Video Kuskus Papua Viral, Habitat Satwa Endemik di Merauke Terus Tergerus
Baca dalam 60 detik
- Rekaman kuskus yang berusaha bertahan di atas dahan saat alat berat merobohkan hutan di Merauke memicu simpati publik dan menyoroti laju deforestasi di Papua Selatan.
- Kuskus, marsupial arboreal yang dilindungi, menghadapi ancaman serius akibat hilangnya habitat, perburuan liar, dan pembangunan infrastruktur yang memecah populasi.
- Peristiwa ini menegaskan urgensi penegakan hukum lingkungan dan tata kelola lahan yang berkelanjutan untuk melindungi keanekaragaman hayati Indonesia Timur.

Video seekor kuskus yang memanjat ke dahan tertinggi saat pohon-pohon di sekitarnya dirobohkan alat berat di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menjadi viral di media sosial pada pertengahan 2026. Rekaman yang beredar luas itu memperlihatkan satwa berkantung tersebut berusaha menyelamatkan diri di tengah pembukaan lahan skala besar, memantik keprihatinan publik dan kembali menyorot nasib satwa endemik Papua di tengah laju deforestasi.
Video pertama yang muncul pada Mei 2026 menunjukkan kuskus terus memanjat mencari perlindungan di dahan tertinggi, sementara ekskavator terus merobohkan pohon-pohon di sekelilingnya. Beberapa bulan kemudian, pada awal Agustus, rekaman lain memperlihatkan kuskus berwarna emas dengan totol-totol putih bertahan di sisa-sisa dahan yang roboh, dengan aktivitas alat berat yang masih berlanjut di belakangnya. Meski identitas pasti individu dalam video belum dikonfirmasi lembaga konservasi, pola sebaran menunjukkan kawasan itu dihuni oleh kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau kuskus timur (Phalanger orientalis), dua spesies dengan wilayah jelajah terluas di Papua.
Kuskus sering disangka primata karena gerakannya yang lambat dan matanya yang besar, namun sejatinya ia adalah marsupial arboreal sejati. Satwa ini menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kanopi pohon, aktif di malam hari, dan memiliki ekor yang berfungsi seperti tangan kelima untuk mencengkeram dahan. Adaptasi tersebut menjadikannya penghuni hutan yang ulung, tetapi juga sangat rentan ketika habitatnya digunduli. Di Indonesia, kuskus tersebar di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Timor, dengan empat genus yang diakui: Phalanger, Spilocuscus, Ailurops, dan Strigocuscus.
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Wartika Rosa Farida, menjelaskan bahwa di Papua terdapat dua genus kuskus, yaitu Spilocuscus dan Phalanger, dengan spesies endemik seperti Spilocuscus papuensis dan Spilocuscus rufoniger. โKuskus merupakan hewan yang memiliki pola warna bulu berbeda berdasarkan genusnya,โ ujarnya dalam rilis 2023. Status konservasi kuskus pun memprihatinkan: IUCN mencatatnya sebagai Vulnerable atau rentan, dan seluruh spesiesnya masuk dalam CITES Appendix II, yang berarti perdagangan internasionalnya diatur ketat. Di Indonesia, lebih dari 18 jenis kuskus berstatus dilindungi, sehingga perburuan dan perdagangannya ilegal.
Kawasan Merauke, tempat video direkam, merupakan bagian dari lanskap basah terkaya di Papua, berupa mozaik hutan savana dan kantong-kantong pohon berbuah. Riset Joseph, Latupapua, dan Sahusilawane (2024) di Jurnal Sylva Scienteae menemukan bahwa kuskus justru lebih banyak dijumpai di hutan sekunder yang dekat dengan kebun masyarakat, karena menyediakan sumber pakan melimpah. Namun, pembukaan lahan untuk perkebunan dan infrastruktur justru menghancurkan kantong-kantong pakan tersebut, memaksa kuskus kehilangan rumah dan sumber makanan.
Peran ekologis kuskus tidak bisa diremehkan. Sebagai penebar benih, mereka membantu regenerasi hutan dan menjaga keanekaragaman genetik. Mereka juga menjadi mangsa alami bagi ular sanca dan burung pemangsa, sehingga keberadaannya menjaga keseimbangan rantai makanan. Hilangnya kuskus dari ekosistem dapat memicu efek berantai yang merugikan kesehatan hutan secara keseluruhan.
Ancaman terbesar kuskus saat ini adalah deforestasi dan pembangunan infrastruktur yang tidak hanya menghancurkan habitat, tetapi juga mengisolasi populasi. Fragmentasi hutan membuat populasi kuskus terpecah-pecah, mengurangi keragaman genetik, dan meningkatkan risiko kepunahan lokal. Di Merauke, pembukaan lahan skala besar yang terekam dalam video viral itu menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan ekonomi kerap berbenturan dengan kelestarian satwa liar.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kekayaan keanekaragaman hayati di Papua dan Indonesia Timur memiliki nilai strategis, baik secara ekologis maupun potensi ekowisata. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menyeimbangkan agenda pembangunan dengan upaya konservasi, termasuk penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan ilegal, serta penerapan tata ruang yang memperhatikan koridor satwa. Pertanyaannya, akankah video viral ini menjadi momentum untuk perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada alam, atau hanya menjadi tontonan sesaat yang dilupakan?



