Eropa Terbakar: Ribuan Dievakuasi saat Kebakaran Hutan Melanda dari Kroasia hingga Inggris
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan di Kroasia menewaskan satu orang dan memaksa 1.200 warga mengungsi, sementara Yunani, Prancis, dan Inggris juga dilanda kebakaran besar.
- Gelombang panas ekstrem yang dipicu perubahan iklim memperparah kondisi, dengan suhu Eropa Barat melonjak 8 derajat di atas normal.
- Para ahli memperingatkan bahwa musim kebakaran tahun ini bisa memecahkan rekor, mengancam sektor pertanian dan pariwisata di seluruh benua.

Kebakaran hutan yang melanda kawasan resor di Kroasia pada Kamis malam (13/8) menewaskan satu orang, melukai 40 lainnya, dan memaksa 1.200 jiwa mengungsi. Peristiwa ini menjadi bagian dari gelombang kebakaran yang melanda sejumlah negara Eropa, seiring peringatan Uni Eropa tentang kondisi "sangat ekstrem" yang tersebar di berbagai wilayah benua itu.
Di Yunani utara, lebih dari 300 orang dievakuasi melalui laut dari kota Siviri setelah api melalap hutan dan asap tebal menutupi langit. Sementara itu, di Prancis barat daya, 525 warga desa Luglon harus meninggalkan rumah mereka. Inggris pun tak luput, dengan kebakaran semak yang melahap sejumlah rumah di kawasan Stourbridge. Para pejabat setempat menggambarkan suasana kacau saat warga dan turis berusaha menyelamatkan diri.
Kebakaran di Kroasia terjadi di dekat Omis, kota wisata di pesisir Dalmatia yang dikelilingi perbukitan dan pepohonan. Ljubica Uglesic, seorang warga lokal, menuturkan bagaimana api menjilat di kedua sisi jalan saat ia melarikan diri dengan mobil. "Saat saya menoleh, api sudah menyambar dari bawah kap mesin. Mobil saya terbakar!" ujarnya. Kepala Komandan Pemadam Kebakaran Slavko Tucakovic mengatakan api yang sempat membuat langit malam memerah mulai mereda Jumat pagi, namun satu jenazah hangus ditemukan di lokasi.
Fenomena ini bukan kebetulan. Para ilmuwan mengaitkan rekor panas dan kekeringan dengan perubahan iklim, yang menciptakan kondisi ideal bagi kebakaran hutan. Phil Garrigan, ketua National Fire Chiefs Council Inggris, menyebut tahun ini berpotensi memecahkan rekor kebakaran hutan untuk kedua kalinya berturut-turut. "Kami mengantisipasi ini bukan hanya tahun pemecah rekor, tetapi peningkatan signifikan dari jumlah kebakaran yang pernah dialami," katanya. Di Spanyol, pesawat pemadam kebakaran telah mencatat lebih dari 8.200 jam terbang tahun ini, melampaui total jam terbang pada 2025 ketika 393.000 hektare lahan hangus.
Dampaknya tidak hanya pada keselamatan jiwa, tetapi juga ekonomi. Layanan pemantau iklim Copernicus Uni Eropa memperingatkan kondisi "sangat ekstrem" di sebagian besar Eropa tengah dan timur, serta wilayah selatan Inggris, Irlandia, Prancis utara, dan Swedia selatan. Suhu rata-rata di Eropa Barat pada Jumat diperkirakan mencapai 31,2 derajat Celsius, 8 derajat di atas normal historis. Kondisi ini juga mengancam pertanian: analis memperkirakan panen jagung Prancis bisa turun setengahnya, dan produksi Uni Eropa secara keseluruhan berpotensi menjadi yang terkecil dalam beberapa dekade.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan, yang kerap melanda pada musim kemarau. Meski skala dan konteksnya berbeda, pola keterkaitan antara perubahan iklim, kebakaran, dan dampak ekonomi juga relevan di dalam negeri. Pengalaman Eropa dalam manajemen evakuasi dan penanggulangan kebakaran bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah berupaya memperkuat sistem pencegahan dan respons dini.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah negara-negara Eropa mampu beradaptasi dengan realitas baru di mana musim kebakaran menjadi semakin panjang dan intens. Investasi dalam teknologi pemantauan, kesiapsiagaan masyarakat, serta kebijakan mitigasi perubahan iklim akan menjadi kunci. Namun, dengan suhu yang terus memecahkan rekor, tekanan untuk bertindak semakin nyata.



