TNI AU Kerahkan Pesawat CASA A-2117 ke Kalbar: Strategi Percepat Hujan Buatan Lawan Karhutla
Baca dalam 60 detik
- Pesawat CASA A-2117 dari Skadron Udara 4 diterbangkan dari Malang ke Kalimantan Barat untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca.
- Langkah ini menegaskan pergeseran strategi penanganan karhutla dari sekadar pemadaman ke pencegahan berbasis rekayasa cuaca.
- Ke depan, efektivitas hujan buatan akan diuji oleh kondisi atmosfer dan koordinasi lintas lembaga di lapangan.

TNI Angkatan Udara mengirimkan pesawat CASA A-2117 dari Skadron Udara 4 ke Kalimantan Barat sebagai bagian dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan yang kerap melanda provinsi tersebut. Pesawat yang berpangkalan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, itu diharapkan mempercepat proses penyemaian awan agar hujan segera turun dan memadamkan titik api yang mulai muncul.
Komandan Lanud Supadio, Marsma TNI Sidik Setiyono, menegaskan bahwa pengerahan alutsista ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat dukungan operasi udara. Menurutnya, OMC tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah membesar, tetapi juga menciptakan kondisi cuaca yang mendukung pencegahan. Dengan kata lain, hujan buatan diharapkan menjadi tameng pertama sebelum karhutla meluas.
Pesawat CASA A-2117 akan bekerja dengan menyemai bahan semai ke awan yang memenuhi syarat untuk meningkatkan peluang turunnya hujan. Kehadirannya menambah kapasitas operasi udara yang sebelumnya sudah mengandalkan patroli udara, water bombing, dan OMC. Ini berarti Kalimantan Barat kini memiliki lebih banyak alat untuk melawan ancaman kabut asap yang tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga aktivitas ekonomi dan penerbangan.
Bagi Indonesia, langkah ini bukan sekadar penambahan armada. Ia mencerminkan perubahan pendekatan dalam pengelolaan bencana, dari reaktif menjadi proaktif. Di tengah ancaman El Nino dan perubahan iklim yang membuat musim kemarau semakin kering, kemampuan rekayasa cuaca menjadi semakin krusial. Pemerintah pusat dan daerah pun dituntut untuk berinvestasi lebih besar pada teknologi ini, bukan hanya pada alat pemadam.
Sidik juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antarlembaga. Penanganan karhutla membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan koordinasi yang solid antara TNI AU, BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah. Tanpa kolaborasi yang baik, pesawat secanggih apa pun tidak akan optimal. Ia menambahkan bahwa seluruh dukungan udara akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan kebutuhan yang berkembang.
Data dari sumber menyebutkan bahwa sebelumnya 12.880 personel gabungan telah dikerahkan untuk memadamkan karhutla di Kalimantan. Namun, operasi darat saja tidak cukup. Kehadiran CASA A-2117 diharapkan menjadi pengganda kekuatan, terutama di area yang sulit dijangkau pasukan darat.
Langkah TNI AU ini juga menjadi sinyal bagi negara-negara tetangga yang kerap terkena imbas kabut asap. Ketika Indonesia serius menangani karhutla dari hulu, maka dampak lintas batas dapat diminimalkan. Ini memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi lingkungan regional, sekaligus menjaga citra di mata dunia.
Namun, pertanyaan yang muncul adalah seberapa efektif teknologi ini dalam jangka panjang. Keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, seperti kelembapan dan suhu. Jika awan tidak cukup tebal, penyemaian tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, BMKG perlu terus memantau dan memberikan data akurat agar setiap penerbangan tidak sia-sia.
Ke depan, apakah pengerahan CASA A-2117 ini akan menjadi permanen atau hanya musiman? Dengan intensitas karhutla yang cenderung meningkat, bukan tidak mungkin TNI AU akan menambah armada atau memperpanjang masa tugas. Yang jelas, komitmen untuk melindungi masyarakat dan lingkungan telah ditunjukkan, dan kini publik menunggu bukti nyata di lapangan.



