Helikopter Kamov Ka-32S Hangus Terbakar di Bandara Subang, Delapan Penerbangan Dialihkan
Baca dalam 60 detik
- Sebuah helikopter Kamov Ka-32S ludes dilalap api saat uji mesin di Bandara Sultan Abdul Aziz Shah, Subang, Malaysia.
- Empat kru asal Ukraina selamat, satu di antaranya mengalami luka ringan akibat serpihan; delapan penerbangan inbound terpaksa dialihkan.
- Insiden ini menyoroti risiko keselamatan dalam perawatan pesawat dan memicu pertanyaan tentang prosedur pengujian mesin di bandara sibuk.

Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di Subang, Malaysia, menjadi saksi insiden dramatis ketika sebuah helikopter Kamov Ka-32S hangus terbakar saat proses uji mesin setelah menjalani perbaikan, Selasa (16/8/2026). Peristiwa itu tidak hanya meluluhlantakkan pesawat, tetapi juga mengganggu operasional penerbangan di bandara yang melayani rute domestik dan regional tersebut.
Menurut Ashrul Riezal Asbar, Asisten Direktur Operasional Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Selangor, api berkobar hebat saat helikopter yang tengah bersiap lepas landas itu terbakar. โKomandan operasi melaporkan bahwa helikopter diduga terbakar saat uji mesin setelah pekerjaan perbaikan selesai,โ ujarnya. Saat kejadian, helikopter mengangkut empat kru berkewarganegaraan Ukraina, termasuk dua pilot. Satu orang mengalami luka ringan akibat terkena serpihan, sementara tiga lainnya selamat tanpa cedera.
Insiden ini langsung memicu respons cepat dari otoritas penerbangan sipil Malaysia (CAAM). Kepala Eksekutif CAAM, Kapten Datuk Norazman Mahmud, mengonfirmasi bahwa delapan penerbangan yang hendak mendarat dialihkan ke bandara lain, sementara tiga penerbangan keberangkatan mengalami penundaan. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan dan kelancaran operasional di tengah penyelidikan yang masih berlangsung.
Helikopter Kamov Ka-32S sendiri dikenal sebagai helikopter angkut berat buatan Rusia yang kerap digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pemadam kebakaran dan operasi penyelamatan. Namun, insiden ini menyoroti risiko yang melekat pada proses perawatan dan pengujian pesawat, terutama di lingkungan bandara yang padat aktivitas.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap perawatan pesawat, terutama di bandara yang melayani lalu lintas penerbangan padat. Meskipun helikopter jenis ini tidak banyak dioperasikan di Indonesia, prosedur keselamatan dalam uji mesin dan perawatan pesawat tetap relevan, mengingat banyaknya operator helikopter untuk keperluan industri, pertambangan, dan layanan darurat di tanah air.
Otoritas Malaysia kini tengah menyelidiki penyebab pasti kebakaran. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah insiden ini murni kegagalan teknis atau ada kelalaian dalam prosedur perawatan. Sementara itu, bandara Subang yang juga menjadi basis bagi penerbangan perintis dan helikopter, dipastikan akan meninjau ulang protokol keselamatan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Ke depan, insiden ini berpotensi mendorong regulator penerbangan di kawasan Asia Tenggara untuk memperketat standar keselamatan, khususnya terkait pengujian mesin di area bandara. Apakah akan ada perubahan regulasi yang lebih ketat? Publik dan pelaku industri akan mencermati hasil investigasi otoritas Malaysia sebagai acuan.



