Studi Ungkap 38% Pekerja Simpan Prompt AI untuk Jaga Keunggulan di Kantor
Baca dalam 60 detik
- Survei Use.AI terhadap 13.276 responden menemukan 38% pengguna AI rutin merahasiakan prompt produktif demi mempertahankan posisi tawar di tempat kerja.
- Ketidaktransparanan ini dipicu kekhawatiran 41% pekerja bahwa atasan akan menuntut standar produktivitas lebih tinggi jika mengetahui efisiensi yang mereka raih.
- Pola ini berpotensi mengubah cara perusahaan menilai kinerja dan mendorong lahirnya sistem penghargaan yang menghargai perilaku berbagi pengetahuan.

Sebuah survei terbaru mengungkap fenomena tak terduga di dunia kerja: hampir dua dari lima pekerja yang rutin memakai kecerdasan buatan (AI) memilih menyimpan prompt produktif mereka rapat-rapat. Temuan ini menandakan bahwa adopsi AI di kantor tidak sekadar soal efisiensi, melainkan telah memicu persaingan tersembunyi antar-kolega.
Riset yang dilakukan Use.AI terhadap 13.276 pekerja di Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Uni Eropa, dan Amerika Latin itu menemukan bahwa 38% pengguna AI secara sengaja merahasiakan cara mereka memanfaatkan teknologi tersebut. Alasan utamanya bukan sekadar teknis, melainkan strategi karier: mereka khawatir keunggulan kompetitif mereka akan menguap jika rekan kerja menguasai trik yang sama.
Angka tersebut diperkuat oleh data lain. Sebanyak 44% responden mengaku enggan berbagi karena tidak ingin rekannya menikmati lonjakan produktivitas yang setara. Sementara 31% beralasan bahwa mereka telah menginvestasikan waktu dan tenaga untuk menyusun prompt tersebut, sehingga enggan membagikannya secara cuma-cuma. Sikap ini menciptakan apa yang disebut sebagai "gatekeeper" di lingkungan kerja—individu yang menyimpan pengetahuan kunci demi mempertahankan posisi tawar.
Kekhawatiran yang terungkap tidak hanya sebatas persaingan antarkolega. Sebanyak 41% pekerja merasa cemas jika atasan mengetahui seberapa banyak waktu yang bisa dihemat berkat AI, mereka akan dibebani target produktivitas yang lebih tinggi di masa depan. Ketakutan ini menunjukkan bahwa teknologi yang seharusnya meringankan beban kerja justru melahirkan tekanan psikologis baru.
Ihor Herasymov, salah satu pendiri sekaligus CEO Use.AI, menilai temuan ini sebagai sinyal adanya ketegangan di tempat kerja. Menurutnya, ketika sebuah metode AI yang bermanfaat menjadi bagian dari keunggulan pribadi seseorang, berbagi pengetahuan bukan lagi tindakan netral. Ia menyarankan perusahaan untuk lebih cermat merancang sistem penghargaan bagi karyawan yang bersedia mengubah pengetahuan pribadi menjadi kapabilitas bersama.
"Karyawan akan cepat menyadari ketika keterbukaan menguntungkan organisasi tetapi justru melemahkan posisi mereka sendiri," ujar Herasymov, seperti dikutip dari siaran pers Use.AI.
Fenomena ini menyoroti paradoks adopsi AI di tempat kerja. Di satu sisi, perusahaan mendorong efisiensi melalui teknologi; di sisi lain, insentif yang ada justru memicu perilaku menyimpan informasi. Jika dibiarkan, budaya merahasiakan prompt dapat menghambat kolaborasi dan memperlambat transfer pengetahuan antar-divisi.
Bagi perusahaan di Indonesia, sinyal ini patut menjadi perhatian. Banyak organisasi di Tanah Air tengah gencar mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja, terutama di sektor jasa keuangan, e-commerce, dan startup teknologi. Tanpa kerangka evaluasi yang tepat, karyawan berpotensi mengembangkan pola serupa: memanfaatkan AI secara diam-diam untuk menonjol, alih-alih membagikan praktik terbaik kepada tim. Akibatnya, investasi perusahaan pada alat AI bisa tidak menghasilkan dampak kolektif yang maksimal.
Ke depan, perusahaan yang mendeteksi adanya budaya merahasiakan prompt AI mungkin perlu meninjau ulang metrik penilaian kinerja. Alih-alih hanya mengukur output individual, organisasi dapat mempertimbangkan indikator berbagi pengetahuan dan kolaborasi sebagai bagian dari evaluasi. Pertanyaannya, apakah perusahaan siap mengubah cara mereka menghargai karyawan yang selama ini diuntungkan oleh keunggulan informasi?



