Chatbot Pemerintah AS 'America.gov' Keluarkan Puisi Aneh Saat Ditanya Minecraft, Ternyata Bukan Glitch
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Amerika Serikat meluncurkan chatbot AI publik pertama bernama America.gov yang dikembangkan bersama Google dan SpaceXAI.
- Saat ditanya soal Minecraft, chatbot ini mengeluarkan monolog panjang mirip puisi yang mengadaptasi 'End Poem' dari game tersebut, bukan karena error.
- Insiden ini menyoroti tantangan pengawasan AI pemerintah, termasuk potensi bias dan pentingnya transparansi algoritma.

Pemerintah Amerika Serikat resmi meluncurkan chatbot kecerdasan buatan (AI) publik pertamanya, America.gov, pada Selasa (18/3). Dikembangkan bersama Google dan SpaceXAI, alat ini dirancang untuk melayani warga dalam mengakses layanan federal. Namun, sebuah kejadian tak terduga mencuat: ketika ditanya tentang game Minecraft, chatbot ini mengeluarkan respons panjang berupa puisi surealis yang menghebohkan warganet.
Respons tersebut bukanlah kesalahan sistem, melainkan sebuah easter egg yang disengaja. Chatbot America.gov menyalin ulang "End Poem"โpuisi yang muncul setelah pemain menyelesaikan Minecraftโkarya Julian Gough. Puisi itu diubah dengan sentuhan birokrasi, menyebut "Code of Federal Regulations" dan "USA.gov". Meski terkesan kacau, ini menunjukkan bahwa tim pengembang menyematkan referensi budaya populer ke dalam sistem.
Insiden ini menyita perhatian karena America.gov adalah wajah baru interaksi pemerintah dengan publik. Sebelumnya, chatbot ini diklaim sulit dijebol (jailbreak) oleh pengguna iseng. Namun, fakta bahwa ia bisa mengeluarkan puisi alih-alih jawaban faktual memicu pertanyaan tentang batas antara kreativitas dan fungsi resmi. Presiden Donald Trump bahkan menyebut Edward Coristine, programmer 20 tahun yang dikenal dengan julukan "Big Balls" dan terlibat dalam DOGE, sebagai insinyur utama proyek ini.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin penting. Pemerintah Indonesia tengah menggenjot transformasi digital, termasuk pengembangan AI untuk layanan publik. Jika chatbot resmi kita nanti memiliki easter egg serupa, akankah diterima? Di satu sisi, sentuhan humanis bisa mendekatkan warga; di sisi lain, risiko disinformasi dan hilangnya kredibilitas mengintai. Regulasi AI yang sedang disusun harus mengatur konten seperti ini agar tidak menimbulkan kebingungan.
"Ini bukan tanda kerusakan, melainkan bukti bahwa AI dapat diprogram untuk menyisipkan kreativitas. Namun, untuk layanan publik, batas antara hiburan dan fungsi resmi harus jelas," ujar seorang analis kebijakan teknologi yang enggan disebutkan namanya.
Kejadian ini juga menggarisbawahi tantangan pengawasan AI di sektor pemerintahan. Amerika Serikat sendiri masih berjuang menyusun kerangka regulasi AI yang komprehensif. Di Indonesia, UU Perlindungan Data Pribadi dan rencana regulasi AI menjadi fondasi, tetapi implementasi masih jauh dari kata matang. Masyarakat perlu dilibatkan agar tidak terjadi kejutan serupa.
Ke depan, akankah pemerintah Indonesia mengadopsi pendekatan serupa dalam chatbot layanan publik? Atau justru memilih gaya konservatif demi menghindari kontroversi? Yang jelas, transparansi dan pengujian ketat menjadi kunci. Tanpa itu, easter egg yang lucu bisa berubah menjadi mimpi buruk birokrasi.



