Liga Inggris Perketat Aturan Pelanggaran di Kotak Penalti: Wasit Diminta Lebih Tegas
Baca dalam 60 detik
- Premier League menginstruksikan wasit untuk lebih proaktif menghukum aksi tarik-menarik yang menghambat pergerakan pemain, menyusul banyaknya protes musim lalu.
- Data menunjukkan 25,7% gol musim lalu berasal dari situasi bola mati, rekor tertinggi di Eropa, dan kebijakan baru ini berpotensi mengubah strategi tim.
- Kebijakan ini akan diuji konsistensinya sepanjang musim; jika berhasil, bisa menjadi contoh bagi liga lain termasuk Indonesia.

Liga Premier Inggris memulai musim baru dengan tekad memberantas kekacauan di kotak penalti. Wasit mendapat instruksi tegas untuk menghukum aksi tarik-menarik, dorongan, dan pelanggaran non-teknis lainnya yang selama ini dianggap sebagai epidemi. Keputusan ini diambil setelah musim lalu dipenuhi kontroversi, termasuk gol West Ham yang dianulir kontra Arsenal karena banyaknya pelanggaran dalam satu momen.
Manajer Everton, David Moyes, sebelumnya mengkritik sikap wasit yang enggan turun tangan. "Anda mendapat kesan bahwa wasit benar-benar tidak mau terlibat dalam semua ini," ujarnya setelah laga kontra Manchester United pada Februari. Kritik semacam ini menjadi pemicu utama perubahan kebijakan, yang juga melibatkan konsultasi dengan kapten, pelatih, dan pemangku kepentingan lainnya selama musim panas.
Howard Webb, kepala wasit Premier League, menegaskan bahwa pendekatan baru ini bukan sekadar wacana. "Kami mencoba membuat ofisial sepercaya mungkin untuk menghukum apa yang mereka lihat. Lebih sedikit peringatan, lebih banyak tindakan yang dihukum," kata Webb. Ia menambahkan bahwa jika ada penurunan pelanggaran, itu harus berasal dari perubahan perilaku pemain, bukan karena wasit mengendurkan penerapan aturan.
Fokus utama adalah pada 'aksi menahan yang berdampak material'—seperti pemain yang hanya fokus pada lawan, tidak berusaha memainkan bola, atau melakukan pegangan berkelanjutan. Contohnya, bek yang membelakangi arah datangnya bola dan hanya berniat menghalangi pergerakan penyerang akan dihukum. Klub-klub telah diperlihatkan video insiden yang musim lalu tidak dianggap pelanggaran, seperti aksi Keane Lewis-Potter yang bergulat dengan Tomas Soucek, dan Luke O'Nien yang menarik leher Pascal Struijk. Musim ini, keduanya masuk kategori pelanggaran.
Namun, kebijakan ini tetap mempertahankan ambang batas tinggi untuk kontak fisik. "Kontak masih bagian dari permainan," tegas Webb. Penjaga gawang yang pergerakan lengannya dibatasi, seperti kasus David Raya, akan tetap dihukum. Ini menunjukkan upaya mencari keseimbangan antara ketegasan dan kelancaran permainan.
Data menunjukkan bahwa set-piece telah menjadi senjata ampuh. Arsenal, Manchester United, dan Tottenham masing-masing mencetak 25, 21, dan 19 gol dari situasi ini. Sebaliknya, Liverpool kebobolan 19 kali dari set-piece, tertinggi di liga, diikuti Chelsea dan Newcastle dengan 17. Kebijakan baru ini bisa menguntungkan tim-tim yang lemah dalam bertahan bola mati, tetapi juga berisiko mengurangi efektivitas serangan terstruktur.
Perbandingan dengan Piala Dunia menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih ketat dapat mengurangi jumlah gol dari set-piece. Di turnamen tersebut, hanya 17,5% gol berasal dari situasi bola mati, lebih rendah dari Premier League. Webb mengakui bahwa jika wasit lebih tegas, pemain akan menyesuaikan taktik mereka. "Jika kami mulai menghukum pelanggaran, pemain harus menyesuaikan taktik mereka," ujarnya.
Bagi Indonesia, kebijakan ini relevan mengingat Liga 1 juga kerap diwarnai aksi tarik-menarik di kotak penalti. Jika berhasil, Premier League bisa menjadi model bagi liga-liga lain untuk membersihkan area penalti dari kekacauan. Namun, tantangan terbesar adalah konsistensi. Wasit sering dituding hanya tegas di awal musim, lalu kembali longgar. Musim ini akan menjadi ujian apakah kebijakan ini bertahan atau hanya kebijakan sesaat.
Pertanyaannya, akankah wasit di seluruh Inggris—dan mungkin suatu hari nanti di Indonesia—mampu menjaga ketegasan ini sepanjang musim? Atau akankah kekuatan kebiasaan kembali mendominasi? Musim 2026-27 akan menjadi saksi.



