Gempa NTT: 54 Tewas, Ribuan Mengungsi, dan Bayang-bayang di Hari Kemerdekaan
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 5,6 SR di Nusa Tenggara Timur menewaskan 54 orang dan memicu hampir 1.600 gempa susulan, memaksa ribuan warga mengungsi.
- Akses bantuan terhambat oleh longsor dan jalan rusak, sementara warga di Ende mengeluhkan minimnya air bersih dan belum adanya bantuan yang menjangkau mereka.
- Pemerintah berjanji membangun rumah sakit lapangan dan mengerahkan pesawat untuk bantuan, namun fokus utama tetap pada pencarian korban dan penanganan trauma psikologis warga.

Gempa bumi berkekuatan 5,6 skala Richter yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu pagi telah menewaskan sedikitnya 54 orang dan memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka. Bencana ini terjadi tepat di tengah perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81, mencoreng semangat nasionalisme dengan duka mendalam bagi masyarakat di wilayah paling selatan negeri ini.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga Senin, jumlah korban jiwa mencapai 54 orang. Lebih dari 500 rumah rusak akibat guncangan, dan hampir 1.600 gempa susulan telah terekam di provinsi tersebut, menurut kepala badan geofisika setempat. Ribuan warga kini mengungsi di tenda-tenda darurat, enggan kembali ke rumah karena takut akan gempa susulan yang masih terus terjadi.
Gempa ini menjadi yang paling mematikan sejak bencana serupa di Cianjur, Jawa Barat, pada 2022 yang menewaskan ratusan orang. Namun, yang membedakan kali ini adalah lokasinya yang terpencil dan akses yang sulit, membuat upaya evakuasi dan distribusi bantuan menjadi tantangan besar. Longsor dan jalan yang terputus di Kabupaten Sikka dan Manggarai semakin memperlambat proses penyelamatan.
Di tengah hiruk-pikuk upaya penyelamatan, warga di Desa Ranukolo, dekat Ende, mengungkapkan keprihatinan mereka. Emilianus Oro, seorang petani berusia 56 tahun, menuturkan bahwa sekitar 70 warga, mayoritas perempuan, kekurangan air bersih. Akibatnya, anak-anak mulai terserang diare, dan seorang lansia dilaporkan terkena stroke. "Kami belum menerima bantuan apa pun," katanya dengan nada pasrah.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere, Fathur Rahman, menyatakan bahwa tim penyelamat akan fokus pada pemantauan udara menggunakan helikopter untuk mencari warga yang mungkin masih hilang. Sementara itu, BNPB telah menyiapkan pesawat untuk mengirimkan bantuan berupa makanan dan tenda. Deputi Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, mengumumkan rencana pembangunan rumah sakit lapangan di beberapa wilayah yang terdampak, dengan kebutuhan mendesak akan dokter spesialis bedah saraf dan ortopedi untuk menangani trauma kepala dan patah tulang.
Di tengah duka, perayaan kemerdekaan ke-81 Indonesia berlangsung muram. Gervas, seorang warga berusia 42 tahun, mengaku tidak lagi memikirkan perayaan tersebut. "Saya hanya memikirkan keselamatan istri dan anak kembar saya yang berusia empat tahun," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan perasaan banyak warga yang lebih fokus pada kelangsungan hidup daripada perayaan seremonial.
Bencana ini menjadi ujian bagi pemerintah Indonesia dalam hal ketanggapan dan koordinasi penanganan bencana di daerah terpencil. Meskipun bantuan mulai berdatangan, tantangan logistik dan kebutuhan medis yang kompleks masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pertanyaannya, akankah pemerintah mampu mempercepat pemulihan dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal, terutama di tengah ancaman gempa susulan yang masih mengintai?



