Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Capai 800 Meter: Warga Diminta Waspada Lahar
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Gunung Semeru meningkat dengan tiga letusan pada Jumat pagi, kolom abu tertinggi mencapai 800 meter.
- Status Siaga Level III masih berlaku; zona bahaya mencakup sektor tenggara hingga 13 kilometer dari puncak.
- Potensi lahar dan awan panas mengancam aliran sungai di Lumajang dan Malang, warga diimbau menjauhi bantaran sungai.

Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan tiga kali erupsi pada Jumat pagi, yang terakhir melontarkan kolom abu setinggi 800 meter di atas puncak, memicu peringatan bagi warga di sekitar Lereng Semeru untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar dan awan panas.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru di Lumajang, erupsi pertama terjadi pada pukul 05.02 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter, disusul letusan kedua pada 05.17 WIB yang mencapai 700 meter. Erupsi ketiga dan terbesar terjadi pada 06.20 WIB, dengan kolom abu teramati setinggi 800 meter atau 4.476 meter di atas permukaan laut. Petugas Pos Pengamatan, Liswanto, mengonfirmasi bahwa erupsi masih berlangsung saat laporan disusun, dan kolom abu berwarna putih hingga kelabu bergerak ke arah barat daya.
Rangkaian erupsi ini terjadi di tengah status Siaga (Level III) yang telah ditetapkan untuk Gunung Semeru. Rekomendasi resmi dari pusat vulkanologi melarang warga melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Larangan juga berlaku untuk aktivitas di tepi sungai (sempadan) Besuk Kobokan sejauh 500 meter, karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat mencapai 17 kilometer dari puncak. Selain itu, radius 5 kilometer dari kawah harus bebas dari aktivitas manusia untuk menghindari risiko lontaran batu pijar.
Ancaman lahar menjadi perhatian utama, terutama bagi daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru. Liswanto menggarisbawahi bahwa warga perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak-anak sungainya. Ia menekankan bahwa aliran lahar dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama saat hujan turun di area puncak, membawa material vulkanik yang berbahaya bagi permukiman di hilir.
Bagi warga yang tinggal di sekitar lereng Semeru, terutama di Kabupaten Lumajang dan Malang, situasi ini mengingatkan pada erupsi besar tahun 2021 yang memicu lahar dingin merusak pemukiman. Meski aktivitas saat ini belum mencapai level tersebut, intensitas letusan yang meningkat dalam beberapa jam terakhir menjadi sinyal bahwa gunung ini sedang dalam fase tidak stabil. Para ahli vulkanologi menilai bahwa pola erupsi seperti ini dapat berlanjut, sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko.
Pihak berwenang setempat telah mengaktifkan pos-pos pengamatan dan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memantau perkembangan. Warga diimbau untuk tidak mendekati area yang dilarang dan selalu memakai masker jika terjadi hujan abu, karena partikel abu vulkanik dapat mengganggu pernapasan. Selain itu, mereka yang tinggal di sepanjang aliran sungai diimbau untuk menyiapkan rencana evakuasi mandiri jika terjadi peningkatan status.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah aktivitas Semeru akan mereda atau justru meningkat. Dengan catatan erupsi yang terjadi tiga kali dalam kurun waktu kurang dari satu jam, para pengamat gunung api akan terus memantau pergerakan magma dan deformasi tubuh gunung. Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, mengikuti arahan resmi dari PVMBG dan BPBD, serta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat diverifikasi. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama, dan langkah antisipasi dini adalah investasi terbaik untuk menghadapi ketidakpastian alam.



