Sengketa Kontrak Mateta: Klaim 10 Bulan Terakhir Tidak Sah, Crystal Palace Terancam Kehilangan Bintangnya
Baca dalam 60 detik
- Mateta membawa sengketa klausul perpanjangan kontraknya ke FIFA setelah pengadilan internal Premier League menolak gugatannya.
- Keputusan FIFA yang menolak membatalkan kontrak membuat pemain Prancis itu tetap terikat hingga 2027, namun potensi hengkang masih terbuka.
- Situasi ini menambah ketidakpastian di kubu Crystal Palace yang baru saja kalah di laga pembuka dan kehilangan sejumlah pemain kunci karena cedera.

Penyerang internasional Prancis, Jean-Philippe Mateta, secara resmi menggugat keabsahan sisa kontraknya bersama Crystal Palace ke FIFA. Langkah ini diambil setelah upaya hukum di internal Liga Premier Inggris gagal, menyusul klaim bahwa 10 bulan terakhir masa baktinya di Selhurst Park tidak sah. Jika gugatan diterima, pemain berusia 29 tahun itu berpotensi menjadi agen bebas lebih awal, sebuah skenario yang jelas tidak diinginkan klub.
Perseteruan ini berakar dari struktur kontrak yang rumit. Mateta tiba pada 2021 sebagai pemain pinjaman dari Mainz 05, lalu dikontrak permanen pada Januari 2022 dengan durasi empat setengah tahun plus opsi perpanjangan 12 bulan. Palace mengaktifkan opsi tersebut pada 2024, sehingga kontraknya seharusnya berakhir pada Juni 2027. Namun, Mateta berargumen bahwa perpanjangan otomatis itu tidak sah dan kasusnya telah disidangkan oleh tribunal independen di bawah naungan Premier League. Meski hasil resmi tidak diumumkan, sumber BBC Sport menyebut kontrak tersebut tetap dianggap mengikat.
Setelah gagal di level domestik, Mateta membawa perkara ini ke FIFA. Badan sepak bola dunia itu memutuskan pekan ini bahwa pembatalan kontrak di luar yurisdiksinya, sehingga praktis menutup jalan bagi pemain untuk bebas lebih awal. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi ambisi Mateta yang sejak Januari lalu berusaha keras meninggalkan Palace. Ketertarikannya pada AC Milan sempat mengemuka, namun batal karena masalah pada lututnya.
Bagi Crystal Palace, kekalahan 0-2 dari Everton di laga pembuka Premier League akhir pekan lalu menjadi gambaran awal musim yang suram. Selain kabar kontrak Mateta, manajer anyar Pierre Sage juga harus menghadapi kenyataan pahit: gelandang serang Ismaila Sarr absen karena cedera pangkal paha, sementara bek Chadi Riad ditarik keluar dengan tandu akibat cedera lutut serius. Riad sendiri sudah berkali-kali bermasalah dengan lututnya sejak bergabung pada 2024, bahkan sempat absen lebih dari 400 hari. Situasi ini diperparah dengan minat Galatasaray terhadap Sarr, yang membuat masa depan pemain asal Senegal itu kian tidak pasti.
Kontroversi ini menjadi babak terbaru dari hubungan naik-turun antara Mateta dan klub. Sejak kedatangan pelatih Oliver Glasner, performa Mateta meroket: ia menjadi salah satu penyerang paling konsisten di Premier League dengan torehan 46 gol dalam 109 pertandingan di semua kompetisi. Puncaknya adalah gol penentu kemenangan di final Conference League musim lalu, yang mengantar Palace meraih trofi bersejarah. Namun, ambisi besarnya untuk bermain di klub elit Eropa dan memperkuat Timnas Prancis—yang sudah ia raih dengan masuk skuad Piala Dunia—membuatnya tak betah berlama-lama di Selhurst Park.
Di tengah ketidakpastian ini, Palace sebenarnya sudah menyiapkan pengganti. Pada Januari lalu, klub merekrut Jorgen Strand Larsen dari Norwegia dengan nilai transfer hingga £48 juta. Larsen langsung menjadi favorit penggemar, yang meneriakkan namanya sebagai bentuk dukungan saat masa depan Mateta tampak akan berakhir. Namun, gagalnya transfer Mateta ke Milan membuat ia bertahan, meski sempat dicemooh sebagian suporter saat kembali dari cedera. Kini, dengan keputusan FIFA yang menolak klaimnya, Mateta harus memutuskan apakah akan menerima kenyataan atau terus berjuang di jalur hukum lain.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran penting tentang kompleksitas kontrak pemain dan kuasa klub dalam mempertahankan asetnya. Di tengah gencarnya naturalisasi pemain keturunan untuk Timnas, skenario seperti ini bisa menjadi referensi bagaimana klausul kontrak dapat menjadi medan pertarungan antara pemain dan klub. Apakah Mateta akan menyerah dan bertahan hingga kontraknya habis, atau adakah celah hukum lain yang bisa ia manfaatkan? Keputusan FIFA tampaknya telah menutup pintu, namun jalan cerita ini masih jauh dari kata selesai.



