Niall Horan Ajak Fans Pilih Lagu untuk Tur Dinner Party, Ada Dampaknya bagi Penggemar di Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Niall Horan membuka voting daring bagi penggemar untuk menentukan 20 lagu dalam tur Dinner Party yang dimulai 22 September.
- Keputusan ini muncul karena ia kesulitan merangkum empat album solonya yang semuanya masuk 10 besar Billboard 200.
- Langkah ini memperkuat tren interaksi langsung artis dengan penggemar, yang juga relevan bagi industri musik Indonesia.

Mantan personel One Direction, Niall Horan, kembali menunjukkan kedekatannya dengan penggemar dengan cara yang tidak biasa: meminta mereka memilih langsung daftar lagu untuk tur mendatang. Melalui unggahan Instagram, pelantun “Slow Hands” itu mengajak para penggemarnya—yang akrab disapa “lovers”—untuk memberikan suara pada 20 lagu yang ingin mereka dengar dalam konser Dinner Party: Live On Tour, yang dijadwalkan bergulir mulai 22 September.
Permintaan ini bukan sekadar gimmick. Horan mengaku kesulitan menyusun setlist karena ia kini memiliki empat album solo yang semuanya sukses menembus jajaran 10 besar Billboard 200. Dalam unggahannya, ia menulis, “Lovers! Aku hampir selesai dengan setlist tur, tapi sekarang jauh lebih sulit karena sudah ada 4 album, jadi aku butuh bantuan kalian.” Tautan yang disertakan mengarah ke halaman voting khusus, tempat penggemar dapat memilih lagu favorit mereka dari katalog musiknya.
Fenomena ini menarik untuk disimak, terutama di tengah industri musik yang semakin mengedepankan pengalaman personal. Dengan melibatkan penggemar dalam proses kreatif, Horan tidak hanya membangun antisipasi, tetapi juga menciptakan rasa kepemilikan atas pertunjukan. Langkah ini sejalan dengan tren global di mana artis besar seperti Taylor Swift dan Beyoncé juga kerap memberikan kejutan interaktif dalam tur mereka.
Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini tentu menimbulkan pertanyaan: akankah tur ini menjangkau Asia, termasuk Jakarta? Meski belum ada pengumuman resmi, antusiasme penggemar One Direction di Indonesia yang sangat besar—terbukti dari konser solo Harry Styles yang sukses—menjadi sinyal bahwa pasar Indonesia tetap menarik bagi musisi internasional. Jika tur ini benar-benar mampir, mekanisme voting ini bisa menjadi peluang bagi penggemar lokal untuk ikut menentukan lagu yang akan dibawakan.
Dalam wawancara dengan NME, Horan menjelaskan bahwa album Dinner Party sengaja dibuat dengan nuansa yang lebih organik. “Saya pikir musik pop sudah lama terlalu terkompresi—dengan suara drum machine. Tapi sejak Covid, semua orang condong ke arah suara yang lebih live, dan saya sudah menunggu ini, karena semua pengaruh saya terdengar sangat live dalam rekaman mereka,” ujarnya. Ia mencontohkan rekaman Damien Rice yang terdengar seperti direkam di ruang tamu, dan ia ingin menangkap esensi tersebut dalam proses rekaman kali ini.
Pergeseran ke arah musik yang lebih “hidup” ini juga relevan dengan perkembangan industri musik Indonesia. Banyak musisi Tanah Air yang mulai beralih dari produksi digital murni ke aransemen yang lebih natural, seiring dengan meningkatnya apresiasi penonton terhadap pertunjukan live. Fenomena ini terlihat dari maraknya konser akustik dan festival musik yang mengedepankan kualitas vokal dan instrumen.
Dengan melibatkan penggemar secara langsung, Horan tidak hanya memperkuat basis penggemarnya, tetapi juga menciptakan model interaksi yang bisa ditiru oleh musisi lain. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan menjadi tren baru di industri musik global, atau sekadar strategi sesaat? Yang jelas, bagi para “lovers” di Indonesia, ini adalah momen untuk bersuara—setidaknya secara virtual—dalam menentukan pengalaman konser yang mereka impikan.



