Trump Biarkan Kesepakatan Damai Iran Kadaluarsa, Ancaman Serangan ke Oman Menggantung
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump memutuskan tidak memperpanjang nota kesepahaman dengan Iran yang bertujuan mengakhiri perang dan memulihkan navigasi di Selat Hormuz, sehingga tenggat 60 hari resmi berakhir tanpa kesepakatan baru.
- Trump kembali melontarkan ancaman untuk membom Oman jika negara itu menghalangi operasi AS terhadap Iran, sambil mengklaim Amerika memiliki kendali penuh atas selat strategis tersebut.
- Kritik Trump terhadap Korea Selatan yang menolak membantu operasi militer di Iran berpotensi mengubah dinamika aliansi keamanan AS di Asia Timur, dengan dampak yang bisa menjalar ke stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi membiarkan tenggat waktu 60 hari untuk kesepakatan damai dengan Iran berakhir tanpa perpanjangan, Senin (19/8/2026). Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa meskipun Iran menginginkan kesepakatan, mereka tidak akan mencapai bentuk kesepakatan yang menurutnya diperlukan. Keputusan ini menggantungkan masa depan diplomasi di kawasan Teluk, sekaligus memicu kekhawatiran baru akan konflik bersenjata.
Nota kesepahaman yang ditengahi Pakistan dan ditandatangani Trump dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni lalu bertujuan mengakhiri perang dan memulihkan navigasi komersial melalui Selat Hormuz, jalur energi vital dunia. Namun, negosiasi macet setelah kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan. Dengan berakhirnya tenggat tanpa kesepakatan baru, status quo yang rapuh di kawasan itu kembali menjadi sorotan.
Trump, dalam jumpa pers, kembali menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir adalah syarat mutlak. โKami di sana untuk satu alasan: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir... dan mereka tidak akan memilikinya,โ ujarnya. Ia juga kembali melontarkan gagasan untuk mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS, dengan klaim bahwa Amerika memiliki kendali penuh atas selat tersebut. Klaim ini bertentangan dengan kenyataan di lapangan, di mana Iran dan Oman justru tengah menyusun mekanisme navigasi maritim bersama untuk masa depan selat itu.
Ancaman Trump terhadap Oman pun mencuat. Dalam wawancara dengan jurnalis Fox News, Trey Yingst, Trump mengancam akan membom Oman jika negara itu menghalangi upaya AS terhadap Iran. โSaya tidak berpikir mereka bersikap baik, tetapi kami akan menangani mereka dengan mudah seperti kami menangani yang lain,โ katanya. Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik ke negara tetangga yang selama ini berperan sebagai mediator.
Di sisi lain, Trump juga meluapkan kekecewaannya kepada Korea Selatan. Dalam unggahan media sosial dan pernyataan di Oval Office, ia mengkritik Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang menolak memberikan dukungan operasional untuk aksi militer di Iran. Trump mengaku telah meminta bantuan Lee, namun ditolak. โKami memiliki 39.000 tentara di sana menjaga Anda dari Kim Jong-un, tetangga Anda, dan Anda tidak akan membantu kami dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran? Itu aneh,โ katanya, meskipun data resmi menyebutkan jumlah personel AS di Korea Selatan sekitar 28.500.
Kritik ini muncul di tengah dimulainya latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield antara AS dan Korea Selatan pada Senin. Kementerian Pertahanan Korea Selatan memastikan latihan berjalan sesuai rencana. Namun, pernyataan Trump yang mempertanyakan komitmen sekutu dapat mengguncang aliansi yang telah bertahan puluhan tahun.
โKami tidak bisa berkeliling melindungi semua negara ini, terutama ketika mereka tidak ada untuk membantu kami,โ kata Trump, menyiratkan potensi pengurangan keterlibatan militer AS di kawasan.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Selat tersebut merupakan jalur utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, termasuk impor energi Indonesia. Kenaikan harga minyak akibat konflik dapat membebani anggaran negara dan mendorong inflasi. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah sering kali memicu gejolak pasar keuangan global, yang berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah dan investasi asing. Pemerintah Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipasi, seperti diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan strategis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Trump akan benar-benar mengambil tindakan militer terhadap Iran atau Oman, atau sekadar menggunakan retorika keras sebagai alat negosiasi. Sikap Korea Selatan yang menolak membantu juga dapat memicu pergeseran dalam aliansi keamanan AS di Asia Timur, dengan potensi dampak pada keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik. Dunia kini menunggu langkah konkret Washington, sementara stabilitas kawasan Teluk dan Asia Timur berada di ujung tanduk.



