setelah sesi spin bike yang melelahkan. Mereka jatuh ke lantai sambil berusaha mengatur napas, sementara pelatih kepala Sean Lynn memberikan semangat dengan tepukan di punggung. Suasana latihan memang keras, tetapi itu adalah bagian dari rencana untuk membangun tim yang lebih kompetitif. Pelatih kekuatan dan kondisi fisik, Gareth Harris, menegaskan bahwa timnya sadar akan kelemahan fisik yang harus segera diperbaiki. "Kami tahu posisi kami secara fisik, dan ini tentang mengubah arah. Banyak pemain yang pegal, tapi itu wajar, semua sudah direncanakan," ujarnya.
Wales akan memulai kampanye WXV melawan Afrika Selatan di Cardiff Arms Park pada 18 September, disusul laga kandang melawan Amerika Serikat pada 26 September. Setelah itu, mereka terbang ke Jepang untuk dua pertandingan uji coba pada 23 dan 31 Oktober. Ketiga lawan tersebut berada di atas Wales dalam peringkat dunia. Meski sempat meraih kemenangan atas Barbarians pada Juni lalu, Lynn dan timnya sadar masih banyak kekurangan, terutama dalam hal kebugaran. Karena itu, sesi interval run yang intensif menjadi menu utama latihan mereka.
Harris, yang bergabung dengan Wales sebelum Piala Dunia Rugbi tahun lalu, mengaku terkesan dengan sikap para pemain. "Mereka benar-benar menunjukkan bahwa ini penting bagi kami. Kami ingin menjadi lebih baik, menjadi tim terbaik. Kami tidak hanya ingin tampil di panggung internasional, tapi ingin mendominasi pertandingan," katanya. Ia menambahkan bahwa para pemain memiliki rasa kepemilikan terhadap standar tim dan saling menuntut untuk bertanggung jawab. "Saya pikir kita akan melihat Wales yang berbeda kali ini," ujarnya optimistis.
Optimisme serupa disampaikan pelatih barisan depan, Steve Salvin. Ia merasa staf pelatih kini lebih kompak setelah sebelumnya bekerja secara terpisah saat Six Nations. "Kami seperti bekerja dalam silo untuk menyelesaikan masalah. Sekarang kami bisa lebih kohesif dan kolektif dalam cara kami melakukan segala sesuatu," jelas Salvin. Ia menekankan bahwa tim perlu tampil penuh selama 80 menit, bukan hanya 50-60 menit seperti yang terjadi di Six Nations. "Jika kami bisa melakukan itu, kami akan punya peluang lebih besar untuk meraih hasil yang baik," tambahnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bagaimana sebuah tim nasional berbenah di tengah tekanan. Meski rugbi putri belum sepopuler di Indonesia, kisah Wales bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen performa dan pembinaan atlet yang berkelanjutan. Terlebih, dengan adanya WXV yang terhubung ke kualifikasi Piala Dunia 2029, setiap pertandingan menjadi krusial. Wales yang pernah berada di peringkat keenam dunia kini harus bekerja ekstra untuk mengembalikan kejayaan mereka.
Lynn, yang baru menjabat sejak Maret 2025, baru merasakan dua kemenangan. Namun, seri musim gugur ini dipandang sebagai peluang besar untuk mengumpulkan poin dan menanjak di peringkat dunia. Dengan target jangka panjang menuju Piala Dunia 2029 dan tur Lions putri yang bersejarah, tekanan memang besar. Namun, para pemain dan pelatih tampak siap menghadapi tantangan. Pertanyaannya, akankah kerja keras di kamp pelatihan ini berbuah manis saat pertandingan sesungguhnya dimulai?



