Final FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia Hadapi Thailand, Daniel Roekito Ingatkan Kerja Sama Tim Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia akan melakoni partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand di SUGBK Jakarta, Senin (5/10/2026) malam WIB.
- Mantan pelatih Daniel Roekito menilai Thailand lebih matang dalam regenerasi pemain, sementara Indonesia masih mencari bentuk permainan di bawah John Herdman.
- Kemenangan akan ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan keunggulan dan menutup celah, bukan sekadar semangat bertanding.

Timnas Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar semangat juang untuk mengalahkan Thailand pada final FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026) malam WIB. Laga ini menjadi penentuan trofi edisi perdana turnamen yang digarap bersama AFC dan FIFA tersebut.
Mantan pelatih Daniel Roekito memprediksi partai puncak berjalan sengit dan alot. Menurutnya, Thailand di bawah asuhan Anthony Hudson memiliki kematangan di hampir semua lini: skill individu, kerja sama tim, hingga mental juara. Sebaliknya, skuad Indonesia yang dilatih John Herdman dinilai masih dalam proses pencarian bentuk permainan dan pembentukan karakter.
Roekito menyoroti ketimpangan pembinaan antara kedua negara. Ia menilai Thailand telah lama menjadi rival terberat Indonesia di level ASEAN karena mampu menjaga kesinambungan regenerasi, sementara Indonesia kerap naik-turun dalam menyiapkan pemain. "Sejak dulu Thailand rival terberat Indonesia di level ASEAN. Mereka konsisten dalam regenerasi pemain, sedangkan Indonesia angin-anginan membina pemain. Ini membuat Thailand selalu di atas Indonesia," ujarnya.
Meski Indonesia diperkuat sejumlah pemain diaspora yang berkarier di Eropa, Roekito menegaskan bahwa sepak bola tetap soal kolektivitas. Menurutnya, kehadiran pemain dari liga Eropa tidak otomatis menjamin gelar jika tidak diimbangi dengan kerja sama tim yang solid. Ia mengamati performa Timnas Indonesia sepanjang turnamen belum menunjukkan stabilitas, terutama karena Herdman masih melakukan berbagai eksperimen racikan pemain dan skema.
"Sepak bola itu soal kerja sama tim. Meski diperkuat banyak pemain dari Eropa, mereka butuh usaha ekstra untuk jadi juara. Thailand tim solid. Saya amati kiprah Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup belum stabil. Karakternya belum terbentuk, karena John Herdman terus coba-coba racikan," jelas Roekito.
Roekito mengakui semangat juang dan patriotisme pemain seperti Kevin Diks dkk. patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan bahwa mental bertanding harus dikelola dengan baik. Jika lepas kendali, semangat tersebut bisa berbalik menjadi bumerang karena Thailand juga memiliki determinasi dan mental juara yang sama.
Pelatih yang pernah membawa Persik meraih gelar Liga Indonesia 2006 itu menilai kunci sukses Tim Garuda terletak pada taktik Herdman. Sebagai pelatih baru, Herdman dinilai masih mencari pakem terbaik, baik dari segi skema maupun komposisi pemain. Menghadapi Thailand, menurut Roekito, Indonesia tidak bisa terus menerus tampil tanpa pola yang jelas.
Meski sulit menebak pemenang, Roekito memiliki kriteria sendiri: tim yang mampu memanfaatkan kelebihan dan membaca kelemahan lawan akan keluar sebagai juara. Ia juga menyebut faktor blunder bisa menjadi penentu. "Jujur. Sulit menebak siapa yang jadi juara. Kedua tim punya kualitas masing-masing. Saya hanya bisa bilang, siapa yang bisa memanfaatkan kelebihan dan melihat kelemahan lawan akan jadi pemenang. Kita tunggu, siapa bikin blunder di pertandingan nanti," tuturnya.
Partai final ini tidak hanya menentukan trofi, tetapi juga menjadi cermin arah pembinaan sepak bola Indonesia di kancah regional. Jika Indonesia mampu mengatasi Thailand, itu bisa menjadi sinyal kebangkitan. Namun, jika kembali tumbang, pertanyaan besar soal konsistensi regenerasi dan stabilitas taktik akan semakin mengemuka. Mampukah Herdman meramu strategi yang tepat sebelum peluit panjang berbunyi?



