US Open 2025: Hadiah Juara Rp85 Miliar, Total Prize Money Pecah Rekor US$108 Juta
Baca dalam 60 detik
- Total hadiah US Open 2025 mencapai US$108 juta, naik 20% dari tahun lalu, menjadikannya yang terbesar dalam sejarah tenis.
- Juara tunggal putra dan putri masing-masing membawa pulang US$5,5 juta, rekor baru untuk turnamen Grand Slam.
- Hadiah untuk babak pertama juga naik 27% menjadi US$140.000, seiring pembentukan Dewan Pemain Grand Slam.

New York, 20 Agustus 2025 โ Petenis profesional yang berlaga di US Open tahun ini akan memperebutkan total hadiah sebesar US$108 juta, angka tertinggi sepanjang sejarah turnamen tenis. Kenaikan 20 persen dari edisi sebelumnya ini menegaskan posisi turnamen Grand Slam terakhir musim itu sebagai ajang dengan bayaran termahal di dunia tenis.
Juara tunggal putra dan putri di Flushing Meadows, yang berlangsung 23 Agustus hingga 13 September, masing-masing akan mengantongi US$5,5 juta. Nilai itu naik 10 persen dibanding tahun lalu dan menjadi hadiah terbesar bagi juara tunggal di turnamen Grand Slam mana pun. Dengan kurs saat ini, nominal tersebut setara lebih dari Rp85 miliar per juara.
Tak hanya juara, pemain yang tersisih di babak pertama juga mendapat kenaikan signifikan. US Open menaikkan hadiah babak pertama sebesar 27 persen menjadi US$140.000, sebuah rekor baru untuk putaran pembuka di ajang Grand Slam. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperbaiki kesejahteraan pemain peringkat bawah yang kerap kesulitan menutup biaya perjalanan dan pelatihan.
Pengumuman ini datang hanya beberapa hari setelah empat turnamen Grand Slam โ Australia Terbuka, Prancis Terbuka, Wimbledon, dan US Open โ membentuk Dewan Pemain Grand Slam. Badan ini dirancang untuk memberi suara lebih besar kepada atlet dalam berbagai isu, termasuk distribusi hadiah uang dan jadwal kompetisi. Inisiatif tersebut merupakan respons atas kritik panjang bahwa pendapatan turnamen besar tidak dibagi secara adil kepada pemain non-unggulan.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kabar ini menjadi penanda bahwa tenis profesional semakin menggiurkan secara finansial. Meski belum ada petenis Indonesia yang menembus babak utama tunggal Grand Slam dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan hadiah di babak awal bisa menjadi motivasi bagi petenis muda Tanah Air yang berjuang di turnamen challenger dan ITF. Namun, tantangan terbesar tetap pada pembinaan usia dini dan dukungan sponsor, yang masih jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga seperti Thailand atau India.
Menurut analis olahraga, lonjakan hadiah ini juga merupakan strategi untuk mempertahankan daya tarik turnamen di tengah persaingan dengan ajang baru seperti liga tenis tim dan turnamen eksibisi bergaji tinggi. Dengan meningkatnya biaya operasional pemain top, Grand Slam harus terus berinovasi agar tetap menjadi tujuan utama para bintang.
Pertanyaannya, apakah kenaikan hadiah ini akan diikuti oleh turnamen lain? Jika ya, maka persaingan untuk menarik pemain kelas dunia akan semakin ketat, dan Indonesia sebagai pasar olahraga yang berkembang bisa menjadi salah satu kancah yang dilirik untuk menjadi tuan rumah turnamen internasional. Namun, tanpa infrastruktur dan manajemen yang solid, peluang itu bisa berlalu begitu saja.



