Sifan Hassan Kembali ke New York dengan Modal Pelajaran Pahit: Siap Balas Dendam di Marathon
Baca dalam 60 detik
- Juara Olimpiade Paris 2024, Sifan Hassan, akan kembali tampil di New York City Marathon pada 1 November mendatang, membawa pelajaran berharga dari debutnya yang menyakitkan tahun lalu.
- Hassan finis keenam pada edisi 2024, sementara Hellen Obiri mempertahankan gelar; kini keduanya bersiap untuk duel sengit di jalanan New York.
- Setelah cedera Achilles dan jeda kompetisi, Hassan menargetkan performa lebih baik, dengan fokus jangka panjang menuju Olimpiade Los Angeles 2028.

Setahun setelah debut yang menyakitkan, Sifan Hassan siap menaklukkan kembali rute TCS New York City Marathon yang ia akui sangat berat. Pelari Belanda kelahiran Ethiopia ini akan turun pada 1 November mendatang, berhadapan langsung dengan juara bertahan Hellen Obiri, dalam balapan yang menjanjikan persaingan ketat di antara para pelari elite dunia.
Hassan, yang mencetak sejarah di Olimpiade Paris 2024 sebagai wanita pertama yang meraih medali di nomor maraton (emas), 5.000 meter (perunggu), dan 10.000 meter (perunggu) dalam satu edisi, mengaku pengalaman tahun lalu menjadi guru terbaiknya. "Rutenya sangat sulit," ujarnya dalam konferensi video, Selasa (19/8). "Yang positif, penontonnya sangat ramai. Jadi tahun ini saya tidak perlu banyak kafein saat berlari."
Debut Hassan di New York pada 2024 berakhir dengan finis keenam dalam waktu 2 jam 24 menit 43 detik, jauh tertinggal dari Obiri yang mencatatkan waktu 2:19:51. Kekalahan itu menjadi tamparan telak bagi pelari yang terbiasa mendominasi. Namun, ia menilai justru di situlah letak pembelajarannya. "New York tahun lalu benar-benar menguji saya. Saya memaksakan diri dan sangat menderita," kata Hassan, mengakui bahwa rute yang menantang itu telah memberinya pemahaman detail tentang titik-titik krusial lintasan.
Kini, dengan bekal pengalaman tersebut, Hassan merasa lebih siap. "Setiap kali saya memikirkan New York, saya tahu di mana letak kesulitannya. Saya sudah mengenal seluruh rute New York Marathon, jadi saya rasa tahun ini akan lebih mudah," tuturnya. Namun, ia juga sadar bahwa lawannya tidak tinggal diam. Obiri, yang tahun ini memangkas catatan pribadinya menjadi 2:15.53 saat menjadi runner-up di London, datang dengan status juara bertahan dan menyebut New York sebagai "rumah kedua". "Tentu saja saya datang untuk mempertahankan gelar dan berlari dengan baik," ujar pelari Kenya tersebut.
Perjalanan Hassan menuju New York tahun ini tidak mulus. Setelah memenangkan Sydney Marathon pada Agustus 2024, ia harus berjuang melawan cedera Achilles yang memaksanya mundur dari London Marathon 2025. "Marathon itu mengajarkan kerendahan hati. Baik New York maupun Sydney benar-benar merendahkan saya," akunya. Ia mengaku butuh waktu berbulan-bulan untuk pulih dan membangun kembali kebugarannya secara perlahan. "Saya benar-benar mencoba pulih, kembali, dan saya benar-benar berjuang. Lalu saya istirahat, tidak memaksakan diri. Dan bukan hanya saya, banyak atlet yang terus-menerus kompetisi," jelasnya.
Menariknya, Hassan justru menjadikan tahun ini sebagai fase pemulihan. Bersama pelatihnya, ia memilih tidak memaksakan diri karena target utamanya adalah Olimpiade Los Angeles 2028. "Tahun ini kami jadikan tahun pemulihan karena tahun 2028 adalah tahun terberat bagi setiap atlet," ujarnya. Strategi ini menunjukkan kematangan seorang juara yang tidak hanya berpikir jangka pendek, tetapi juga menjaga performa puncak di ajang bergengsi.
Sementara itu, di kategori putra, perhatian tertuju pada kembalinya Benson Kipruto, pemenang tahun lalu dengan finis dramatis. Pada 2024, Kipruto mengalahkan Alexander Mutiso dalam sprint 50 meter terakhir, menciptakan finis terketat dalam sejarah New York Marathon. "Saya datang dengan persiapan matang untuk sprint akhir. Itu yang sedang saya latih. Itu salah satu finis bersejarah dalam maraton," kata Kipruto. Ia akan bersaing dengan pemegang rekor Amerika Conner Mantz, Zouhair Talbi, dan Patrick Dever dari Inggris.
Di kubu putri, selain Hassan dan Obiri, nama Jess McClain juga patut diperhitungkan setelah menjadi wanita Amerika terbaik di Boston Marathon tahun ini. Sementara itu, Tatyana McFadden, peraih 22 medali Paralimpiade dan lima kali juara New York, akan memimpin kategori kursi roda.
Bagi penggemar lari di Indonesia, ajang ini layak dinantikan sebagai tontonan kelas dunia. Meski tidak ada pelari Indonesia yang bertanding, persaingan antara Hassan dan Obiri memberikan gambaran tentang standar tertinggi olahraga ketahanan. Lebih dari itu, kisah Hassan mengajarkan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan fondasi untuk bangkit. Akankah ia mampu membalaskan kekalahannya tahun lalu? Atau justru Obiri yang kembali menunjukkan dominasinya di jalanan New York? Jawabannya akan terjawab pada 1 November mendatang.



