Kasus Erin Patterson: Kesalahan Hotel Juri dan Jaksa Memicu Gugatan Pembatalan Vonis
Baca dalam 60 detik
- Pengacara Erin Patterson meminta pembatalan vonis karena juri menginap di hotel yang sama dengan tim jaksa dan saksi kunci, yang dinilai merusak integritas persidangan.
- Jaksa penuntut Victoria mengajukan banding balik atas hukuman 33 tahun masa peninjauan kembali, menyebutnya tidak sepadan dengan kejahatan pembunuhan berencana.
- Putusan banding diperkirakan baru keluar dalam beberapa minggu, sementara Patterson tetap menjalani hukuman seumur hidup di penjara.

Pengacara Erin Patterson, perempuan Australia yang dihukum seumur hidup atas kasus pembunuhan tiga kerabatnya dengan jamur beracun, mengajukan banding dengan dalih terjadi kekacauan prosedural yang 'bencana'โpara juri menginap di hotel yang sama dengan tim jaksa dan saksi kunci selama proses persidangan. Situasi ini dinilai telah menggerus asas praduga tak bersalah dan integritas vonis yang dijatuhkan.
Patterson, 51 tahun, dinyatakan bersalah atas kematian mantan mertuanya, Don dan Gail Patterson (keduanya 70 tahun), serta saudari Gail, Heather Wilkinson (66 tahun), setelah menyajikan hidangan beef Wellington yang mengandung jamur death cap di kediamannya di Victoria pada 2023. Suaminya yang sudah berpisah, Simon Patterson, selamat karena membatalkan kehadirannya di menit terakhirโkecurigaan terhadap istrinya telah lama ia pendam.
Dalam sidang banding di Pengadilan Tinggi Melbourne, pengacara Patterson, Richard Edney, menegaskan bahwa insiden hotel tersebut 'merusak integritas vonis dan menuntut pembatalan hukuman'. Ia mendesak diadakannya persidangan ulang agar 'keadilan tidak hanya ditegakkan, tetapi juga terlihat ditegakkan'. Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum Victoria, Brendan Kissane, mengakui kejadian itu disayangkan, tetapi menegaskan tidak ada bukti komunikasi antara juri dan pihak lain. 'Begitu pengadilan menerima fakta itu, tidak ada penyimpangan, apalagi penyimpangan fundamental,' ujarnya.
Selain isu hotel, tim kuasa hukum Patterson juga mempersoalkan bukti telepon seluler yang digunakan jaksa untuk menunjukkan bahwa klien mereka mencari jamur death cap setelah melihat laporan di situs iNaturalist. Pengacara Veronika Drago menuduh jaksa 'mengubah ketiadaan menjadi sesuatu', karena bukti tersebut hanya menunjukkan kemungkinan lokasi Patterson, tanpa ada bukti ia pernah mengakses unggahan itu. 'Spekulasi diundang oleh jaksa penuntut,' kata Drago. Namun, jaksa Jeremy McWilliams membela penggunaan ahli menara seluler, dengan alasan juri dapat menilai apakah Patterson punya kesempatan untuk mendapatkan jamur tersebut.
Banding ini juga menyoroti sejumlah kejanggalan lain, seperti masuknya pesan Facebook yang dikirim Patterson sebelum insiden, yang berisi kecaman terhadap suami dan mertuanya. Tim kuasa hukum menilai pesan itu tidak relevan dan seharusnya tidak disajikan ke juri. Mereka juga mengkritik cara jaksa Nanette Rogers melakukan pemeriksaan silang yang dianggap 'agresif dan tidak pantas', serta mencatat 35 keberatan terhadap pidato penutup jaksa pada persidangan tahun lalu. Menanggapi pertanyaan hakim Peter Kidd tentang mengapa masalah ini tidak diangkat saat itu, Edney menjelaskan bahwa tim pembela saat itu berada di bawah tekanan, sehingga temuan baru muncul setelah 'debu persidangan mereda'.
Di sisi lain, jaksa penuntut dalam dokumen pengadilan menyatakan bahwa 'vonis bersalah tidak dapat dihindari', merujuk pada rangkaian fakta seperti undangan makan malam, penyajian makanan di piring terpisah, dan perbedaan kondisi kesehatan antara Patterson dan para tamu. Mereka akan melanjutkan argumen banding pada Kamis dan juga mengajukan banding atas hukuman yang dianggap terlalu ringan. Patterson sendiri tidak hadir di ruang sidang, melainkan mengikuti jalannya persidangan melalui video dari penjara.
Bagi pengamat hukum di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya menjaga jarak antara juri dan pihak-pihak yang berperkara, terutama di era digital di mana interaksi tak sengaja bisa terjadi. Meski sistem peradilan Indonesia tidak menggunakan juri, prinsip independensi dan imparsialitas hakim tetap relevan. Pertanyaan yang menggantung: apakah kekeliruan prosedural seperti ini cukup untuk membatalkan vonis yang didasarkan pada bukti kuat? Keputusan tiga hakim banding yang diperkirakan baru keluar dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi preseden penting bagi praktik peradilan di Australia, sekaligus pelajaran bagi negara lain dalam menjaga integritas proses hukum.



